Tampilkan postingan dengan label majapahit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majapahit. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

Tinjauan Buku: Menyibak Keruntuhan Majapahit


Judul : Genealogi Keruntuhan
Majapahit, Islamisasi,
Toleransi,
dan Pemertahanan
Agama Hindu di Bali.
Penulis : Prof Dr Nengah Bawa Atmadja, MA
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Edisi : I, 2010
Tebal : xxxiii + 503 halaman

Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu-Jawa terbesar di Indonesia. Kerajaan ini merupakan simbol puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pasca-tumbangnya Hayam Wuruk, Majapahit perlahan-lahan mengalami kemunduran yang berakhir sirna.

Setelah tumbangnya Majapahit, kemudian muncul gerakan serentak dakwah Islam di Jawa. Posisi kerajaan terbesar Hindu-Buddha kemudian digantikan oleh kerajaan Islam yang berpusat di Demak Bintara. Proses islamisasi di Jawa merupakan proses agung dalam rangka dakwah penyebaran agama Islam. Islamisasi berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi penuh kepastian.

Kerajaan Demak Bintara merupakan kerajaan Islam terbesar setelah tumbangnya Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan penerus kerajaan Singasari. Dia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh Islam. Gejala ini diperkuat dengan munculnya kota-kota pelabuhan di jalur pantura (pantai utara) Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan, sebelum itu banyak pedagang Islam dari Gujarat maupun Arab yang berada di dalam Kerajaan Majapahit.

Dakwah penyebaran Islam ini bukan hanya dari kalangan saudagar, melainkan juga dari adanya peran Wali Sanga (Wali Sembilan) yang berada di Tanah Jawa. Keberhasilan Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam tak lepas dari modal yang dimilikinya. Modal inilah yang tidak kebanyakan orang mampu memilikinya. Pada masa awal perkembangan Islam, para wali menjadikan masjid sebagai sentralnya. Di dalam masjid-lah segala aktivitas pengembangan komunitas Islam berlangsung.

Buku Genealogi Keruntuhan Majapahit, Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali karya Prof Dr Nengah Bawa Atmadja, MA, merupakan salah satu buku sejarah dengan banyak sudut pandang. Dalam menyampaikan gagasannya, penulis menggunakan data. Analisis yang dipaparkan dapat memberikan bayangan mengenai lintasan historis. Pemaparannya menyangkut data-data sejarah sejak zaman Majapahit hingga zaman Republik.

Hal yang menarik dari buku ini, yakni pemuatan telaah mengenai luasnya penggalian masalah sejarah dan modernisasi yang terkandung dalam konsep trisema. Hal tersebut yakni sejarah sudut pandang kejadian masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang mengenai jatuh-bangunnya kerajaan besar. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, hal itu berbeda ketika di tangan Atmadja. Dia berhasil menuliskannya dengan sedemikian apik.

Buku ini merupakan buah hasil dari pemikiran mengenai hakikat sebuah pergeseran dan kebertahanan sejarah peradaban. Ini menyangkut perjalanan sejarah bangsa Majapahit menjadi bangsa Indonesia yang multikultural. Pada zaman Majapahit banyak dijumpai pertapaan (mandala) yang terletak di dalam hutan. Ini berfungsi sebagai asrama tempat tinggal siswa yang berguru kepada orang suci yang memiliki pertapaan. Mandala ini kemudian berubah menjadi pesantren setelah Majapahit tumbang digantikan kerajaan Islam.

Pengalihan pertapaan menjadi pesantren menimbulkan implikasi. Di mata orang Hindu, pesantren bukan budaya asing. Hal tersebut telah mengakar dalam budaya Jawa. Mereka lebih mudah menerima pendidikan agama lewat pesantren. Sebab, secara kelembagaan, pesantren cenderung sama dengan lembaga pendidikan sebelumnya (mandala/pertapaan). Hanya saja mereka berbeda istilah dan bahan ajaran.

Kondisi ini mengakibatkan agama Islam secara bertahap meluaskan pengaruhnya ke daerah-daerah pedalaman. Bahkan, Islam telah menembus kawasan Istana Majapahit. Ini terbukti dengan adanya temuan batu nisan di kuburan-kuburan Jawa Timur, yakni Trowulan dan Troloyo, di dekat Istana Majapahit. Ini menunjukkan bahwa pada saat Majapahit berjaya, penduduknya sudah ada yang beragama Islam.

Ini berkaitan dengan kebijakan raja terhadap agama Islam. Raja Majapahit memberikan keleluasaan bagi dakwah Islam. Sebab, penganutnya sangat saleh dan awalnya menjauhi urusan politik. Dengan demikian, Islam dulu lebih bercorak kultural. Kebijakan ini lebih memberikan peluang secara leluasa dalam proses islamisasi di tubuh internal Majapahit. Percepatan islamisasi terkait pula dengan pencarian titik temu antara agama Islam dan agama Hindu-Buddha.

Keruntuhan Majapahit disebabkan banyak faktor, terutama faktor politik. Ini terbukti bahwa pascakekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, tidak ada lagi orang kuat sebagai penggantinya. Oleh sebab itu, legitimasi kekuasaan raja-raja Majapahit sangat rentan tak berdaya. Ini kemudian menimbulkan perang saudara yang melibatkan elite kerajaan. Kejadian ini kemungkinan disebabkan adanya konflik hebat di kalangan keluarga raja sehingga Majapahit gagal mengisi posisi raja secara definitif.

http://oase.kompas.com/read/2011/02/08/00583033/Menyibak.Keruntuhan.Majapahit

Kamis, 21 Juli 2011

Catatan Sejarah Hancurnya Majapahit


HJ. De Graaf dan Th. Pigeaud dalam bukunya Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI (terjemahan Grafiti Pers), memberikan beberapa keterangan yang menyoalkan atas permasalah hancurnya Majapahit. Tulisannya mengupas beberapa peristiwa yang mungkin luput dari pandangan kita. Apa pun tulisan mereka hanya sebuah kecenderungan dari pola pikir yang terbentuk atas data-data yang mereka temukan dan mereka nilai benar.
Menurut cerita rakyat Jawa, tahun kejadiannya adalah 1487 M. Diambil dari kalimat terkenal Sirna Ilang Kertaning Bhumi = Musnah Hilang Keagungan Negeri = 1400 J = 1487 M, yang dipercaya sebagai tahun keruntuhan Majapahit. Tapi kedua ilmuwan Belanda tersebut mendapatkan bukti-bukti yang berbeda.
Kerajaan Majapahit ternyata tidak runtuh di tahun 1487 M. Meksi begitu, tahun itu ternyata bukan tahun yang tidak penting. Pada tahun itulah raja pertama Demak mulai memerintah. Di catatan-catatan Jawa dia disebut dangan nama Raden Patah (dari kata Arab: Al Fatah, “kemenangan gemilang”).

Dari gelarnya, yaitu raden, dapat diduga ia bertalian darah dengan penguasa lama. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya. Sedangkan ibunya adalah selir raja, seorang wanita Cina muslim. Tempat kelahirannya adalah Palembang. Konon ibunya dalam keadaan mengandung ketika `dihadiahkan’ kepada gubernur kesayangan Raja di Sumatera selatan itu. Tapi cerita ini berbeda dengan dokumen-dokumen lainnya. Menurut catatan orang Eropa, nama penguasa Demak pertama itu adalah Pate Rodim (Sr.) . De Graaf memperolehnya dari buku Summa Oriental tulisan Tome Pires, seorang duta Portugis dari Malaka yang mengunjungi Jawa pada awal abad XVI. Ilmuwan Belanda itu memperkirakan nama sang penguasa sebenarnya mungkin adalah `Kamaruddin’ atau `Badruddin’. Dari buku yang sama dan juga dari dokumen Kerajaan Banten, didapatkan bukti bahwa raja Demak tersebut bukanlah keturunan Raja Majapahit. Di dokumen kerajaan Banten, ia disebut dengan nama Arya Cucu Sumangsang. Ia adalah keturunan patih raja (gubernur) Demak bernama Cek Po Ko yang beretnis Cina. Sedangkan penguasa Demak pada waktu itu adalah bawahan Majapahit bernama Lembu Sora. Mungkin ia yang bergelar Kertabhumi.

Meskipun hanya menjabat sebagai patih penguasa daerah bawahan, ia sangat berjasa kepada Raja Majapahit. Cek Po Ko-lah yang memimpin ekspedisi militer penghukuman atas Palembang dan Cirebon yang membangkang. Menurut aturan, yang menjadi panglima seharusnya adalah Lembu Sora/Kertabhumi. Rupanya ia mendelegasikan wewenang kepada patihnya. Pada waktu ekspedisi itulah konon anak Cek Po Ko dilahirkan.

Entah dengan cara mengawini putri penguasa setempat atau dengan cara membunuh raja bawahan itu, pada akhirnya anak Cek Po Ko marak menjadi penguasa Demak. Dan ternyata, Raja Majapahit tidak melakukan tindakan apapun atas penyimpangan itu. Ada beberapa kemungkinan mengapa Raja mendiamkan, yang berarti mengesahkan, kejadian itu. Pertama mungkin karena jasa-jasanya yang besar kepada Raja. Mungkin juga pada tahun-tahun itu kekuatan militer Majapahit sudah sedemikian lemahnya. Atau bisa jadi Raja mendapatkan keuntungan dengan adanya pengambilalihan kekuasan di Demak itu. Mungkin juga gabungan ketiga penyebab itulah yang menjadi dasar sikap lembek pemerintah pusat.

Berdasarkan dokumen Majapahit yang paling dapat dipercaya, penguasa tertinggi Majapahit saat itu adalah keturunan cabang keluarga Raja yang ada di Kediri. Cabang keluarga ini lebih muda dan sebenarnya tidak berhak menduduki tahta. Cabang keluarga yang sebenarnya lebih berhak, karena lebih senior, adalah cabang Sinagara.

Salah satu keturunannya adalah Lembu Sora atau Kertabhumi yang berkuasa di Demak. Raja mendapatkan keuntungan karena `saingan potensial’ itu sudah tersingkir. Istilah Jawanya: Raja melakukan `nabok nyilih tangan’ = memukul dengan cara meminjam tangan orang lain.

Ternyata, pemerintah pusat Majapahit salah melakukan perhitungan politik. Membiarkan kejadian di Demak ternyata membuat turunnya wibawa Raja di mata penguasa-penguasa daerah lain, terutama penguasa-penguasa yang mulai beralih beragama Islam. Insiden Demak membuktikan dengan nyata : Majapahit yang dulu perkasa, sekarang sudah tidak bergigi lagi. Contoh yang paling jelas dilakukan oleh penguasa Giri-Gresik. Tanpa ragu ia memplokamirkan diri menjadi raja (merdeka) lengkap dengan gelar : Prabu Satmata. Inilah awal keruntuhan Majapahit. Akan tetapi jelas bahwa Majapahit tidak ambruk di tahun 1487 M itu. Kerajaan Majapahit, meskipun lemah, masih berdiri sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Bukti nyata keberadaan Majapahit di tahun-tahun setelah 1487 M ada di buku Summa Oriental itu juga. Di sekitar tahun 1513 M, penulis buku itu mengunjungi Tuban. Ia sebagai wakil penguasa baru atas Malaka, diterima dengan baik. Tuan rumahnya bernama Pate Vira. Kemungkinan besar adalah Adipati Wilwatikta, penguasa Tuban waktu itu. Meskipun beragama Islam, ia masih mengaku sebagai bawahan Raja Hindu di Daha di pedalaman Jawa timur. Daha adalah sebutan lain dari Kediri.

Karena yang sedang berkuasa di Majapahit saat itu adalah cabang keluarga Kediri, De Graaf dan juga ahli sejarah lain, tidak bisa tidak, harus menafsirkan Daha atasan Tuban sebagai Kerajaan Majapahit. Bukti lainnya juga menguatkan. Menurut Tome Pires juga, nama sang Raja adalah Vigiaja. Tentu, ini adalah lidah Portugis untuk menyebut (Bra) Wijaya. Dan mahapatihnya bernama Gusti Pate.

Menurut catatan-catatan Jawa nama sebenarnya adalah Patih Udara atau Mahudara atau Amdura. Patih itu sangat terkenal dan ditakuti di penghujung senja Majapahit. Patih ini juga yang memberi gelar penguasa Surabaya sebagai ‘Jurupa Galagam Imteram’. Ini adalah ejaan Portugis untuk gelar Jawa: ‘Surapati Ngalaga Ing Terung’. Nama penguasa Surabaya itu sebelumnya adalah Pate Bubat. Gelar itu diberikan atas jasa militernya membendung serangan orang-orang Islam dari Jawa tengah.

Babad-babad Jawa juga menyebut-nyebut orang ini. Adipati Terung mula-mula adalah pembela Majapahit yang gigih, meskipun ia sudah beragama Islam dan mungkin keturunan Cina juga. Konon dialah yang berhasil membunuh Penghulu Rahmatullah, ayah Sunan Kudus, Panglima Demak penyerbu Majapahit.
Tetapi kemudian ia (atau penggantinya) berbalik menjadi musuh Majapahit di kemudian hari. Tahun keruntuhan Majapahit kemungkinan besar adalah 1527 M.

Menurut dokumen Kerajaan Demak, pada tahun itulah Demak menaklukkan Kediri. Dengan alasan yang sama, bahwa penguasa Majapahit adalah cabang keluarga Kediri, berarti yang ditaklukkan tahun 1527 M itu tidak lain dan tidak bukan adalah Majapahit. De Graaf juga menemukan bukti (tidak langsung) lain. Di tahun 1529 M, Raja Muda Portugis di Malaka menerima perutusan dari Kerajaan Belambangan lewat pelabuhan Panarukan. Karena selama berabad-abad Belambangan adalah wilayah Majapahit, dengan merdekanya wilayah itu, berarti Kerajaan atasannya sudah tidak ada lagi.

Yang berkuasa di Demak pada waktu itu bukan lagi penguasa pertamanya, melainkan penguasa ketiganya. Di buku Tome Pires, dia disebut dengan nama Pate Rodim (Jr.). Di buku-buku Jawa, dialah raja Demak yang paling lama berkuasa : Sultan Trenggana. Ia menggantikan abangnya yang hanya memerintah sebentar, Pangeran Sabrang Lor atau oleh orang Portugis disebut dengan nama Pate Unus dari Jepara. Orang inilah yang berusaha memerangi Portugis di Malaka di tahun 1511 M.

Keduanya adalah putra penguasa Demak pertama. Panglima Angkatan Bersenjata Demak pada waktu penaklukan Majapahit adalah Sunan Kudus. Ia adalah anak sekaligus pengganti panglima yang terbunuh dalam perang sebelumnya. Tokoh ini, dalam cerita-cerita Jawa, dikenal sebagai salah satu dari Wali Sanga. Mereka diyakini sebagai penyebar agama Islam mula-mula di tanah Jawa. Mereka juga diakui sebagai penasihat ahli untuk Raja Demak yang bersidang secar rutin. Cerita-cerita yang beredar sangat fantastis, penuh dengan mukjizat dan kesaktian (kecakapan militer) individu.

Menurut dokumen yang paling terpercaya, mereka sebenarnya mula-mula menjabat sebagai Imam (penghulu) Masjid Raya Kerajaan Demak. Pada jaman itu, ternyata para Imam diberi kewenangan untuk membentuk korps militer tersendiri. Nama kesatuannya adalah Suranata. Anggota pasukannya berasal dari komunitas orang alim yang dipimpin sendiri oleh sang Imam. Tidak diketahui dari mana sumber pembiayaan untuk senjata dan pelatihan militer lainnya. Mungkin dari amal jariah jamaah masjid seperti yang lazim sampai sekarang ini, atau mungkin juga dibiayai langsung dari kas kerajaan.Yang pasti, mereka dikenal sangat militan dalam membela dan mendakwahkan agama Islam.

Di negeri yang baru masuk Islam, tentu tidak aneh jika semangat mereka dalam berdakwah meluap-luap. Medan untuk berjihad terhampar luas di depan. Mereka berharap mendapatkan pengikut yang sebanyak-banyaknya dari orang Jawa yang masih kafir. Dengan demikian perluasan wilayah Islam menjadi terlaksana dengan sukses. Kematian bukan hal mengerikan bagi mereka. Mati di ladang jihad, syurga imbalannya. Tidak heran jika legiun Suranata sangat ditakuti dimana-mana.
Dengan latar belakang kekuatan yang dimilikinya itulah, Sunan Kudus berkarier di bidang militer Kerajaan Demak. Dan prestasinya tidak tanggung-tanggung : meruntuhkan kerajaan kafir kuno Hindu Jawa Majapahit. Keberhasilannya adalah menyingkirkan rintangan terbesar (menurut orang-orang Islam baru itu) dalam menjalankan perintah Tuhan di bumi Jawa. Dengan ambruknya pembela kekafiran, jalan menuju pengislaman di bekas wilayahnya menjadi semakin lapang.

Fragmen kekalahan Majapahit itu direkam dengan jeli oleh para pencipta reyog Panaraga. Raja Majapahit digambarkan sangar seperti macan, tetapi suka bermegah-megah seperti merak. Pekerjaannya hanya lenggang-lenggok tanpa tujuan jelas. Para komandan militernya (warok) hanya bisa mendelik marah-marah karena para prajurit anak buahnya ternyata lemah gemulai (diperankan oleh para gemblak, pemuda yang cantik-cantik) . Kebanci-bancian dan tidak tangkas bertempur seperti pada umumnya tentara dimana-mana. Apalah artinya komandan yang pintar tanpa para buah yang trengginas. Pada akhirnya, kepala sang raja diduduki oleh anak kecil : Kerajaan Majapahit yang dulu jaya dikalahkan oleh Kerajaan Demak yang belum lama berdiri.

Faktor lain yang mungkin mempengaruhi jalannya pertempuran adalah digunakannya senjata berteknologi tinggi pada waktu itu oleh pasukan Demak : meriam berpeluru besi. Memang ada spekulasi yang mengatakan bahwa sebenarnya Majapahit juga memiliki senjata api sejenis meriam. Namun yang dilontarkan meriam Majapahit bukan proyektil besi, melainkan bahan kimia yang menimbulkan ledakan saja, hanya mirip mercon yang dilontarkan. Teknologi ini jelas tertinggal jauh dibandingkan dengan meriam Demak yang sanggup meruntuhkan tembok dan menjebol pintu gerbang perbentengan. Demak juga berpengalaman berhadapan dengan ampuhnya meriam (Portugis) pada waktu berusaha mengepung Malaka.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa Demak sanggup membuat atau membeli meriam yang setara dengan milik kapal-kapal Portugis itu.

Menurut catatan Eropa, Demak memiliki tawanan perang seorang Portugis yang kemudian masuk Islam. Pekerjaan orang ini adalah membuat meriam untuk Raja. Salah satu hasil karyanya dipakai oleh Panglima Demak Wilayah Barat untuk menaklukkan Banten. Meriam ini kemudian dipajang di depan istana barunya di Banten. Sekarang meriam itu masih ada dan disimpan di Museum Nasional Jakarta dan diberi nama Ki Amuk.

Pribadi Sang Panglima Demak Wilayah Barat Syarif Hidayatullah juga bisa dijadikan bukti kepemilikan meriam itu. Ia kelahiran Pasai. Ia pasti sangat terkesan dengan daya rusak meriam Portugis yang meluluh-lantakkan negerinya. Kemudian ia pergi berhaji ke Mekah. Di pusat komunitas muslim itu tentu ia mendengar berita digunakannya meriam-meriam Kesultanan Turki Usmani yang menggentarkan penguasa-penguasa di Kairo, Jerusalem, Konstantinopel, Athena, Beograd, Bucharest, Budapest, bahkan sampai ke Wienna. Bukan tidak mungkin disana dia berusaha untuk mempelajari pembuatan meriam berikut strategi penggunaannya.

Ditemukan juga faktor non-militer sebagai penyebab kalahnya angkatan perang Majapahit itu. Dalam upaya bertahan, ternyata Majapahit (bersama Pajajaran) melakukan manuver politik dengan menawarkan koalisi kepada Portugis, penakluk Malaka. Majapahit melakukannya dengan perantaraan penguasa Tuban. Perkembangan ini tentu tidak disenangi oleh kaum muslim di Jawa tengah. Si kafir Hindu hendak meminta bantuan kepada kafir Portugis. Lengkap sudah faktor yang bisa membangkitkan semangat orang-orang Islam dalam membasmi kekafiran. Padahal Raja Majapahit tidak pernah (atau tidak sanggup) menghalang-halangi atau memusuhi penyebar Islam di wilayah negerinya. Legenda tentang Wali paling senior, Sunan Ampel, menunjukkan bahwa ia diterima dengan baik di istana. Mungkin juga karena masih keponakan permaisuri, Putri Champa. Malah ia diberi tugas memimpin masyarakat baru muslim di Surabaya. Bahkan makam-makam tua di Tralaya membuktikan bahwa para bangsawan Majapahit sudah ada yang menganut Islam sejak jaman Prabu Hayam Wuruk.

Di samping kisah wali-wali lain, riwayat tentang Sunan Kudus banyak dijumpai dalam cerita-cerita Jawa yang beredar luas. Konon ia berdarah Arab, dan dari garis ibu masih merupakan keturunan Sunan Ampel. Namanya yang sebenarnya adalah Jafar Sidik. Disamping menjabat sebagai Imam Masjid Raya Demak, ia juga berdinas di angkatan bersenjata Demak menggantikan ayahnya yang terbunuh. Ayahnya hanya dikenal dari nama anumertanya: Penghulu Rahmatullah, artinya yang dirahmati oleh Allah.

Cerita dan babad Jawa menceritakan tokoh ini dengan karakteristik khas: keras dan tidak kenal kompromi. Dalam menegakkan syariah, ia tidak segan-segan menggunakan kekerasan, bahkan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Sama sekali tidak pernah terdengar dia mau mengkompromikan keyakinannya dengan budaya setempat ketika masih menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Demak. Tindakannya melarang penyembelihan sapi, (dalam rangka menghormati kepercayaan Hindu yang masih dianut luas) dilakukan setelah ia menetap di kota Kudus. Demikian juga dengan perintahnya dalam pembangunan Menara Masjid Kudus yang terkenal itu. Dia melakukan semua itu setelah disingkirkan dari lingkungan kekuasan di ibukota Demak.

Berbeda dengan Sunan Kalijaga misalnya. Sunan ini berasal dari golongan elite waktu itu. Ayahnya adalah Adipati Wilwatikta dari Tuban. Nama kecilnya adalah Raden Said. Setelah lama menjadi penjahat, akhirnya dia insyaf dan menjadi orang baik-baik. Sebagai Wali yang asli Jawa, metoda dakwahnya berbeda dengan Sunan Kudus. Sunan Kalijaga menggunakan kearifan lokal dalam mengajak rakyat Jawa yang masih Hindu-Budha ke agama Islam. Tujuannya adalah menghindarkan sejauh mungkin gejolak penolakan di masyarakat. Dia banyak melakukan adaptasi-adaptasi budaya Jawa agar cocok dengan nilai-nilai keislaman.

Gending dan wayang yang semula kesenian sakral bagi agama lama, dipergunakannya sebagai media dakwah yang sangat efektif. Sebagian kalangan menganggap bahwa metoda Sunan Kalijaga-lah yang berhasil mengislamkan Jawa. Tetapi tidak sedikit yang menganggap bahwa ajarannya menyesatkan. Ia dianggap merusak akidah. Metodanya mencampuradukkan ajaran Islam yang suci yang berasal dari Allah dengan ajaran agama lain, bahkan dengan kebudayaan Jawa yang hanya hasil kreasi manusia. Jadinya adalah Islam Kejawen yang menyimpang jauh dari ajaran Islam murni dari Arabia.

Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga hidup sejaman. Tidak tercatat adanya konflik kepentingan atau bentrok fisik antara kedua Wali itu. Namun keputusan Sultan Trenggana menunjukkan kapada Wali siapa Kerajaan Demak berpihak. Jafar Sidik akhirnya digantikan oleh Kalijaga sebagai Imam Masjid Raya sekaligus penasehat raja. Jafar Sidik diberi wilayah tersendiri : Kudus sebagai imbalan atas jasa-jasanya. Namanya semula adalah Undung atau Ngudung. Setelah menjadi miliknya, nama kota itu diubahnya menjadi Kudus. Satu-satunya kota di Jawa yang bernama dari bahasa Arab. Dia kemudian terkenal dengan nama Sunan Kudus, sesuai dengan tempat tinggalnya.

Tindakan Sunan Kudus yang paling terkenal adalah menghukum si penyebar bid’ah : Syeh Siti Jenar dan muridnya Ki Ageng Pengging. Ajaran mereka pada intinya adalah: `manunggaling kawula Gusti’= bersatunya diri manusia dengan Tuhan. Ini jelas membahayakan akidah Islam. Menyamakan Allah Yang Maha Suci dengan manusia yang penuh dosa dan kelemahan jelas-jelas merendahkan martabat-Nya. Tidak ada hukuman yang lebih cocok bagi penghina Tuhan selain hukuman mati. Tanpa ragu, Sunan Kudus dan `Komando Pasukan Khusus’ Suranata-nya bergerak memusnahkan bibit-bibit kerusakan akidah itu.

Penulis buku `Dharmogandhul’ juga mencatatnya. Namun dia sedikit kurang jeli dalam pengamatannya. Dalam penglihatannya, orang-orang Islam dari Jawa tengah itu adalah mereka yang memakai baju jubah longgar, bersorban, memelihara jenggot, dan suka mengacungkan pedang kepada orang kafir. Semua orang Islam itu dituduhnya bertanggungjawab atas kerusakan yang terjadi di tanah Jawa. Dikiranya semua orang Islam adalah penganut garis keras. Merekalah yang menyebabkan orang-orang yang dulunya berada di kepulauan ini dan tidak memeluk agama baru tersebut mengungsi ke tempat terpencil.

Kepustakaan
HJ. De Graaf dan Th. Pigeaud, 2001 ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI’ Grafiti Pers: Jakarta.
http://mustaqimzone.wordpress.com/2011/07/20/hancurnya-majapahit/

Kamis, 16 Juni 2011

Sejarah Pendirian Kerajaan Majapahit

Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290 Singhasari menjadi kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yg bernama Meng Chi ke Singhasari yg menuntut upeti. Kertanagara penguasa kerajaan Singhasari yg terakhir menolak utk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dgn merusak wajah dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu Jayakatwang adipati Kediri sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya menantu Kertanegara yg datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit yg nama diambil dari buah maja dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongolia tiba Wijaya bersekutu dgn pasukan Mongolia utk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongol sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukan secara kalang-kabut krn mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka utk menangkap angin muson agar dapat pulang atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yg asing.

Tanggal pasti yg digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adl hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dgn nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa termasuk Ranggalawe Sora dan Nambi memberontak melawan meskipun pemberontakan tersebut tak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yg melakukan konspirasi utk menjatuhkan semua orang terpercaya raja agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti) Halayudha ditangkap dan dipenjara dan lalu dihukum mati.Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Anak dan penerus Wijaya Jayanegara adl penguasa yg jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet yg berarti “penjahat lemah”. Pada tahun 1328 Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca. Ibu tiri yaitu Gayatri Rajapatni seharus menggantikan akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuan Tribhuwana Wijayatunggadewi utk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana kerajaan Majapahit berkembang menjadi lbh besar dan terkenal di daerah tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibu pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putra Hayam Wuruk.

Kejayaan Kerajaan Majapahit

Hayam Wuruk juga disebut Rajasanagara memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masa Majapahit mencapai puncak kejayaan dgn bantuan mahapatih Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364) Majapahit menguasai lbh banyak wilayah. Pada tahun 1377 beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang menyebabkan runtuh sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Jenderal terkenal Majapahit lain adl Adityawarman yg terkenal krn penaklukan di Minangkabau.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra semenanjung Malaya Borneo Sulawesi kepulauan Nusa Tenggara Maluku Papua dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampak tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yg mungkin berupa monopoli oleh raja[14]. Majapahit juga memiliki hubungan dgn Campa Kamboja Siam Birma bagian selatan dan Vietnam dan bahkan mengirim duta-duta ke Tiongkok.

Keruntuhan Majapahit

Sesudah mencapai puncak pada abad ke-14 kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampak terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yg dipertengkarkan pada tahun 1450-an dan pemberontakan besar yg dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yg berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adl tahun berakhir Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041 yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adl “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yg sebenar digambarkan oleh candrasengkala tersebut adl gugur Bre Kertabumi raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Ketika Majapahit didirikan pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan sebuah kerajaan perdagangan baru yg berdasarkan agama Islam yaitu Kesultanan Malaka mulai muncul di bagian barat nusantara.

Catatan sejarah dari Tiongkok Portugis (Tome Pires) dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari Kesultanan Demak antara tahun 1518 dan 1521 M.

Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=100276

Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi


Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.

Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.

Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.

2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.

Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.

Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab.
http://www.roabaca.com/serba-serbi/kesultanan-majapahit-fakta-sejarah-yang-tersembunyi-8.html