Kamis, 13 September 2012

Penyulingan Anggur Tertua

Sebuah tempat penyulingan anggur berusia ribuan tahun ditemukan di Armenia.

SEBUAH tim peneliti gabungan dari Amerika, Armenia, dan Irlandia menemukan sebuah tempat penyulingan anggur tertua di dunia di kompleks gua Areni-1 di desa Areni, di selatan Armenia. Penemuan itu diumumkan Journal of Archaeological Science, 11 Januari.

Di dalam gua, tim peneliti menemukan sebuah tong fermentasi dalam ukuran besar (dengan kedalaman 60 cm) terkubur di sisi baskom tanah liat dengan diameter satu meter yang biasa digunakan untuk menginjak-injak anggur. Selain itu mereka juga menemukan gelas-gelas anggur, buah, kulit, dan biji anggur yang sudah layu. Di gua yang sama pada Juni 2010 ditemukan sepatu kulit pertama di dunia yang diperkirakan berusia 5500 tahun.

“Ini bukti paling awal dan paling bisa diandalkan tentang (proses) produksi anggur. Untuk kali pertama, kita memperoleh gambaran arkeologis lengkap tentang (proses) produksi anggur dari 6100 tahun lalu,” kata Gregory Areshian, wakil ketua penggalian yang juga Asisten Direktur Cotsen Institute of Archaeology UCLA.

Sebelumnya, pada 1963, para arkeolog menemukan sebuah tempat penyulingan anggur kuno di West Bank, Palestina. Tempat itu diperkirakan dibangun pada 1650 SM. Sementara pada 1996, tim arkeolog yang dipimpin Patrick E. McGovern, ahli kimia arkeologi dari Museum University of Pennsylvania, menemukan sisa-sisa anggur berusia 7400 tahun di desa Neolitik Hajji Firuz, di pegunungan Zagros bagian Utara Iran. “Namun saat itu, kami hanya mengetahui jumlah kendi anggurnya. Temuan terbaru ini adalah tempat penyulingan anggur tertua yang pernah ditemukan,” ujar McGovern.

Untuk menguji apakah tong dan kendi di gua Areni-1 digunakan untuk menampung anggur, anggota tim menganalisis pecahannya dan menemukan pigmen tumbuhan yang disebut malvidin. Maldivin biasanya menyebabkan warna merah pada anggur dan buah delima.

“Malvidin adalah indikator kimiawi terbaik dari keberadaan anggur yang kami ketahui. Karena tak ada sisa-sisa buah delima di area penggalian, kami yakin tong itu digunakan untuk menampung sesuatu yang dibuat dari sari buah anggur,” kata Areshian.  

Tempat penyulingan anggur itu diperkirakan memproduksi anggur untuk tujuan ritual. Di dekat gua ditemukan setidaknya 20 makam dengan delapan jenazah, termasuk seorang anak, seorang perempuan, dan tulang-belulang seorang laki-laki tua. Dalam sebuah bejana keramik ditemukan juga tengkorak tiga remaja. Di dalam dan di dekat kuburan ditemukan gelas-gelas minuman. Menurut Areshian, bisa jadi anggur diminum untuk menghormati atau menenangkan arwah, atau dipercikkan pada makam-makam itu.

Gua yang memiliki beberapa ruangan itu diperkirakan dipakai untuk ritual bagi orang-orang dengan status sosial tinggi. Para arkeolog menemukan kendi-kendi besar berisi buah-buahan yang dikeringkan seperti anggur, prune, kenari, dan almond.

Menurut Mitchell S. Rothman, antropolog dan ahli Chalcolithic di Widener University yang tak terlibat dalam tim itu, saat itu industri dan teknologi sedang berkembang. Ada kecendrungan orang untuk membuat perbedaan sosial. “Ritual, dalam hal ini, tak hanya menjadi cara untuk memuja para dewa. Orang-orang yang terlibat di dalamnya juga menjadi orang-orang istimewa,” ujar Rothman.

Menurut The New York Times, temuan tempat penyulingan anggur dan artefak lain dalam gua yang sama memberikan gambaran cukup lengkap tentang kehidupan manusia di Zaman Perunggu –disebut juga masa Calcolithic– ketika manusia mulai menciptakan roda, beternak kuda, serta membuat alat-alat dari logam dan batu.

Menurut Areshian, penemuan ini menjadi penting karena menunjukkan inovasi sosial dan teknologi yang amat berarti bagi kalangan masyarakat prasejarah. Bentuk pertanian baru, yang jauh lebih canggih dari sebelumnya, terlihat dalam proses penanaman anggur.

“Masyarakat saat itu harus mempelajari dan memahami siklus pertumbuhan tanaman anggur. Mereka juga harus memahami seberapa banyak air yang diperlukan bagi tanaman, bagaimana mencegah jamur yang dapat merusak panen, dan bagaimana menangani lalat yang biasanya hidup di buah anggur,” ujar Areshian.

Areshian menambahkan, penemuan ini memberi informasi berharga tentang fase paling awal holtikultura (seni berkebun) di dunia –tentang bagaimana masyarakat masa itu membuat kebun buah dan anggur untuk kali pertama. 

“Dari perspektif ilmu gizi dan kuliner, proses pembuatan anggur menambah persediaan makanan, dengan memproses anggur liar yang asam dan sebelumnya tak bisa dimakan,” ujar Naomi Miller, arkeolog University of Pennsylvania.

“Dari perspektif sosial, baik atau buruk, minuman beralkohol mengubah cara kita berinteraksi di dalam masyarakat.” [National Geographic/NY Times/AFP]



View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 11 September 2012

Posisi Pandai Besi

Sumber: Repro Buku Keris Antik Wangkingan Kebo Hijau. Ilustrasi: Micha Rainer Pali.

ANN Dunham, antropolog Amerika Serikat dan ibu Presiden Amerika Barack Obama, terpaku heran melihat dua pembesar desa menunjukan sikap takzim pada perajin keris, Pak Djeno. Mereka berbicara dengan nada yang direndahkan. Kepala mereka seringkali menunduk ketika mendengar Pak Djeno berbicara. Tak seperti yang Ann kenal, sikap mereka berbeda; tak ada kelakar dan tawa dari mereka sebagaimana biasa. Dua pembesar itu menemani Ann yang sedang menyusun disertasi mengenai pandai besi di Indonesia. Pada 1988, Ann menyambangi desa di Sleman, Yogyakarta, untuk menambah bahan-bahan penulisan.

Sebelumnya, Ann tak tahu bahwa pandai besi memiliki posisi yang tinggi meski secara kelas sosial wong cilik. Dia baru tahu saat menatap rajah silsilah di dinding rumah Pak Djeno. Rajah itu menunjukan Pak Djeno sebagai generasi keempatbelas keturunan pandai besi Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Ann terkesiap. Di tengah rasa kejutnya, Ann disodorkan beberapa keris oleh Pak Djeno. Dia memutuskan membeli salah satunya. Sikap dua pembesar desa terhadap Ann pun berubah. Kejadian ini dia tuangkan dalam disertasinya yang telah dibukukan, Pendekar-Pendekar Besi Nusantara.

Pandai besi telah ada sejak berpuluh abad lampau. Menurut arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna, cukup banyak prasasti yang menyebut keberadaan mereka. Kala itu, mereka dikenal sebagai pandai wsi (besi).

Beberapa desa di Jawa Tengah seperti Tanggung dan Kedok dikenal sebagai asal pandai besi sedari abad ke-8. Mereka mengolah bijih besi yang terdapat di dekat tempat tinggalnya, terutama wilayah perbukitan. Dari sini terbentuk jejala industri besi rumah tangga. Di pasar, mereka menjual karyanya berupa pisau, parut, loyang, cetakan kue, dan alat-alat pertanian.      

Waktu itu, masyarakat Jawa menempatkan pandai besi pada posisi unik. Ada yang menganggap keahlian mereka tak lebih dari tukang sehingga status dan kelas sosialnya rendah. “Dalam beberapa naskah kesusastraan seperti Slokantara (abad ke-14) dan Agama Adigama, kelompok pandai dimasukkan ke dalam kelompok candala, yaitu kelompok masyarakat yang kedudukannya paling rendah,” tulis Titi.  

Naskah Tantri Kamandaka, yang ceritanya diabadikan dalam relief Candi Jago (abad ke-13) di Malang Jawa Timur, memuat hal-ihwal musabab masuknya pandai besi ke kelompok candala. Mulanya, seorang pandai besi terlibat pencurian. Seorang brahmana lalu menolongnya. Namun pandai besi itu bukannya berterimakasih, malah menimpakan tuduhan pencurian ke brahmana. Raja marah dan menghukum brahmana ke penjara. Beberapa lama, barulah raja tahu kisah sebenarnya. Brahmana dibebaskan dan pandai besi dijatuhi hukuman mati.

Di sisi lain, menurut Titi, pandai besi memiliki kedudukan penting dalam masyarakat. Keterangan itu antara lain tersua dalam salah satu prasasti masa Sindok (abad ke-9). Termaktub pula di dalamnya sebutan bagi mereka, ‘mpu’. Gelar ini tak mungkin disematkan jika mereka hanya menjadi kelompok rendahan.

Indolog CF Winter mengemukakan, kedudukan pandai besi dapat terlihat dalam penamaan Candi Prambanan. Dia menduga kata Prambanan berasal dari Parambanan atau Poerambanan, yang berarti empu Rombo atau Rombo sang pandai besi. Karena itu, dia berpendapat pandai besi berkedudukan tinggi. “Namun Winter tidak membahas hubungan yang barangkali cuma kebetulan belaka antara seorang pandai besi semacam itu dan candi dimaksud,” tulis Roy Joordan, “Candi Prambanan Sebuah Pendahuluan Mutakhir,” termuat dalam Memuji Prambanan.     

Sementara itu, menurut sejarawan Anthony Reid, keahlian mengolah besi dapat menjadi sarana penciptaan kekuasaan. “Pengerjaan barang-barang dari logam merupakan penciptaan kekuasaan, sebab alat-alat dari logam pertama-tama diperlukan untuk perang, baru sesudahnya untuk pertanian,” tulis Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga. Reid mencontohkan, cerita Ciung Wanara yang menyertakan pandai besi, dengan kekuatan magisnya, sebagai tokoh penting dalam perebutan tahta Kerajaan Galuh (abad ke-7-8).

Logam, khasnya besi, kerapkali dipandang sebagai simbol keteguhan dan kekuatan. Untuk mengolah besi, seseorang tak cukup hanya mempunyai keahlian kasar, tapi juga kehalusan batin agar besi tertempa sempurna. Tak heran, sebagian masyarakat kala itu menilai pandai besi menyimpan aura suci. Pada masa Majapahit, mereka dikumpulkan di ibukota untuk menjamin kekuatan perang balatentara Majapahit. Mereka dilindungi raja dan dijamin kesejahteraannya.

Ketika Majapahit perlahan runtuh, sebagian pandai besi memilih bertahan dan menurunkan keahliannya. Kelak, Kesultanan Demak dan Mataram menggunakan jasa mereka untuk memperkuat persenjataannya. Tak sedikit pula pandai besi yang menyebar ke wilayah pedesaan. Dua yang terkenal adalah kakak-adik, Empu Supo dan Empu Suro. Bersama pelarian lainnya, mereka menuju ke selatan lalu berhenti di sebuah hutan tak berpenghuni yang dirasa aman. Bangunan untuk tempat tinggal pun didirikan hingga tempat itu menjadi desa.

Empu Supo dan Empu Suro meneruskan usahanya membuat aneka pusaka besi seperti keris dan tombak. Pesanan mulai berdatangan. Penasaran, sejumlah orang segera mendatangi tempat itu yang kemudian disebut Kampung Pandean. Nama itu bertahan hingga sekarang untuk menyebut sebuah desa kecil di Umbulharjo, Yogyakarta. Keahlian mengolah besi pun lestari hingga kini pada segelintir penduduk. Beberapa di antaranya menisbatkan diri sebagai keturunan pandai besi zaman Majapahit. Status yang meninggikan mereka meski pekerjaannya dianggap kasar.



View the original article here



Peliculas Online

Sabtu, 08 September 2012

Perang Ayam

Di Bali, mengadu ayam pernah menjadi ritual keagamaan, perjudian, hingga simbol maskulinitas.

CLIFFORD Geertz tiba di sebuah desa kecil di Bali awal April 1958 bersama istrinya, Hildred Geertz. Sebagai antropolog, mereka bermaksud meneliti budaya dan masyarakat di sana. Pada hari ke-10 kunjungan, mereka pergi ke sudut desa yang tersembunyi. Di sana, puluhan orang telah berkumpul. Adu ayam tengah dihelat. Geertz dan istrinya menyaksikan dengan seksama. Tiba-tiba seseorang berteriak: “Polisi, polisi!” Orang-orang berlarian. Tak terkecuali Geertz dan istrinya.

Geertz menuangkan pengalamannya dalam karyanya “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfighting”, termuat dalam Intrepetation of Cultures. Karya itu mengupas aspek antropologis adu ayam (tajen) di Bali. Geertz mengungkapkan, bagi kebanyakan lelaki Bali, tajen menjadi simbol maskulinitas. “Pada arena adu ayam, yang terlihat bertarung memang ayam, tapi ayam-ayam tersebut merupakan perwakilan dari kaum pria di Bali,” tulis Geertz. Namun polisi beranggapan lain. Tajen adalah judi. Kriminal. Jauh dari tujuan awalnya.

Dalam rentang sejarah Bali, adu ayam tercatat dipraktikan masyarakat Bali sejak abad ke-10. Prasasti Sukawana memuat keterangan ritual keagamaan (yadnya) yang mendasari tajen. Selanjutnya, dalam Prasasti Batur Abang (1011) terjabar keterangan terkait tajen. Menurut Andrik Hendrianto dalam “Perjudian Sabung Ayam di Bali”, tesis pada Universitas Indonesia, adu ayam tak memerlukan izin dari pihak berwenang seperti raja. Namun ritual ini tak boleh dilakukan serampangan. 

Kala itu, masyarakat memasang taji (tajen) atau benda tajam di kaki salah satu ayam jantan yang diadu. Untuk ayam lainnya hanya dipasangkan bambu atau kayu di kakinya. Pertarungan ayam dalam ritual itu disebut perang seta. Tujuannya agar ada ayam yang mati sehingga darahnya membasahi bumi.

Darah itu lalu dicampur dengan tiga macam cairan berwarna: putih (tuak), kuning (arak), dan hitam (berem). Percampuran ini sebagai simbol pengingat agar umat manusia menjaga keseimbangan bhuwana alit (manusia) dengan bhuwana agung (semesta). Ritual keagamaan ini disebut tabuh rah.

Adu ayam dalam Tabuh rah bukanlah tujuan utama. Adu ayam hanya menjadi salah satu cara menabuhkan (menuangkan) darah ayam. Dengan demikian, ayam sejatinya tak diadu sungguh-sungguh. Tabuh rah bisa dilaksanakan tanpa mengadu ayam. Sebagai gantinya, orang bisa langsung menyembelih ayamnya. Keterangan ini termuat dalam Prasasti Batuan (1022).

Meski di pedesaan adu ayam ditujukan sebagai ritual keagamaan, raja-raja di Bali memiliki hak istimewa menggelar adu ayam tanpa tujuan sakral. “Di pusat-pusat istana, hal itu merupakan hak istimewa raja sebagaimana acara-acara adu hewan lainnya,” tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga. Mereka menghelat adu ayam untuk kesenangan pribadi –seringkali dengan bertaruh sesuatu– dan simbol kebesaran raja. Tak heran, ayam menjadi hewan kegemaran raja-raja di Bali. Keadaan seperti ini berlangsung pula di luar Bali, terutama di Jawa.

Di Jawa, adu ayam dapat dilacak melalui kisah-kisah sastra yang mengambil latar masa Kerajaan Jenggala (1042). Menurut Mariana Anggraeni dalam skripsinya pada Universitas Indonesia, “Hakikat dan Fungsi Permainan Sabung Ayam dalam Serat Jago”, kisah yang tersohor mengenai adu ayam dapat ditemukan dalam kisah Cindelaras.

Cerita Cindelaras menceritakan anak yang dibuang bersama ibunya ke dalam hutan. Ketika besar, dia ingin membuktikan bahwa dia anak raja terdahulu. Raja yang berkuasa, Raden Putra, tak lantas percaya. Raja mengajak Cindelaras mengadu ayam. Jika Cindelaras menang, barulah raja percaya. Sedangkan jika raja menang, Cindelaras harus dipancung.

Cindelaras tak keberatan. Keduanya mengadu ayam terbaiknya. Kala itu, tak sembarang orang bisa mempunyai ayam terbaik. Usai pertarungan, ayam Cindelaras keluar sebagai pemenang. Raja pun percaya. Kisah ini menggambarkan pertaruhan manusia. Ada yang dipertaruhkan dalam adu ayam di Jawa sejak berabad-abad silam. Lebih jauh, adu ayam masih menjadi permainan terbatas untuk kalangan raja dan orang tertentu.

Ketika kendali kerajaan-kerajaan di Bali dan Jawa mengendur akibat invasi Eropa, adu ayam mulai digemari masyarakat. Raja, bangsawan, dan kaum agamawan tak lagi memegang hak eksklusif atas adu ayam. “Pengawasan atas acara-acara demikian, oleh kerajaan, mungkin telah mengendur pada abad ke-18,” tulis Anthony Reid. Hingga seabad kemudian, adu ayam menjadi permainan rakyat dengan dibalut perjudian.

Catatan R. Friedrich, seorang cendekiawan Jerman yang mengunjungi Bali dalam 1846, agak berbeda. Dia menyatakan adu ayam masih merupakan bagian dari upacara keagamaan. “Selain perayaan-perayaan, ada juga adu ayam jantan yang tidak hanya dianggap sebagai hiburan oleh masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari upacara keagamaan,” tulis Friedrich dalam “Hindu Bali”, termuat dalam Bali Tempo Doeloe.

Memasuki 1900-an, unsur ritual keagamaan dalam adu ayam meluntur. Sebaliknya, sifat profannya menguat lantaran banyaknya masyarakat yang bertaruh. Acara ini tak lagi digelar di tempat umum atau sakral, melainkan di tempat-tempat tersembunyi. Pemerintah kolonial segera melarang adu ayam kecuali yang berizin dan ditujukan sebagai ritual keagamaan. Istilah sabung pun mulai muncul menggantikan perang seta. Sabung berarti pahlawan, jejaka, atau pemenang.

Louis Coperus, penulis novel terkenal De Stille Kracht (Kekuatan Tersembunyi), menggambarkan keadaan kacau tersebut pada 1921. “Pertarungan ini menjadi ajang perjudian yang melibatkan uang yang jumlahnya tentu saja tidak sedikit. Mata uang yang dipertaruhkan adalah ‘dollar’ alias koin yang umum dipakai di Bali pada masa itu.”

Setelah kemerdekaan, larangan terhadap sabung ayam dipertahankan. Polisi gencar melakukan razia para penjudi sabung ayam seperti diceritakan Geertz.



View the original article here



Peliculas Online

Jumat, 07 September 2012

Masa Gemilang Pattimang

Foto: Eko Rusdianto. Ilustrasi: Micha Rainer Pali

DESA Pattimang sedang bersolek. Gerbang utama kompleks situs pemakaman Datu Sulaiman dan Andi Patiware dicat ulang. Di kiri-kanan jalan dihiasi walasuji atau bambu yang dirajut dengan indah, hingga terlihat seperti pagar. Di depan gerbang utama itu, penduduk mendirikan bangunan dari atap daun sagu, seakan membungkus badan jalan, sebagai tempat melakukan manre sappera atau makan bersama sepanjang 1 kilometer.

Persiapan melakukan hajatan manre sappera itu berlangsung selama seminggu. Menghidangkan sekitar 110 jenis makanan tradisional dan dihadiri puluhan raja dari se-Nusantara.

Manre saperra merupakan ritual Datu Luwu untuk menunjukkan ikatan batin bersama rakyatnya. Makanan akan dihidangkan di atas kain putih panjang yang bersih sebagai wujud kebersihan hati dan kepudulian raja dan rakyat. Dan sebagai wujud tanggung jawab, Datu Luwu-lah yang kali pertama menyantap makanan namun paling terakhir disuguhi makanan.

Pemilihan lokasi di desa Pattimang, yang terletak 30 kilometer dari pusat kota kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan ini, bukanlah secara kebetulan. Ada pertimbangan sejarah dan budaya. Di Pattimang, ketika dipimpin Andi Patiware, Luwu mencapai puncak kejayaan.

Saat itu, Luwu memindahkan pusat kerajaan dari Ussu ke Pattimang pada abad ke-15. Pattimang merupakan daerah subur. Potensi pertaniannya berupa sagu sebagai makanan utama bisa menopang populasi besar. Sementara persediaan besi, emas, dan hasil alam dari hutan pedalaman  mudah dikapalkan melalui Sungai Baebunta dan Sungai Rongkong. Bahkan di sana ada industri senjata besi dan alat-alat pertanian. Pelabuhan utama di Cappasolo dibangun begitu megah, sehingga bisa dilalui kapal-kapal dengan tonase besar. Pengaruh Luwu begitu luas hingga kerajaan Wajo dan bahkan Bantaeng. Kerajaan Gowa dan Bone bersusah-payah keluar dari pengaruhnya.

Laporan arkeologis dari proyek OXIS (Origin of Complex Society in South Sulawesi) yang dilakukan arkeolog Universitas Hasanuddin Iwan Sumantri bersama David F Bullbeck (Australian National University) dan Bagyo Prasetyo (Pusat Penelitian Arkelogi Nasional) tahun 1998, kemudian dirangkum dalam buku Kedatuan Luwu, menyatakan bila pusat kerajaan masa itu sangat gemilang. OXIS menggambarkannya dari rumah raja yang begitu mewah dan anggun. Ini diperkuat dari hasil penggalian di Pattimang yang menemukan sebuah lubang pancang (post holes) untuk tiang rumah besar dengan panjang sekitar 5 meter.

“Saya kira itu sesuai dengan cerita dan tradisi lisan masyarakat Luwu kalau rumah itu sangat besar,” kata Iwan Sumantri. “Penggambaran mereka, kalau ada seekor anak ayam naik ke tangga rumah kerajaan, saat ayam itu turun tajinya sudah tumbuh panjang.”

Memasuki abad ke-16, muncul konflik di beberapa wilayah. Kerajaan-kerajaan yang berada dalam koloni dan bawahan Luwu mulai unjuk kekuatan. Christian Pelras dalam The Bugis menulis periode pertama kemunduran Luwu dimulai ketika memasuki 1500-1530. Wajo menyerang Luwu. Sebagai akibatnya, Luwu akhirnya mengakui Wajo sebagai “adik”, bukan lagi sebagai ata’ atau bawahan.

Di sisi lain Bone dan Gowa tumbuh sebagai kekuatan baru. Luwu meminta bantuan kerajaan Wajo untuk menyerang Bone, yang berakhir kekalahan. Payung kebesaran sebagai panji-panji kerajaan Luwu dan kebanggaan kerajaan ditahan oleh Bone. Supremasi Luwu benar-benar meredup.

Pada 1535 Gowa-Tallo secara mengejutkan menundukkan Bone. Mereka kemudian menyerang Luwu tepat di jantungya, yang membuat Luwu bertekuk lutut dan terpaksa menandatangani perjanjian dan pengakuan kekalahan dari Gowa.

Pada abad ke-17 dermaga utama di Cappasolo menjadi sepi. Pusat kerajaan Luwu berpindah dari Pattimang ke Ware (sekarang Palopo). Saat itu Luwu dikenal sebagai daerah netral karena menghindari perselisihan dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Secara spiritual, selama beberapa abad, Luwu yang sudah kehilangan wilayah kekuasaan dan pengaruhnya di Sulawesi Selatan tetap dianggap sebagai kerajaan mulia. Posisinya sebagai kerajaan pertama dan pusat mitos yang dikisahkan dalam epik I La Galigo memberinya peruntungan.

Ketika Abdul Makmur (Dato ri’ Bandang), Sulaiman (Dato ri’ Pattimang), dan Abdul Jawad (Dato ri’ Ditiro) –ketiganya orang Minangkabau yang belajar agama di Aceh– menyebarkan Islam atas perintah Sultan Johor, dakwah mereka mengalami pertentangan di Makassar. Akhirnya mereka menuju Luwu dan mengislamkan Andi Patiware pada 5 Februari 1605. Salah satu kronik Wajo mencatat bila para penyebar agama Islam menuju Luwu karena mengetahui kemuliaan yang sebenarnya berada di Luwu, meski kekuasaan berada di Gowa. 

Tapi kedamaian tersebut tak bertahan lama. Pada Oktober 1905 Belanda memasuki Palopo. Belanda akan membatalkan segala kebijakan istana yang merugikan mereka dan mewajibkan kerajaan memberikan hasil pajak. Sejak itu, Kerajaan Luwu seolah menghilang dari kancah politik di Sulawesi Selatan hingga menjelang 1930-an muncul seorang pemuda bernama Andi Djemma, Datu Luwu ke-29, yang melakukan perlawanan.

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Andi Djemma membentuk Gerakan Sukarno Muda. Karena desakan Belanda, dia meninggalkan istana. Di Cappasolo, bersama Tentara Keamanan Rakyat yang hanya mengandalkan persenjataan minim, dia memimpin perang gerilya pada 23 Januari 1946, yang kemudian dikenang sebagai Hari Perlawanan Semesta Rakyat Luwu. Setelah sempat bersembunyi di Benteng Batu Putih, Sulawesi Tenggara, dia terpaksa menyerah dan diasingkan ke Ternate.

Budayawan Luwu, Anthon Andi Pangerang, mengatakan bila perayaan manre sappera untuk mengenang Andi Djemma sebagai wujud kecintaan dan pejuangannya kepada Indonesia. Nasar itu diucapkan di Cappasolo di masa revolusi bahwa jika Indonesia benar-benar merdeka, dia akan menggelar hajatan itu.

“Ini adalah cita-cita besar dan kami sebagai masyarakat Luwu, memiliki kewajiban untuk menunaikannya,” kata Anthon.

Setelah acara rampung Pattimang akan kembali sepi. Termpatnya memang terpencil. Akses kendaraan umum hanya sekali sehari. Kebesaran yang nyata dalam bentuk fisik di Pattimang hanya tersisa nisan makam Datu Sulaiman dan Andi Patiware yang terbungkus kain putih. Relif dan ukiran-ukirannya sudah tak tampak lagi. Ketika saya sedikit menyingkap kain itu, terlihat beberapa bekas pecahan.



View the original article here



Peliculas Online

Rabu, 05 September 2012

Memperebutkan Sang Ratu

Patung Ratu Mesir Nefertiti menjadi sumber perselisihan Jerman dan Mesir selama puluhan tahun. 

UNTUK kali kesekian Mesir meminta Jerman untuk mengembalikan patung Ratu Nefertiti berusia 3.400 tahun yang sejak 1913 berada di tangan Jerman. Patung itu ditemukan pada 1912 oleh arkeolog Jerman Ludwig Borchardt dalam sebuah penggalian di Mesir.

Ketua Dewan Agung Benda-benda Antik Mesir Zahi Hawass mengirimkan “permintaan resmi” kepada Ketua Yayasan Warisan Budaya Prusia Herman Parzinger di Berlin, 22 Januari lalu. Sebagaimana ditulis AFP, “permintaan resmi” itu didukung oleh Perdana Mesir Mesir Ahmed Nazif dan Menteri Kebudayaan Faruq Hosni.

Namun pemerintah Jerman, yang selalu menolak mengembalikan patung itu, bergeming.

“Permintaan itu bukan permintaan resmi. Permintaan resmi adalah sebuah permintaan yang dilayangkan pemerintah sebuah negara kepada pemerintah negara lainnya,” ujar jurubicara Kementerian Luar Negeri Jerman Andreas Peschke dalam sebuah rapat rutin pemerintah di Berlin. Dia menambahkan posisi Jerman “tak berubah dan tak baru.”

Yayasan Warisan Budaya Prusia membenarkan bahwa Prazinger menerima surat dari Hawass. Namun mereka juga mengatakan bahwa surat tersebut tak ditandatangani perdana menteri dan “bukan permintaan resmi dari Mesir.”

Mereka menambahkan, berdasarkan perjanjian pada 1912, artefak-artefak yang ditemukan dalam penggalian disusun dan difoto sebagaimana mestinya, menunjukkan secara jelas “keindahan dan kualitas” benda-benda itu, kemudian dibagi rata antara Jerman dan Mesir.

“Selain itu, benda-benda itu ditempatkan dalam kotak-kotak terbuka agar bisa diperiksa. Tak sewajarnya mengatakan ada pihak yang ditipu dalam masalah ini,” tulis Yayasan dalam sebuah pernyatan.

Nefertiti adalah permaisuri Raja Akhetanon yang hidup pada 1370-1330 SM. Bersama sang raja, Nefertiti dikenal karena keberhasilannya mengubah agama Mesir menjadi agama monoteis yang hanya memuja dewa matahari, Aton. Patung Nefertiti yang saat ini tersimpan di Neues Museum di Berlin menjadi salah satu ikon budaya penting bagi kota Berlin maupun Mesir Kuno.

Bloomberg.com menulis Mesir kali pertama meminta Jerman mengembalikan patung itu pada 1925. Jerman setuju mengembalikannya pada 1935 sebelum Adolf Hitler memutuskan patung itu tetap menjadi milik Jerman.

Berkali-kali Mesir meminta namun permintaan itu selalu ditampik Jerman dengan alasan patung itu diperoleh secara legal dan banyak dokumen yang bisa membuktikannya.

Pada 2009, misalnya, Mesir kembali melancarkan tuntutan. Muncul dokumen yang menunjukkan kemungkinan Ludwig Borchardt tak mengemukakan kepada para ahli Mesir tentang nilai sesungguhnya dari patung Nefertiti itu.

Spiegel Online pada Februari 2009 mengutip laporan Sekretaris Institut Oriental Jerman pada 1924 yang mencatat sebuah pertemuan antara Ludwig Borchardt dengan seorang pejabat senior Mesir. Dalam pertemuan itu kedua pihak sepakat membagi rata benda-benda antik hasil temuan tim Borchardt. Namun dalam memonya, sang sekertaris melaporkan bahwa Borhardt “ingin menyelamatkan patung itu untuk Jerman.”

Saat pejabat Mesir, Inspektur Benda-benda Antik Gustave Lefébvre memeriksa temuan tim Borchardt, patung tersebut dibungkus dalam sebuah kotak dan ditempatkan dalam ruang dengan cahaya temaram. Borchardt kemudian menunjukkan sebuah foto dan mengatakan kepada Lefébvre bahwa patung itu terbuat dari gipsum, padahal sebenarnya terbuat dari batu kapur.

Tak dijelaskan apakah Lefébvre mengangkat kotak tersebut untuk memeriksanya lebih seksama. Tapi menurut keterangan sang sekertaris, yang menyaksikan proses pembagian, “telah terjadi penipuan” karena pihak Jerman (dengan sengaja) melakukan minstintrepretasi bahan.

Yayasan Warisan Kebudayaan Prusia menolak anggapan itu. Dalam sebuah pernyataan pada 2009 pihak yayasan menyatakan Lefébvre-lah yang menafikkan arti penting artefak tersebut.

Institut Oriental Jerman mengakui keberadaan dokumen tersebut tapi juga menekankan bahwa tak ada aturan yang dilanggar. Sebagaimana dikatakan seorang jurubicaranya kepada Der Spiegel, “Nefertiti ada di urutan atas daftar pembagian. Orang yang memeriksanya seharusnya bisa melakukannya dengan lebih seksama… tuntutan terhadap persetujuan yang dicapai saat itu sungguh tak dapat diterima.” [AFP/ Der Spiegel/Bloomberg]



View the original article here



Peliculas Online

Senin, 03 September 2012

Para Prajurit Janda

Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I. Ilustrasi: Micha Rainer Pali

KESULTANAN Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh.

Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh.

Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.”

Bersandar kepada catatan yang ditemukannya, Dudley tak menampik peran perempuan dalam perang. Sebab, selama ini, kiprah prajurit perempuan dalam sejarah Indonesia lebih banyak bersandar pada mitos, bukan catatan sejarah. Dudley mengakui hal itu lantaran kurangnya sumber tulisan tepercaya tentang riwayat perempuan-perempuan Aceh. Dalam makalahnya, Dudley menggambarkan mereka “bertarung dengan berjalan kaki dan menunggang kuda atau gajah.” Namun, Dudley tak menerangkan dari mana keahlian itu diperoleh.

Keahlian perempuan Aceh berperang tersemai berkat pelatihan di akademi militer Kesultanan Aceh, Baital Makdis. Pendirian akademi ini tak terlepas dari bantuan Kesultanan Turki Usmani. Dua kesultanan ini merenda hubungan baik sejak paruh pertama abad ke-16, sehingga kemungkinan akademi itu didirikan pada kurun yang sama.

Walau tak menyebut kurikulum dan kapan pendiriannya, Ismail Hakki Goksoy, dalam “Ottoman-Aceh Relations According to the Turkish Sources”, makalah pada First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies, mencatat Aceh merekrut ahli militer dan pembuat senapan sejak 1530-an. Dia juga menyebut akademi ini meluluskan seorang perempuan Aceh, Kumalahayati.

Kumalahayati menjadi laksamana perempuan pertama saat Aceh berada di bawah kuasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukamil (1589-1604), yang menyerang Portugis di Teluk Aru, dekat Langkat. Tugas Kumalahayati adalah menghadang serangan Portugis setelah peperangan di Teluk Aru. Dia lalu membentuk kesatuan tentara perempuan bernama Inong Balee. Kesatuan ini terdiri dari sekira seribu janda prajurit Aceh yang gugur dalam perang itu.

Kumalahayati salah satu janda tersebut. Meski sedih, dia tak terus meratap; sebab perang belum berakhir. Armada Portugis masih berhimpun di Malaka untuk membalas serangan di Teluk Aru. Dia tak mau kematian suaminya sia-sia. Demi cintanya pada suami, Kumalahayati berlakon sebagai panglima dan jurulatih janda-janda itu.

Teluk Krueng Raya terpilih sebagai markas mereka. Di sana, mereka dilatih mengangkat busur, memegang senapan, menunggang kuda, mengendalikan gajah, dan, tak kalah penting, mengobarkan semangat cinta pada suami sebagai bekal berperang. Selain itu, markas mereka dilengkapi dengan kapal-kapal perang dan meriam.

Peran perempuan dalam kemiliteran Aceh tak terbatas pada pasukan perang. Sultan Muda Ali Riayat Syah V (1604-1607) dikelilingi oleh pasukan pengawal perempuan yang disebut Sukey Inong Kaway. Berbeda dari Inong Balee, anggota pasukan ini terdiri dari perempuan bersuami dan perawan. Mereka dipercayakan menjaga istana putri. Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga, melihat gejala ini sebagai ketidakpercayaan sultan terhadap penjaga lelaki. Reid menyebut, “Pola ini tampaknya bersumber dari ketidakpercayaan yang dirasakan oleh kalangan raja terhadap setiap lelaki yang mendekati tempat tinggal putri-putri istana.”

Kepercayaan sultan-sultan Aceh pada prajurit perempuannya semakin terbukti dengan pengembangan Inong Balee. Iskandar Muda (1607-1636), sultan Aceh termashyur, mengambil sebagian anggota Inong Balee untuk masuk ke Kemala Cahaya, pengawal kehormatan istana. Sebagian besar adalah perempuan-perempuan berparas cantik. Mereka bertugas menerima tamu-tamu agung sultan. Menurut Ann Kumar, dalam Prajurit Perempuan Jawa, mengutip catatan Peter Mundy, pengelana Inggris yang melawat ke Aceh pada 1637, “para pengawal perempuan berjalan sambil mengusung panah dan busur.”

Menurut A. Hasjmy dalam 59 Tahun Aceh Merdeka, seusai masa Iskandar Muda, prajurit perempuan Aceh terus dibina oleh Sultanah Safiatuddin (1641-1675). Inong Balee, misalnya, tak lagi hanya berisi janda tapi juga perempuan bersuami atau masih gadis. Meski Kesultanan Aceh mengalami kemunduran jelang abad ke-18, peran prajurit perempuan Aceh tak lantas mengendur. Lawan Aceh, Portugis, yang juga mengalami kemunduran, digantikan oleh Belanda. Belanda harus mengalami perang serupa Portugis: menghadapi prajurit perempuan.

Hingga paruh pertama abad ke-20, kiprah perempuan Aceh dalam militer masih tersua. Beberapa nama kesatuan prajurit perempuan bisa disebut, semisal Sukey Fakinah pada akhir abad ke-19 dan Resimen Pocut Baren pada 1945. Dari epos panjang prajurit perempuan Aceh itu, keperkasaan tokoh-tokoh masyhur seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia dapat terlacak.



View the original article here



Peliculas Online

Sabtu, 01 September 2012

Menyibak Subak

Subak tak semata aktivitas bertaut ekonomi, tapi juga sosial, hukum, dan agama.

KABAR gembira datang dari UNESCO, badan PBB yang menangani pendidikan dan kebudayaan. UNESCO menetapkan subak (organisasi pembagian air) dari Bali sebagai warisan budaya dunia. Keputusan ini menambah panjang daftar warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, UNESCO mengakui keris, Candi Prambanan, angklung, dan karinding sebagai warisan budaya dunia.     

Kemunculan subak tak terlepas dari sistem pertanian yang diterapkan masyarakat Bali sejak berabad-abad lampau.

Beberapa arkeolog meyakini masyarakat Bali mengenal pertanian sejak awal abad masehi. Keyakinan itu berdasarkan temuan alat-alat pertanian kuno di Desa Sembiran, salah satu desa tertua di Bali, yang digunakan untuk menanam padi. Tapi para arkeolog belum mampu menjabarkan cara bertani dan irigasi masyarakat kala itu. “Hanya sebatas alat dan tanamannya saja informasi yang diketahui mengenai awal pertanian kuno di Bali,” tulis Ketut Setiawan dalam Subak, tesisnya pada Universitas Indonesia.

Keterangan tertulis mengenai praktik bertani masyarakat Bali kali pertama tersua dalam Prasasti Sukawarna yang bertitimangsa 882. “Di dalam prasasti itu ada kata ‘huma’ yang berarti sawah. Orang Bali sampai sekarang menggunakannya untuk menyebut sawah,” tulis Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali. Kata “huma” kala itu lazim digunakan untuk menyebut sawah irigasi. Meski begitu, belum ada keterangan bagaimana pengelolaan irigasi pertanian.

Keterangan lebih jelas mengenai pengelolaan irigasi termuat dalam Prasasti Trunyan (891). Dalam prasasti itu tersua kata “serdanu” yang berarti kepala urusan air danau. Itu berarti masyarakat Bali mengenal sebentuk cara mengelola irigasi pada akhir abad ke-9. Tak heran Raharjo berkesimpulan bahwa masa ini dianggap sebagai awal kemunculan subak meski kata tersebut belum dikenal.

Kesimpulan ini diperkuat Prasasti Bebetin (896) yang ditemukan di Buleleng dan Prasasti Batuan (1022). Raharjo menulis, “Dua prasasti itu menjelaskan ada tiga kelompok pekerja khusus sawah, salah satunya ahli pembuat terowongan air yang disebut undagi pangarung.” Pekerja ini biasa dipakai dalam subak masa modern.

Kata subak dinilai sebagai bentuk modern dari kata suwak. Suwak ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Menurut Setiawan, suwak berasal dari dua kata, “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan. Dengan demikian, suwak dapat diartikan sebagai sistem pengairan yang baik. Suwak itu telah berjalan di wilayah Klungkung. Wilayah yang mendapat pengairan yang baik disebut Kasuwakan Rawas. Penamaan itu tergantung pada nama desa terdekat, sumber air, atau bangunan keagamaan setempat.

Pembentukan kasuwakan tak lepas dari pengaruh agama Hindu yang dianut masyarakat setempat. Agama Hindu di Bali kala itu mengenal konsep Tri Hita Karana yang merumuskan kebahagiaan manusia. Pencapaian kebahagiaan hanya bisa tercapai melalui harmonisasi tiga unsur: parahyangan (ketuhanan), pawongan (manusia), dan palemahan (alam). Masyarakat percaya bahwa mereka harus bekerja mengolah tanah dan air, tapi kepemilikan dua unsur tersebut sejatinya berada di tangan dewa-dewi.

Karena itu masyarakat harus menjaga tanah dan air agar tetap berlimpah. Penguasaan dan keserakahan atas tanah dan air tak dapat dibenarkan. Jika melanggarnya, sanksi pengucilan bisa menimpanya. Konsep ini mewujud dalam kasuwakan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberlimpahan tanah dan air, masyarakat mendirikan beberapa bangunan keagamaan seperti pura dan candi di dekat sawah. Beberapa pura bertitimangsa abad ke-9 ditemukan di beberapa sawah. Pura itu dipersembahkan kepada Dewi Sri (dewi pertanian dan kesuburan).

Ketika Majapahit menduduki beberapa kerajaan kecil di Bali pada abad ke-14, kasuwakan tak mengalami perubahan berarti. Padahal Majapahit tersohor punya sistem irigasi sawah sendiri, yang mengatur pembagian air untuk persawahan. Masyarakat Bali tetap menggunakan sistem pembagian air yang telah terbentuk tanpa campurtangan kerajaan Bali sekalipun. Dengan demikian, kasuwakan merupakan organisasi otonom di dalam desa atau banjar. Mereka mempunyai ketua (serdanu atau pekaseh), anggota, dan aturan (awig-awig) masing-masing.

Memasuki masa invasi Belanda di Nusantara, sistem ini tak tergoyahkan. Ketika daerah lain di Pulau Jawa takluk, kerajaan-kerajaan di Bali tetap merdeka. Keadaan ini ikut membantu suwak tetap bertahan. Beberapa penjelajah asing yang datang ke Bali justru memberikan pujian terhadap suwak. Alfred Russel Wallace, seorang naturalis tersohor dunia Timur, takjub dengan sistem irigasi di Bali. “Terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di Eropa,” tulis Wallace dalam catatan hariannya ketika mengunjungi Bali pada 1856, dimuat dalam Bali Tempo Doeloe.

Pada abad ke-20, pemerintah kolonial ikut mendorong perkembangan subak. Mereka membangun bendungan-bendungan seperti Dam Pejeng (1914), Dam Mambal (1924), Dam Oongan (1925), dan Dam Sidembuntut (1926). Mereka ingin hasil sawah meningkat. Mereka tak mencampuri aturan-aturan internal subak.

Keberhasilan subak dalam panen terbukti melalui statistik hasil pertanian 1934-1981 yang dikeluarkan IPB. Bali selalu menempati posisi di atas Jawa dan Madura untuk hasil panen nasional. Keberhasilan itu mendorong pemerintah daerah membangun museum subak pada 1981. Turis di Bali pun mulai tertarik mengenal subak. Sayangnya, campurtangan pemerintah terhadap subak sejak 1981 sempat menurunkan hasil panen. Meski demikian, subak tetap terbukti mampu memberikan andil pada hasil panen dan kunjungan wisatawan di Bali. Lebih dari itu, subak tak sekadar praktik ekonomi, tapi juga sosial, hukum, dan agama.



View the original article here



Peliculas Online