Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Asal Usul Mahapatih Gajah Mada

Gajah Mada (1299-1364) Mahapatih majapahit yang sangat terkenal dengan sumpah palapanya merupakan satu-satunya orang kuat pada jamannya di nusantara. Salah satu keruntuhan kerajaan Majapahit dikatakan karena tidak memiliki orang kuat yang lain yang cakap untuk menggantikan gajah Mada. Panglima Perang yang ditunjuk menjadi Mahapatih kerajaan Majapahit menggantikan Arya Tadah pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)


Sebagai mahapatih dia berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (1331) dan kemudian berikrar untuk mempersatukan Nusantara dengan sumpahnya yang dikenal sebagai Sumpah Palapa. Serat Pararaton memuat Sumpah Palapa yang diucapkan dihadapan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai berikut:

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”

artinya :

“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”

Sepeninggalan Gajah Mada Namanya terus di kenang  bukan saja di tanah air akan tetapi sampai di kawasan asia tenggara (yang dulu di sebut Nusantara) bahkan nama Gajah Mada di pakai sebagai nama salah satu Universitas Terkemuka di Indonesia dan juga di pakai sebagai Nama Hotel Berbintang 5.

Sayang sekali asal-usul Mahapatih Gajah Mada yang sangat masyur ini belum jelas diketahui Orang,baik meyangkut Nama orang Tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya.
Muhammad yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka,cet ke-6,1960,hal 13 Mengungkapkan tokoh ini sebagai :

“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14. Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakandengan lalim oleh sejarah”

Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa gajah mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna,diperkirakan sekitar tahun 1300 M. Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah,salah satunya bpk I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.

Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikam

Asal Usul Gajah Mada
Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit
Emphu keturunan pada waktu memerintah dibali
Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yanfg menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

Ringkasan Isi Teks Lontar Babad Gajah Maddha
Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.

Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.

Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah),sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih  . Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud,(“masiluman”)) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.

Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.

Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu,dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari,bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.

Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu,mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan,lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.

Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”

Interpretasi (tafsiran) dari Isi
1. Pada halaman 2a Lontar Babad Gajah Maddha (sealanjutnya di singkat dengan B.G.M) dikatakan bahwa oran tua Gajah Mada berasal dari Wilatikta yang disebut juga Majalangu (B.G.M hal.1b) Disebelah selatan “Lemah Surat” terletak “Giri Madri” yang dikatakan berada dekat dengan Wilatikta (B.M.G Hal.6a)pada B.M.G hal.6b dikatakan hampir setiap hari Patni Nariratih pulang pergi dari wilatikta,megantar makanan suaminya di asramanya di gili Madri yang terletak disebelah selatan wilatikta. Hal ini berarti Gili Madri terletak disebelah selatan Lemah Surat dan juga disebelahselatan Wilatikta. Jarak antara Gili Madri dengan Wilatikta dikatakan dekat.Tetapijarak antara Lemah Surat dengan Wilatikta begitu pula arah dimana letak Lemah Surat dari Wilatikta tidak disebutkan dalam B.G.M

2. Pada B.G.M hal. 12a yang menyebutkan tentang kelahiran Gajah Mada, ada kalimat yang berbunyi “On Cri Caka warsa jiwa mrtta yogi swaha” kalimat ini adalah Candrasangkala yang bermaksud kemungkinan sebagi berikut:

On Cri Cakawarsa        = Selamatlah Tahun Saka
Jiwa                = 1 (satu)
mrtta                = 2 (Dua)
Yogi                = 2 (Dua)
Swaha                = 1 (satu)
jadi artinya : Selamat Tahun Saka 1221 atau tahun (1299 Masehi) seandainya itu  benar maka gajah mada dilahirkan pada tahun 1299 Masehi.

3. Mengenai nama Maddha B.G.M hal.10b – 11a disebutkan sebagai berikut:

Karena malu terhadap gurunya yakni : Mpu Ragarunting, begitu juga terhdap orang banyak, maka setelah kandungan Patni Nariratih membesar, lalu disjak ia oleh suaminya meninggalkan asrama pergi mengembara kedalam hutan dan gunung yang sunyi. Akhirnya pada malam hari,waktu bayi hendak lahir,mereka berdua menuju kesebuah desa yang bernama Maddha terletak di dekat kaki gunung semeru. didesa itulah sang Bayi dilahirkan disebuah “Bale-Agung” yang ada di Kahyangan (Temple) desa tersebut. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa desa Maddha,kemudian dibawa ke Wilatikta oleh seorang patihdan kemudian diberi nama Maddha jadi jika demikian halnya nama Maddha berasal dari nama desa.
Nama Gajah oleh B.G.M sama sekali tidak disebutkan.kemungkinan besar nama gajah adalah nama  kemungkinan nama tambahan atau nama julukan atau bisa juga nama Jabatan (Abhiseka) bagi sebutan orang Kuat (?)
dengan demikian Gajah Mada berarti Orang kuat yang berasal dari Maddha.
4. Mengenai nama orang Tua Gajah Mada, ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya bernama Nariratih (B.G.M. hal 2a) Setelah mereka disucikan (Abhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat,nama mereka berubah menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih (B.G.M hal 3b) meraka berdua adalah brahmana (B.G.M hal. 2a)

Adapun didalam B.G.M hal. 9b, yang menyebutkan bahwa Patni Nariratih bersenggama dengan Dewa Brahma yang berganti rupa seperti suaminya sehingga Gajah Mada seolah-olah dilahirkan atas hasil senggama antara Patni Nariratih dengan Dewa Brahma, dapat kita tafsirkan sebagai berikut:
Pengungkapan Mitos demikian itu sudah tentu sukar diterima oleh akal mengingat motif yang demikian itu sudah banyak terdapat p[ada penulisan-penulisan babad, maka perlulah dicari Latar belakang dari hal-hal yang dimythoskan itu Perkiraan yang dapat kami tangkap adalah:

Mpu Curadharmayogi dan istrinya Patni Nariratih adalah melakukan brata “Sewala Brahmacari” yang berarti sejak mereka menjadi pendeta mereka tidak diperbolehkan untuk berhubungan sex atau senggama oleh karena itu mereka berpisah tempat Sang suami ber asrama di Gili Madri sedangkan Sabng istri bertempat tinggal di Wilatikta tetapi kedua suami istri ini masih saling bertemu karena sang istri acapkali membawakan makanan untuk sang suami.
Pada suatu ketika yaitu pada hari Coma, Umanis, Tolu, Cacil ka daca (senin, Legi, Tolu ,bulan april) Patni Nariratih membawakan suaminya santapan. Pada waktu hendak makan,air minum tiba-tiba tumpah.Dengan tidak sadar keluarlah kata-kata dari Patni Nariratih : “ih ah palit dewane plet”yang maksudnya kemaluan suaminya kelihatan (B.G.M ha. 7a). Dalam B.G.M hal.7b dikatakan bahwa kata-kata tersebut didengar oleh Dewa Brahma. disinilah menurut Interpretasi kami bahwa yang mendengar hal tersebut tidak lain adalah suaminya sendiri, sehingga timbuh hasrat birahi ingin bersenggama dengan suaminya,Akhirnya senggama tersebut terjadi antara Patni Nariratih dengan suaminya sendiri. Mengapa demikian, karena menurut interpretasi kami, Brahma adalah sebagai dewa pencipta/penumbuh (konsep trimurti) dan ini sering digunakan sebagai mythologi sebagai sumber kelahiran seseorang yang ke-namaan atau termasyur. Jadi logislah disin untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi maka dipakailah Dewa Brahma sebagai gantinya. Mengapa dikatakan senggama itu terjadi dengan Dewa Brahma, Kiranya ini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi sebagai seorang”Sewala-brahmacari” itulah sebabnya setelah Patni Nariratih hamil mereka segera pergi dari asrama unuk menyembunyikan diri.
Mengenai Lahirnya Sang bayi pada balai agung di sebuah kahyangan di desa maddha. ini kira-kiranya memang diusahakan oleh Mpu Curadharmayogi dan Patni Nariratih menurut penafsiran kami: Balai Agung adalah merupakan sebuah balai yang patut ada di dalam sebuah “Kahyangan Desa”(Pura desa) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan diri dari noda-noda spritual.
Hal yang demikian ini dapat dibandingkan dengan keadaan di Bali sampai sekarang, Bahwa Bale-Agung terletak didalam Pura Desa yaitu salah satu Kahyangan Tiga yang ada pada tiap-tiap desa. Pura Desa ini adalah Sthana Dewa Brahma dalam fungsi sebagi pencipta. Jadi logislah orang tua Gajah Mada mengusahakan Balai Agung sebagai tempat untuk melahirkan bayi dengan maksud :

Proses kelahiran berjalan lancar bayi terhindar dari noda-noda spritual
Supaya bayi tersebut dianggap dilahirkan dari sumber pebcipta
Supaya ada orang yang memungut dan memeliharanya.
Dari berbagai Sumber.
http://superartikel.com/2009/04/18/asal-usul-mahapatih-gajah-mada-serat-babad-gajah-maddha/

Senin, 13 Juni 2011

Asal Usul Negeri Sembilan dan hubungannya dengan Minangkabau


NEGRI SEMBILAN termasuk salah satu negara bagian yg menjadi negara Federasi Malaysia. Luas negara bagian tersebut 2.580 mil persegi, dengan berbagai suku bangsa antara lain, Cina, Benggali, dan Melayu, dari sebahagian suku bangsa Melayu termasuk suku bangsa Minangkabau. Dan tatanan kehidupan Melayu tersebut masih memakai adat istiadat Minangkabau.

Negri Sembilan sebuah kerajaan yang pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disebut : Perlembagaan Negri, dan Badan Legislatifnya bernama Dewan Perhimpunan / Perundingan Negri yang dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum atau dengan istilah PILIHAN RAYA. Pelaksanaan pemerintahan dilaksanaan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh beberapa orang anggota yg bernama "Angota Majelis Musyawarat Kerajaan Negeri. Gelar raja ialah: Duli yang mulia yang dipertuan besar Negeri Sembilan.

Kedatangan bangsa Minangkabau

Sebelum Negri Sembilan bernama demikian di Malaka sudah berdiri sebuah kerajaan yg terkenal, dan pelabuhan Melaka menjadi pintu gerbang untuk masuk kedaerah pedalaman tanah semenanjung tersebut. Maka sebelum berdiri Negri Sembilan datang rombongan demi rombongan dari Minangkabau dan tinggal menetap disana.

ROMBONGAN PERTAMA.

Mula-mula datang serombongan yg dipimpin seorang datuk yg bergelar Datuk Raja dengan istrinya Tok Seri. Tetapi kurang jelas dari mana asal mereka di Minangkabau. Mereka dalam perjalanan ke Negri Sembilan singah di Siak dan kemudian meneruskan perjalanan menyeberang selat Malaka terus ke Johor. Dari Johor mereka pergi ke Naning terus ke Rembau. Dan akhirnya menetap disebuah tempat yg bernama Londar Naga. Sebab disebut demikian kerena disana ditemui kesan-kesan alur naga. Sekarang tempat itu bernama Kampung Galau.

ROMBONGAN KEDUA
.
Pemimpin rombongan ini bergelar Datuk Rajo kuga dan berasal dari keluarga Datuk Bandaro Penghulu Alam dari Sungai Tarok. Rombongan ini menetap disebuah tempat yg kemudian terkenal dengan kampung Sungai Layang.

ROMBONGAN KETIGA.

Rombongan ini berasal dari Batu Sangkar, keluarga Datuk Mangkudun Sati di Sumanik. Mereka dua orang orang bersaudara yaitu, Sutan Sumanik dan Johan Kebesaran. Rombongan ini dalam perjalannya singgah juga di Siak, Malaka dan Rembau. Kemudian membuat perkampungan yg bernama Tanjung Alam yg kemudian berganti dengan nama Gunung Pasir.

ROMBONGAN KEEMPAT.
Rombongan ini datang dari Sarilamak, Payakumbuh, diketuai oleh Datuk Putih dan mereka datang pada Sutan Sumanik yg duluan membuka perkampungan di Negri Sembilan ini. Datuk Putih terkenal sebagai seorang pawang atau bomoh yg ahli ilmu kebatinan. Beliaulah yg memberi nama Seri Menanti bagi tempat istana raja yg sekarang ini.

Kemudian berturut-turut datang lagi rombongan lain diantaranya yg tercatat oleh sejarah Negri Sembilan ialah :
Rombongan yg bermula mendiami Rembau datang dari Batu Hampar, Payakumbuh dengan pengiringnya dari Batu Hampar dan dari Mungka. Nama beliau Datuk Lelo Balang. Kemudian menyusul adik beliau yg bernama Datuk Laut Dalam dari kampung Tiga Nenek.

BERSUKU DUA BELAS

Walaupun penduduk Negri Sembilan mengakui ajaran-ajaran Datuk Parapatiah nan Sabatang, tetapi mereka tidak membagi persukuan atas empat bagian seperti di Minangkabau. Mungkin disebabkan situasi dan perkembangannya sebagai kata pepatah juga : Dekat mencari suku jauh mencari hindu, maka suku-suku di Negeri Sembilan berasal dari luhak dari tempat mereka datang atau negri asal mereka. Berdasarkan asal kedatangan mereka yang demikian terdapat 12 suku di Negri Sembilan yg masing-masing adalah sebagai berikut :

1. Tanah Datar
2. Batuhampar,
3. Sari Lamak Pahang,
4. Sari Lamak Minangkabau,
5. Mungka,
6. Payakumbuh,
7. Sari Malanggang,
8. Tigo Batu,
9. Biduanda,
10. Tigo Nenek,
11. Anak Aceh,
12. Batu Balang.

a. Sekalipun mereka yg datang itu dari berbagai negri di Luhak Tanah Datar seperti ; Sumanik, Sungai Tarab, Pagaruyung, tetapi disini mereka hanya berkaum dengan suku "Tanah Datar"

b. Batu Hampar, adalah anak kamanakan Datuk Lelo Batang dan yang datang kemudian.

c. Yang dimaksud dengan Sari Lamak disini ialah kedatangan mereka dari dua jurusan yg pertama dengan melalui Pahang, dan lainnya langsung dari Minangkabau.

d. Yang dimaksud dengan Sari Malanggang mungkin Simalanggang, Payakumbuh.

e. Yang dimaksud dengan Tiga Batu ialah Tiga Batur Padang Berangan, Lubuk Batingkap dan Gurun.

f. Kurang jelas mana yg dimaksud dengan Tigo Nenek ini

g. Dan ada pula suku Anak Aceh dan kemungkinan juga mereka berasal dari suku Aceh yg disingkirkan dari Siak oleh orang Johor atau dengan cara lain.

h. Suku Biduanda berasal dari penduduk asli seperti suku Semang, Sakai, Jakun.

Fakta-fakta dan problem sejarah

Pada suatu tempat yg bernama Sungai Udang kira-kira 23 mil dari Seremban menuju Port Dickson terdapat sebuah makam. Disana terdapat beberapa batu bersurat seperti tulisan batu bersurat yg terdapat di Batu Sangkar. Orang yg bermakam disana bernama Syekh Ahmad dan berasal dari Minangkabau. Ia meninggal di tahun 872H atau 1467Masehi.
Dan masih menjadi tanda tanya yg belum terjawab, mengapa kedatangan Syekh itu dahulu ke Negri Sembilan dan dari luhak mana asalnya.

Dalam naskah pengiriman raja-raja yg delapan seorang diantaranya dikirimkan ke Rembau, Negri Sembilan bernama Malenggang Alam tetapi bila mana ditinjau sejarah Negri Sembilan raja Minangkabau pertama dikirim yaitu Raja Mahmud yg kemudian bergelar Raja Malewar.

Raja Malewar memegang kekuasan antara tahun 1773-1795. Beliau mendapat dua orang anak Tengku Totok dan putri bernama Tengku Aisah, beliau ditabalkan di Penajis Rembau dan kemudian pindah ke istana Sari Menanti. Sehingga sekarang masih populer pepatah yang berbunyi : Ber raja ke Johor, Bertali ke Siak, Bertuan ke Minangkabau.

Kedatangan beliau ke Negri Sembilan membawa rambut sehelai jika dimasukan kedalam sebuah batil atau cerana akan memenuhi batil atau cerana itu. Benda pusaka itu masih tetap dipergunakan bila menobatkan seorang raja baru. Sesudah Raja Malewar wafat pada tahun 1795 tidak diangkat putranya menjadi raja melainkan sekali lagi diminta seorang raja dari Minangkabau. Dan dikirimlah Raja Hitam dan dinobatkan dalam tahun 1795. Raja Hitam kawin dengan putri Raja Malewar yg bernama Tengku Aisyah sayang beliau tadak dikaruniai putra. Raja Hitam kawin dengan seorang perempuan lain bernama Encek Jingka. Dari istrinya ini beliau medapat empat orang putra/putri bernama Tengku Alang Husin, Tengku Ngah, Tengku Ibrahim, dan Tengku Alwi. Dan ketika beliau wafat dalam tahun 1908, juga tidak diangkat salah seorang putranya sebagai pengganti raja. Tetapi dikirimkan perutusan ke Pagaruyung untuk meminta seorang raja baru. Dan dikirimlah Raja Lenggang dari Minangkabau.

Raja Lenggang memerintah antara tahun 1808-1824. Raja Lenggang kawin dengan putri Raja Hitam dan berputra dua orang bernama ; Tengku Radin dan Tengku Imam. Ketika Raja Lenggang meninggal dinobatkan Tengku Radin menggantikan ayah beliau. Dan inilah raja pertama Negri Sembilan yg diangkat oleh pemegang adat dan undang-undang yg lahir di Negri Sembilan. Dan keturunan beliaulah yg turun-temurun menjadi raja di Negri Sembilan. Raja Radin digantikan oleh adiknya Raja Imam, tahun 1861-1869.

Dan selanjutnya raja-raja yg memerintah di Negri Sembilan :

Tengku Ampuan Intan (Pemangku Pejabat) 1869-1872.
Yang Dipertuan Antah 1872-1888.
Tuanku Muhammad 1888-1933.
Tuanku Abdul Rahman 3 Agust 1933-1 April 1960.
Tuanku Munawir 5 April 1960-14 April 1967.
Tuanku Ja'far 18 April 1967-
Demikian olahan dari Dato' Idris. Dan dari "Tambo Alam Minangkabau"

TERBENTUKNYA NEGRI SEMBILAN

Semasa dahulu kerajaan Negri Sembilan mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Minangkabau. Yang menjadi raja dinegri ini berasal dari keturunan Raja Minangkabau. Istananya bernama Seri Menanti. Adatnya, peraturan sebahagian besar menurut undang-undang adat Minangkabau. Mereka mempunyai suku-suku seperti orang Minangkabau tetapi berbeda cara pemakaiannya.

Perpindahan penduduk terjadi bermula pada abad ke XIV yaitu ketika pemerintah menyarankan supaya rakyat memperkembang Minangkabau sampai jauh-jauh diluar negrinya. Mereka mencari tanah baru, daerah baru, dan menetap disana. Begitu jaga adat, undang-undang, kelaziman dinegri asalnya yang dipergunakan dinegri yang baru.

Pada abad ke XVI pemerintahan negri sudah mulai tersusun, mereka mendirikan kerajaan kecil sebanyak 9 kerajaan dan kesatuan kerajaan kecil itu mereka namakan NEGERI SEMBILAN. Negara kesatuan ini terjadi waktu Minangkabau mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil ini dan diperlindungkan dibawah kerajaan Johor. Sebabnya ialah kerajaan persatuan yg baru berdiri ini selalu diganggu oleh gerombolan anak raja Bugis yg dipimpin Daeng Kemboja. Setelah negara kesatuan ini terbentuk dengan mufakat bersama dengan kerajaan Johor dimintalah seorang anak raja Pagaruyung untuk dinobatkan menjadi raja Yang Dipertuan Seri Menanti.

Maka hubungan yg demikian rapat sejau berabad-abad itu menjadikan hubungan antara negara yang akrab : Minangkabau - Negeri Sembilan pada khususnya, Indonesia - Malaysia pada umumnya.

KETURUNAN MINANGKABAU di KALIMANTAN UTARA

Daerah Sabah dan Serawak adalah daerah bahagian timur Malaysia. Sejak berabad-abad yang lampau telah mengenal suku bangsa Minangkabau. Dalam tahun 1390 suku bangsa Minangkabau telah menjejakkan kakinya dipesisir Kalimantan Utara. Orang itu bernama Rajo Bagindo bersama dengan rombongannya. Ia menetap di negara bagian Serawak sekarang ini, dan sampai sekarang gelar datuk itu masih ada di Serawak.

Keturunan Rajo Bagindo tidak hanya di Serawak saja, tetapi mereka terdapat juga di Berunai dan dipulau Sulu Pilipina. Disana terdapat kuburan tua dibatu nisannya bertuliskan bahwa asalnya dari Minangkabau. Jaga menurut seorang anggota Senat Philipina yg bernama Olonto nenek moyangnya berasal dari Minangkabau yg bergelar Rajo Bagindo. Beliau raja di Sulu pada tahun 1410. Demikian keterangan yang diberikan Prof DR Hamka.

http://www.minangforum.com/archive/index.php/thread-4878.html