Blog yang memuat aneka tulisan tentang sejarah, khususnya sejarah Indonesia dan Melayu. Mudah-mudahan bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label prabu siliwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prabu siliwangi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Mei 2011
Sekilas Babad Rajagaluh
Konon dahulunya Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi.
Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya adalah agama Hindu.
Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ( Sunan Gunung Jati ) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh.
Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina.
Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh, begitupun sebaliknya.
Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta merta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Serta merta air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.
Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.
Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas ( Kandaga Mas ) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.
Saat mendekati wilayah Rajagaluh Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame.
Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.
Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana. Usai Nyi Ronggeng mempertunjukan kebolehannya. Tanpa diduga sebbelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng.Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajaknya Nyi Ronggeng masuk ke istana malahan beliau sampai mengajak tidur bersama.
Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil.
Dil luar Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut.
Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya, banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.
Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon).
Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok.
Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua.
Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.
Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.
WALLAHU A’LAM BISHSHOWAB.
sumber: http://rajagaluhundercover.blogspot.com/
Jumat, 08 April 2011
SRIBADUGA Maha Raja PRABU SILIWANGI
Tersebutlah seorang Raja di Bumi Jawa Barat yang namanya tetaplah legendaris hingga saat ini. Dan Raja itu bernama Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI. Berdasarkan Keterangan dari Prasasti Batu Tulis yang terdapat di Jalan Batu Tulis Bogor. Beliau memerintah Bumi Jawa Barat selama kurang lebih 39 tahun, terhitung sejak tahun 1482 hingga 1521 Masehi, dengan nama kerajaannya adalah Galuh Pakuan PADJAJARAN. Saat ini nama GALUH PAKUAN PADJAJARAN bekas nama Kerajaan Sunda yang dulu beliau pimpin itu, oleh pemerintah pusat tetaplah di abadikan dengan menjadikannya sebagai nama dari sebuah Universitas Negeri di kota Bandung yaitu Universitas PADJAJARAN dan juga Universitas PAKUAN Bogor. Dan bukan hanya itu saja kebesaran nama Prabu SILIWANGI pun di abadikan secara Monumental sebagai Simbol Perjuangan Rakyat Jawa Barat melalui Divisi SILIWANGI Tentara Nasional Indonesia Korps Angkatan Darat. Yang sekarang di sebut Kodam III SILIWANGI. Menurut para ahli sejarah di masa pemerintahan beliau Prabu SILIWANGI, jumlah populasi penduduk Ibu Kota PAKUAN Kerajaan PADJAJARAN Jawa Barat adalah kurang lebih 48.271 Jiwa. Dan menempati urutan no 2 terbanyak jumlah penduduknya dari seluruh jumlah penduduk yang tinggal di Ibu Kota - Ibu Kota Kerajaan di Nusantara. Sedangkan Kerajaan dengan jumlah populasi penduduk Ibu Kotanya menempati urutan Pertama sekaligus terbesar di Nusantara kala itu adalah Ibu Kota Trowulan MAJAPAHIT di Jawa Timur.Dengan jumlah penduduknya yaitu 49.197 Jiwa.
Di masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI 1482 - 1521 Masehi Kerajaan Galuh Pakuan PADJAJARAN mencapai puncak masa KEJAYAANNYA. Dengan Pelabuhan Niaganya SUNDA KELAPA serta wilayahnya yang meliputi seluruh Jawa Barat, Selat Sunda hingga Pegunungan Dieng Wonosobo Jawa Tengah. Kerajaan Galuh Pakuan PADJAJARAN menjadi sebuah negara yang sangat di perhitungkan oleh segenap Kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.Jadi tak heran jika di masa itu Pelabuhan Niaga SUNDA KELAPA yang kini merupakan salah satu pelabuhan kota JAKARTA, menjadi Pusat jalur lalu lintas PERDAGANGAN dan IMIGRASI berbagai Bangsa Asing dari Mancanegara ke Pulau JAWA. Pelabuhan-pelabuhan laut yang menjadi pusat perniagaan saat itu di antaranya adalah : Banten, Pontang, Cigede, Tamgara ( Muara Cisadane ), Sunda Kelapa ( Jakarta ), Karawang dan Muara Kali Cimanuk. Menurut catatan Tom Pires seorang Penjelajah berkebangsaan Portugis bersama 4 buah Kapal Dagang Portugis yang sedang berlabuh di pantai utara Jawa, lalu kemudian singgah di Padjajaran pada tahun 1513 Masehi. Mencatat bahwa : Kerajaan Sunda Padjajaran adalah Negeri para Ksatria sekaligus Pahlawan Laut, sebab para Pelautnya telah mampu berlayar ke berbagai negara mancanegara hingga sampai ke kepulauan Maladewa Srilangka. Dan kemudian Tom Pires pun mencatat bahwa komoditi perdagangan kerajaan Padjajaran yang terpenting adalah Beras mencapai 10 Jung pertahun, Lada 1000 bahar pertahun, mengekspor Kain Tenun ke kerajaan Malaka, Sayuran yang melimpah ruah, Daging serta Asam yang jika di gabung akan dapat untuk memuati lebih dari 1000 Kapal Dagang.
Berdasarkan catatan Tom Pires itu pula, beliau pun mencatat tentang keadaan Ibu Kota Pakuan Padjajaran. Dimana di katakan olehnya bahwa Rumah-rumah di Kota Pakuan Padjajaran sangatlah Indah dan Besar, terbuat dari Kayu dan Palem. Istana tempat tinggal Raja di kelilingi oleh 330 Tiang Pilar Kayu berukuran sebesar Tong Anggur dengan Tinggi 4 pathom atau sekitar 9 meter, di sertai berbagai ukiran Indah di atasnya. Tak lupa Tom Pires pun mencatat tentang pola perilaku masyarakat PADJAJARAN yang katanya adalah : Menarik, Ramah, Sopan, Jujur serta berbadan Tinggi Besar. Dan komentarnya pula tentang Sosok sang Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI di dalam bukunya “…THE KINGDOM Of SUNDA Is JUSSTTLY GOVERNED…” Tom Pires mengatakan bahwa : Sri Baduga Maharaja Prabu SILIWANGI adalah Sosok Seorang Raja Yang ADIL dan BIJAKSANA dalam memerintah segenap Rakyat Kerajaannya. Prabu SILIWANGI yang terlahir di Keraton SURAWISESA Kawali Ibu kota Kerajaan Galuh Sunda yang kini berada di daerah Ciamis Jawa barat itu adalah Putera dari Prabu Dewa Niskala, sedangkan Prabu Dewa Niskala adalah Putera dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang merupakan Anak Lelaki satu-satunya dari Prabu Lingga Buana. Jadi secara urutan garis silsilah Prabu SILIWANGI adalah Cucu dari Prabu Niskala Wastu Kencana sekaligus Cicit dari Prabu Lingga Buana sang Mokteng Bubat. Oleh Kakeknya yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana beliau di beri nama Sang PAMANAH RASA, sedangkan oleh Ayahandanya yaitu Prabu Dewa Niskala, beliau di beri nama Sang JAYA DEWATA.
Di usia remaja / masa mudanya Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA ternyata tumbuh menjadi seorang Pemuda Tampan dan Gagah yang lebih cendrung mewarisi karakter / sifat perilaku dari Kakeknya yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana, ketimbang ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA pun kemudian mengikuti jejak Sang Kakek yaitu gemar TIRAKAT / Lelaku PERIHATIN ( Pengendalian Diri ) serta menjadi Seorang Ksatria PENGEMBARA. Meskipun Ia adalah Seorang Putera Mahkota / Pangeran Kerajaan Galuh, namun Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA Muda tidaklah mau tinggal DIAM serta ASYIK terbuai oleh kehidupan MEWAH di ISTANA yang penuh Hidangan Nikmat serta pelayanan Gadis - gadis Cantik Dayang-dayang Istana. Ia pun kemudian pergi mengembara ke wilayah utara Jawa sampai ke Muara Jati Cirebon. Dan berkat Ketekunan serta Perjalanan Lelaku Prihatin / Tirakat Pengendalian Diri yang di mulai sejak masa Mudanya itulah, yang kemudian berhasil membentuk karakter Sang PAMANAH RASA / JAYA DEWATA Menjadi Seorang Raja yang ADIL, ARIF, BIJAKSANA serta berhasil mempersatukan seluruh wilayah Kerajaan Jawa Barat di bawah Panji-panji PADJAJARAN. Di mana Kemakmuran dan Kesentausaannya Tersiar Memancar ke seantero pelosok Bumi Nusantara dan Mancanegara. Sehingga pantaslah Beliau jika kemudian memperoleh Nama Gelar Kehormatan sebagai Sang Hyang Prabu SILIWANGI. Oleh karena Beliau memanglah teramat sangat di Cintai sekaligus di Hormati oleh segenap Anak Cucu Keturunan serta Rakyatnya hingga saat ini…”
Oleh : Albert Dody Richmant
sumber:http://penanusantara.wordpress.com/2010/12/07/sribaduga-maha-raja-prabu-siliwangi/
Label:
kerajaan padjadjaran,
prabu siliwangi,
sunda
Langganan:
Postingan (Atom)

