Blog yang memuat aneka tulisan tentang sejarah, khususnya sejarah Indonesia dan Melayu. Mudah-mudahan bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label pakaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakaian. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Juli 2011
Kebaya di masa Kolonial Belanda
Membicarakan sejarah pakaian di Indonesia pada awal abad ke-20 merupakan suatu hal yang menarik. Pakaian, bukan sekadar penutup aurat, tetapi juga perlambang dari status sosial-ekonomi, bahkan politik. Pemerintah kolonial menciptakan pencitraan kekuasaan mereka melalui pakaian. Pakaian kaum Eropa dibedakan dengan kaum pribumi. Pribumi dilarang memakai pakaian kaum kulit putih.
Dikotomi semacam ini dibangun terus pada masa kolonial. Pakaian juga melambangkan kebesaran. Dalam buku Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan, Kees van Dijk melihat pakaian yang dikenakan kaum pribumi (terutama kalangan bangsawan) dipengaruhi oleh pakaian dari Persia, Arab Saudi, Turki, India, Cina, dan Belanda.
Dijk juga menyebut Raja Ternate dan Amangkurat II mengesampingkan pakaian kerajaan mereka demi pakaian Belanda. Dijk bahkan berpendapat bahwa identitas pakaian tidak kalah berbahayanya dengan identitas agama serta keyakinan politik. Menurutnya pakaian membuat orang bisa saling hantam, saling tikam, dan dapat saling bunuh. Contoh kasus yang diberikan Dijk adalah peristiwa terbunuhnya seorang ahli botani dari Inggris, Dr. C.B. Robinson. Pada Desember 1913 Robinson mengunjungi Ambon. Saat itu ia berpakaian warna kaki gelap dengan topi beludru yang aneh. Ternyata pakaiannya ini membuat suku Buton Muslim menjadi ketakutan dan kemudian membunuhnya.
Kebaya, sarung, dan peci yang termasuk kategori pakaian, juga memiliki simbol-simbol tertentu. Meski terkesan remeh, tapi ia juga mencerminkan identitas sang pemakai. Lebih jauh, kebaya, sarung, dan peci mengandung makna politis di dalamnya. Kebaya menurut Jean Gelman Taylor dalam Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan merupakan kostum bagi semua kelas sosial pada abad ke-19, baik bagi perempuan Jawa maupun Indo.
Bahkan ketika para perempuan Belanda mulai berdatangan ke Hindia sesudah tahun 1870, kebaya menjadi pakaian wajib mereka yang dikenakan pada pagi hari. Seorang perempuan Eropa bernama Augusta de Wit memberi kesaksian tentang gaya berpakaian orang Eropa di Hindia Belanda. Perempuan ini tiba di Tanjung Priok pada awal abad ke-20. Augusta terkesan melihat pakaian perempuan Eropa di Batavia. Ketika diruang hotel, ia melihat serombongan orang Eropa sedang santai di beranda hotel. Ia menyebutkan bahwa kaum wanitanya mengenakan pakaian yang tampaknya seperti pakaian penduduk asli, yaitu sarung dan kebaya.
Kebaya itu semacam baju dari kain tipis putih yang dihiasi banyak bordiran. Di bagian depannya disemat dengan peniti-peniti hiasan yang diuntai dengan rantai emas. Sarung adalah sepotong kain warna-warni yang dilipat dibagian depan dan diikat dipinggang dengan ikat pinggang sutera. Mereka tidak memakai kaus kaki, cuma memakai sandal berhak tinggi. Rambutnya meniru gaya penduduk asli, yaitu ditarik ke belakang dan disanggul di belakang kepala…Lebih mencengangkan lagi ialah pakaian kaum prianya. Disaat santai itu mereka memakai baju tidak berkerah. Celananya dari kain sarung tipis dihiasi bunga-bunga merah dan biru, ada pula yang bergambar kupu-kupu dan naga (Ishwara, 2001).
Gaya busana Eropa totok dengan kaum Indo-Eropa ternyata sama. Kaum Indo-Eropa juga mengenakan kebaya dan sarung. Di tengah waktu luang, ketika santai di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi atau teh, mereka mengenakan kebaya, sarung, atau baju tidak berkerah. Namun kebaya dan sarung yang dipakai kaum perempuan Eropa totok dan Indo-Eropa berbeda dengan apa yang dipakai perempuan pribumi dari penjaga kedai hingga istri seorang residen kolonial, di halaman istana (Koningsplein) atau di kampung, begitulah tulis Pamela Pattynama dalam menjelaskan kehidupan kaum Indis pada buku Recalling The Indies.
Mungkin kebaya dan sarung yang dipakai oleh perempuan Eropa totok dan Indo-Eropa sudah sedikit dimodifikasi oleh mereka, dan nampaknya mereka sengaja membedakan pakaian ini dengan perempuan pribumi. Kebaya pagi bagi perempuan Eropa dan Indo terbuat dari kain katun putih yang dihiasi renda buatan Eropa dan kebaya malam terbuat dari sutera hitam. Ada beberapa saran dari Catenius-van der Meijden, seorang Belanda yang lahir di Hindia, tentang kebaya yang akan dikenakan perempuan Belanda yang mau mendampingi suami mereka di Hindia. Catenius-van der Meijden, yang juga merupakan penulis buku Naar Indie en Terug: Gids voor het gezin, speciaal een vraagbaak voor dames menulis bahwa kebaya yang dibeli dengan harga mahal di Belanda terlihat konyol ketika dikenakan di Hindia.
Catenius juga menyarankan agar tidak membawa pakaian terlalu banyak karena di Hindia semuanya sangat murah, dibandingkan di Belanda. Di samping itu ia juga menghimbau para istri Belanda supaya memiliki 6 sarung tidur, 2-3 sarung rapi, 6 kebaya tidur, dan 6 kebaya rapi untuk tinggal di Hindia. Bukan hanya kaum perempuan Eropa saja yang mengikuti pakaian pribumi. Anak-anak orang Belanda di Hindia juga mengenakan pakaian yang disebut oleh penduduk Melayu sebagai “celana monyet”. Pakaian ini hanya menutupi badan, sedangkan leher, lengan, dan tungkai dibiarkan telanjang.
Nampaknya alasan yang paling mendasar orang Eropa mengenakan pakaian-pakaian ini adalah suatu upaya untuk mengatasi hawa panas di Hindia yang tentunya berbeda dengan iklim di Eropa. Tetapi pada 1920an, ada aturan yang melarang mereka mengenakan pakaian ini di ruang publik, dan membiasakan kebiasaan lama yaitu berbusana ala kolonial di kalangan publik. Pemakaian kebaya dan sarung tetap terpelihara, namun dibatasi hanya untuk dipakai di rumah. Sedangkan di luar rumah orang Eropa mengenakan pakaian Barat. Sekolah dan kerja mengharuskan pakaian rapi yang dilengkapi dengan sepatu. Sekarang, kebaya masih dipakai kaum perempuan walau terbatas pada momen-momen tertentu, dan jarang sekali terlihat di ruang publik. Yang ironis kebaya sekarang justru lebih identik dengan perempuan yang telah beranjak tua di desa-desa.
http://sandiwaradanperang.blogspot.com/2010_01_19_archive.html
Sabtu, 09 Juli 2011
Sejarah Unik Pakaian
Sepatu dan berbagai jenis busana yang Anda pakai saat ini memiliki sejarah yang cukup unik. Mulai dari alasan dibuatnya sepatu dan busana, proses pembuatan, hingga perkembangannya seperti sekarang. Berikut sejarah sepatu dan beberapa busana yang sangat menarik untuk diketahui.
Sepatu
Sepatu dengan bentuk konyol untuk kebutuhan mode pertama kali dibuat pada 1300-an di Eropa. Bentuk sepatu saat itu seperti sandal Aladin, dengan bagian depan yang sangat panjang. Bagian tersebut juga makin lama makin panjang dan membahayakan pemakainya.
Untuk mengurangi bahaya, orang Eropa saat itu kemudian mengikat ujung sepatu yang panjang pada lutut dengan rantai atau tali. Ujung sepatu yang panjang juga diisi dengan kain dan dibuat menjadi bentuk alat kelamin pria. Tentu saja hal ini membuat pemuka agama marah dan melarang orang untuk menggunakan sepatu dengan alasan agama.
Pada tahun 1500-an sepatu dilihat dengan cara lain. Penekanannya tidak lagi pada panjang tetapi lebar. Saat itu orang-orang mulai menggunakan sepatu dengan tumit setinggi 10 inci, yang menimbulkan banyak korban. Melihat hal itu, pihak kerajaan Inggris membuat peraturan bahwa hak sepatu tidak boleh lebih dari enam inci. Pada abad ke-16 banyak wanita Italia menambahkan hak pada sol sepatu mereka setinggi 8 inci. Hak tersebut terbuat dari kayu yang disebut chopines. Hal itu dilakukan untuk menjaga baju mereka dari kotoran yang ada di jalan menempel pada bagian bawah baju.
Baju berkerah
Kemeja atau baju berkerah yang yang saat ini banyak digunakan konsep dasarnya adalah berasal dari ruff atau bulu-bulu yang sering digunakan di leher. Ruff berfungsi untuk melindungi bagian tepi busana di daerah leher dari keausan.
Mengganti ruff juga lebih ekonomis daripada mengganti baju atau kemeja. Seperti pernyataan mode paling populer, orang-orang mulai bersaing satu sama lain menggunakan versi paling ekstrim dari ruff. Ruff pun berkembang menjadi semakin besar dan terbuat dari bahan yang kaku, hingga menyulitkan pemakainya untuk bergerak.
Pada awal 1800-an kerah besar dan kaku semakin ekstrim hingga menimbulkan bahaya karena tajam dan melukai telingan. Bahkan hingga akhir 1902, HG Wells mengeluh bahwa kerah yang terbuat dari kain yang kaku membuat sakit leher dan meninggalkan bekas merah di bawah telinga. Konsep baju berkerah seperti buatan POLO, sebenarnya bentuk kerah yang terbalik. Pada 1929, René Lacoste menciptakan "kemeja tenis" dengan kerah terbalik untuk mencegah sengatan matahari pada leher.
Bra
Dulu, sebagian besar wanita tidak menggunakan bra dan tidak menganggap dibutuhkan pakaian pakaian khusus untuk menyangga payudara. Pakaian yang digunakan memiliki tugas ganda yaitu membuat payudara terlihat lebih baik dan menutupinya. Korset pun muncul dan mendominasi dunia pakaian dalam wanita selama berabad-abad. Korset pun dirancang untuk membuat tubuh wanita terlihat lebih kecil dan belahan payudara lebih menarik.
Pada pertengahan 1800-an beberapa visioner menciptakan prototipe bra tetapi tidak berkembang. Istilah bra sendiri berasal dari majalah Vogue yang menggunakan nama "brassiere" pada 1907. Lalu, untuk bentuk bra yang kita gunakan saat ini, ditemukan oleh seorang sosialita bernama Mary Phelps Jacob pada 1910.
Ia menciptakan bra karena saat itu ingin mendatangi sebuah pesta makan malam menggunakan gaun barunya. Gaun tersebut terbuat dari bahan ringan dan tipis. Korset yang tebal dan kaku membuat gaun tersebut terlihat tidak cantik. Jacob kemudian kesal dan melempar korsetnya, ia lalu mengambil dua sapu tangan tipis dan menambahkan pita untuk menutupi payudaranya. Teman-temannya kagum melihat penutup dada tersebut dan meminta Jacob untuk membuatkannya. Melihat peluang bisnis tersebut Jacob kemudian mengajukan permohonan paten untuk desain bra tersebut.
sumber: http://us.kosmo.vivanews.com/news/read/133598-sejarah_unik_pakaian
Label:
pakaian,
sejarah,
sejarah unik
Langganan:
Postingan (Atom)
