Selasa, 13 September 2011

PANGERAN WANGSAKERTA

 
            Saleh Danasasmita, pada tahun 1986 telah berhasil mengidentifikasi Pangeran Wangsakerta, melalui tulisan ilmiah Pangeran Wangsakerta. Sebagai Sejarawan Abad XVII. Tulisan tersebut berupa makalah, pernah disampaikan dalam Seminar Kebudayaan Sunda Proyek Sundanologi Depdikbud di Bandung, pada tanggal 9‑11 Maret 1986.
          Menurut Saleh Danasasmita, tokoh Pangeran Wangsakerta, nyaris tidak dikenal oleh umum. Bahkan di lingkungan kerabat keraton Cirebon, ia hanya dikenal sebagai Panembahan Cirebon I, tanpa nilai khusus, kecuali sebagai Asisten Sultan Sepuh.
Di gedung Arsip Nasional, tersimpan sebuah dokumen, berupa naskah perjanjian antara Cirebon dengan Kompeni Belanda tanggal 7 Januari 1681. Dokumen tersebut ditulis dalam dua bahasa. Pada bagian kiri berbahasa Melayu Arab, pada bagian kanan berbahasa Belanda dengan huruf latin.
Di bagian bawah naskah sebelah kiri, terdapat 9 nama penandatangan perjanjian dari pihak Cirebon. Pada urutan ketiga, tertulis nama Wangsakerta dalam huruf cacarakan. Dalam naskah tersebut, dicantumkan dengan tegas, bahwa pemegang kekuasaan di Cirebon ada tiga orang, termasuk Pangeran Wangsakerta di antaranya. Berdasarkan dokumen tersebut dapat dipastikan, bahwa tokoh Pangeran Wangsakerta, sebagal salah seorang penguasa Cirebon, dalam pertengahan kedua abad ke‑17, ternyata benar-benar ada.
          Dr. F. de Haan dalam buku Priangan II (1912), membicarakan tokoh Pangeran Wangsakerta dengan sebutan Depati Topati. Dalam sumber Kompeni lainnya, ia lebih dikenal sebagai de derde Prins van Cheribon (Pangeran yang ketiga dari Cirebon).
Catatan Harian Kompeni, Daggh Register geharden int Casteel Batavia: 19 November 1677 memuat laporan Caeff (wakil Kompeni di Banten), yang memberitakan: bahwa de derde Prins baru saja kembali ke Cirebon dari kunjungannya ke keraton Banten. Namun dalam Dagh Register 21 Desember 1677 Caeff melaporkan, bahwa berita tersebut "tidak benar". Karena kesal, De Haan mengumpat Caeff; Di mana orang itu menaruh matanya? (War zijne oogen gehad?).
Mengenai hubungan antara Pangeran Wangsakerta dengan kerabat keraton Banten, De Haan (1912, 260 paragraf 425) mengutip laporan B. van der Meer dan Jan Mulder, bahwa Sultan Anom masih terhitung kerabat keraton Banten. Sedangkan Dipati Topati, sama sekali bukan.
Di lingkungan terbatas kerabat keraton, dikenal adanya sebuah naskah wawacan, dikisahkan bahwa Pangeran Kertawijaya (Sultan Anom) berbeda ibu dengan Pangeran Mertawijaya (Sultan Sepuh) dan Pangeran Wangsakerta. Ibunda Pangeran Kertawijaya berasal dari Banten, sedangkan Ibunda kedua orang saudaranya berasal dari Mataram. Kekisruhan tersebut menunjukkan bahwa riwayat hidup Pangeran Wangsakerta, termasuk kedudukannya di Cirebon, masih sangat kabur.
Untuk menjernihkan kekisruhan tersebut, kita perhatikan keterangan dari Pangeran Wangsakerta sendiri, dalam naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 4 (Halaman 86-88) yang terjemahannya sebagai berikut:

Telah dikisahkan terdahulu bahwa Puteri Ratu Ayu Sakluh berjodoh dengan Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Mataram. Dari perkawinan tersebut, lahir Sunan Tegalwangi yaitu Amangkurat yang pertama. Sunan Tegalwangi berputera Amangkurat kedua yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Penguasa Mataram. Puteri Sunan Tegalwangi berjodoh dengan Pangeran Putra yaitu Panembahan Girilaya putra Pangeran Seda ing Gayam.
Dari puteri Mataram, Panembahan Girilaya berputra tiga, yaitu: Pangeran Mertawijaya alias Pangeran Samsudin yang menjadi Sultan Kasepuhan pertama, adiknya. Pangeran Kertawijaya alias Pangeran Badridin yang menjadi Sultan Kanoman pertama, dan adiknya yang bungsu yaitu Pangeran Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cirebon pertama.
Karena Ratu Ayu Sakluh itu kakak Panembahan Ratu, maka raja Cirebon dengan raja Mataram masih berkerabat. Tapi raja Matararn, Sunan Tegalwangi, senantiasa ingin merebut Cirebon. Sementara itu raja Cirebon juga berkerabat dengan raja Banten padahal Banten dengan Mataram selalu bermusuhan.
 Adapun awal pembentukan Kasepuhan dan Kanoman, pada tahun 1599 Saka (1677 M). Empat tahun kemudian, Cirebon mengadakan perjanjian persahabatan (mitranan) dengan Kompeni Belanda. Yang menandatangani surat perjanjian ink yaitu: Sultan Kasepuhan yang pertama Pangeran Samsudin Mertawijaya, Sultan Kanoman pertama Pangeran Badridin Kertawijaya, kemudian semua pejabat tinggi negeri Cirebon yang disebut jaksa Pepitu, yaitu: Panembahan Ageng Gusti Cirebon yaitu Pangeran Wangsakerta dan para jaksa Pepitu masing-masing: Raksanagara, Purbanagara, Anggadireksa, Anggadiprana, Anggaraksa, Singanagara, dan Nayapati. Sang Panembahan (Pangeran Wangsakerta) adalah ketua dari jaksa Pepitu itu.
          Penandatangan dari pihak Kompeni Belanda adalah: Yakub Bule (Jakob van Dijk) dan Kapitan Misel (Michielsz). Peristiwa itu berlangsung di keraton Kasepuhan.
 Setelah Panembahan Ratu wafat, ia digantikan oleh cucunya yaitu Raden Putra alias Raden Rasmi yang kemudian disebut Pangeran Panembahan Adining Kusuma. la bergelar Panembahan Ratu II putera Pangeran Seda ing Gayam, yang wafat ketika ayahnya yaitu Panembahan Ratu I masih hidup. Panembahan Adining Kusuma menjadi penguasa Cirebon selama 12 tahun. Setelah wafat, Pangeran Raden Putra disebut Pangeran Panembahan Girilaya.
Selama menjadi penguasa Cirebon ia selalu berada di Mataram bersama kedua orang putranya yaitu: Pangeran Samsudin Mertawijaya dan Pangeran Badridin Kertawijaya. Adapun putra Pangeran Panembahan Girilaya yang ketiga tinggal di keraton Cirebon mewakili ayahnya.
Setelah Pangeran Panembahan Girilaya wafat, Pangeran Samsudin Mertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Sepuh kemudian disebut Sultan Kasepuhan pertama, adiknya, Pangeran Badridin Kertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Anom kemudian disebut Sultan Kanoman pertama dan adiknya, Pangeran Wangsakerta ditunjuk menjadi sultan ketiga dengan gelar Panembahan Cirebon.
Pada waktu itu tiga negara ingin menguasai Cirebon yaitu: Banten, Mataram dan Belanda, padahal para sultan menghendaki negaranya merdeka. Sementara itu raja Mataram, Susuhunan Amangkurat pertama sedang bermusuhan dengan Trunojoyo yaitu putra Adipati Madura Pangeran Cakraningrat.
 Tentara Madura yang dipimpin oleh Trunojoyo bergabung dengan tentara Makasar yang dikepalai Kraeng Galesung dan Monte Marano. Dalam pertempuran di berbagai daerah, tentara Mataram selalu menderita kekalahan. Tak lama kemudian tentara Madura dan tentara Makasar berhasil merebut Karta ibukota Mataram. Susuhunan Amangkurat dan putranya, Pangeran Dipati Anom beserta para pengiringnya melarikan diri ke arah barat. Kemudian Sunan Mataram wafat di Tegalwangi. Karena itulah Susuhunan Amangkurat pertama digelari Susuhunan Tegalwangi. Setelah itu putranya, Pangeran Dipati Anom, menggantikan ayahnya menjadi Susuhunan Amangkurat kedua.
Ketika Ibukota Mataram direbut oleh tentara Madura dan Makasar, Panembahan Sepuh Samsudin Mertawijaya dan Panembahan Anom Cirebon berada di sana. Mereka ditawan oleh Trunojoyo lalu dibawa ke Kediri. Juga Ratu Blitar serta beberapa kaulanya tertangkap oleh Trunojoyo dan dibawa ke Kediri. Di sana para pangeran dari Cirebon bersama Ratu Blitar mendapat perlakuan hormat dari Trunojoyo.
Pangeran Wangsakerta Panembahan Cirebon, yaitu aku sendiri, ingin membebaskan kakakku dari bencana tersebut. Karena itu aku beserta rombongan para pejabat tinggi pergi ke Banten. Dengan sungguh-sungguh aku memohon bantuan kepada Sultan Ageng Tirtayasa Banten agar ia berusaha membebaskan kakakku karena Sultan Banten masih kerabatku.
Kemudian anggota rombonganku bersama tentara Banten pergi naik kapal perang Banten menuju Jawa Timur dan selanjutnya ke Kediri. Trunojoyo dikirim surat oleh Sultan Banten yang berisi permintaan agar para pangeran dari Cirebon beserta pengiringnya dibebaskan. Bersamaan dengan itu Sultan Banten memberikan hadiah dan bantuan berupa senjata kepada Trunojoyo karena Sultan Banten bersekutu dengan Trunojoyo dalam permusuhan mereka terhadap Mataram dan Belanda. Penguasa Banten menyampaikan rasa suka citanya karena Trunojoyo berhasil merebut ibukota Mataram.
Pangeran Madura itu bersikap hormat kepada anggota rombongan utusanku dan menjamu dengan bermacam‑macam hidangan yang serba lezat. Akhirnya Panembahan Sepuh, Panembahan Anom beserta pengiringnya demikian juga Ratu Blitar dibebaskan oleh Trunojoyo.
Setelah itu anggota rombonganku membawa kakakku dan Ratu Blitar ke Banten. Di sana Sultan Ageng Banten menerima kedatangan rombonganku bersama Panembahan Sepuh dan Panembahan Anom Cirebon.
          Lalu Sultan Banten mewisuda kami, Pangeran Samsudin Mertawiijaya ditunjuk menjadi Sultan Sepuh yang kemudian disebut Sultan Kasepuhan, Pangeran Badridin Kertawrijaya ditunjuk menjadi Sultan Anom yang kemudian disebut Sultan Kanoman dan Pangeran Wangsakerta ditunjuk menjadi Sultan ketiga dengan sebutan Panembahan Ageng Gusti Cirebon alias Panembahan Tohpati atau Abdul Kamil Mohammad Nasarudin namanya yang lain.
 Setelah itu kami pulang ke Cirebon dan Sultan Banten meminta agar kami memusuhi Mataram dan Belanda.  Sejak saat itulah berdiri Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman dan Panembahan Cirebon.
           Kutipan di atas, merupakan kisah yang dialami sendiri oleh Pangeran Wangsakerta, sehingga dapat menghapus segala kekisruhan, akibat bermacam‑macam dugaan yang ditulis pada masa kemudian.

( Sumber: SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI TATAR SUNDA, Kumpulan Tulisan Pengeran Wangsakerta ; hal: 12-16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar