Kamis, 30 Agustus 2012

Pengobatan Nusantara

Sumber: Sumatera Tempo Doeloe, dari Marco Polo sampai Tan Malaka karya Anthony Reid. Ilustrasi: Micha Rainer Pali.

KEBERLIMPAHAN flora Hindia Timur menarik minat VOC (Vereenigde Oostindische Campaignie) untuk melakukan kajian botani sejak abad ke-17. Kajian ini dimulai bersamaan penjelajahan mereka ke Hindia Timur. Kajian botani penting bagi VOC untuk menggerakkan roda ekonomi perusahaan.

Melalui kajian itu, mereka mengetahui tetanaman yang aman dikonsumsi dan laku di pasaran. Selain itu, mereka harus mengenal tetanaman oba sebagai obat penyakit khas di kepulauan Asia Tenggara, yang jelas berbeda dari penyakit di Eropa.    

Dalam “The Making and Unmaking of Tropical Science: Dutch Research on Indonesia 1600-2000” Journal KITLV, Vol. 162 No. 2 (2006), Peter Boomgard, peneliti senior di KITLV, menyebut Georg Everhard Rumpf, seorang naturalis Jerman, sebagai peneliti botani tersohor. Dia bertugas untuk VOC pada paruh kedua abad ke-17. VOC membiayai aktivitas kajian botaninya selama di Ambon. “Dia menjelaskan penggunaan tetanaman yang berguna bagi manusia, termasuk untuk pengobatan,” tulis Boomgard.

Rumpf dibantu Susanna, seorang penduduk lokal. Hanya sebatas itu keterangan mengenainya. Bantuan penduduk lokal dibutuhkan para peneliti botani Eropa, sebab mereka lebih mengenal tetanaman di Hindia Timur. Tapi keterangan mengenai mereka sangat sedikit. Padahal pengetahuan mereka terhadap tetanaman obat dikenal orang Eropa. Tetanaman obat itu mereka racik tanpa tambahan bahan kimia hingga menjadi ramuan pengobatan atau jamu. Ini menarik minat orang Eropa.

“Orang Eropa juga tertarik dengan pengobatan Timur, sebagai contohnya adalah Rumpf dengan karyanya Herbarium Amboinense,” tulis Peter Boomgard dalam “The Development of Colonial Health Care In Java”, Jurnal KITLV Vol. 149 No. 1 (1993). Catatan Christoforo Borii pada 1633 memperkuat argumentasi Boomgard. Borii menulis, “Obat-obatan mereka tidak mengubah alam, tapi membantunya dalam fungsi alamiahnya, mengeringkan cairan yang menyakitkan, tanpa menyusahkan orang yang sakit sama sekali,” demikian dikutip Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga. John Crawfurd, pelancong dari Skotlandia, menegaskannya dua abad kemudian. Dia mengakui obat-obatan di Hindia Timur tak berbahaya.

Kekaguman orang Eropa terhadap pengobatan Timur bukan tanpa cela. Mereka tetap menganggap pengobatan Timur tak masuk akal, lebih pada praktik perdukunan dengan penggunaan mantra dan jimat. Menurut mereka, penduduk lokal juga tak punya pengetahuan memadai tentang anatomi tubuh manusia, yang sudah berkembang di Eropa. Karenanya beberapa kerajaan lokal, Mataram misalnya, pernah mempekerjakan ahli bedah VOC pada 1677.

Penduduk lokal belum mengenal pembedahan yang datang dari Eropa sebagai salah satu metode pengobatan. Pengetahuan medis mereka merupakan campuran dari pengetahuan Ayuwerda (India), Tiongkok, dan Arab. Inilah alasan Boomgard tak menyebut pengobatan mereka sebagai pengobatan tradisional melainkan pengobatan Timur, lawan dari pengobatan Barat (Eropa).

Orang Eropa sendiri, meski ada yang kagum, tak cukup puas dengan pengobatan Timur. Ini karena beberapa wabah yang sempat melanda Jawa pada abad ke-17 tak bisa diatasi. Sebaliknya, Boomgard mencatat selama 1800-1940 tingkat kematian di Jawa menurun setelah pengobatan Barat makin dikenal masyarakat Hindia.

Kenyataan ini dipertegas dengan pendirian sekolah medis modern di Batavia pada 1851. Rumah-rumah sehat mulai berdiri. Obat pun segera dibuat secara kimiawi. Vaksinasi cacar diujicobakan dan sukses menanggulangi wabah cacar. Masyarakat perlahan menerima metode pengobatan asing. Sementara itu, kajian pengobatan Timur tak memiliki lembaga resmi meski pengetahuan Ayuwerda terus diturunkan.

Pengetahuan Ayuwerda dominan di Jawa. Awalnya, pengetahuan itu dialihgenerasikan secara lisan. Kemudian, tanpa diketahui pasti kapan mulanya, beberapa kitab obat-obatan India diterjemahkan dan ditulis kembali dalam bahasa Jawa. Dalam Penulisan Sejarah Jawa, C.C. Berg mencatat beberapa naskah Jawa Kuno yang dipercaya merupakan mantra yang dapat mengusir penyakit.

Konsep penyakit dalam masyarakat Jawa tak terbatas pada segi fisik, seperti masuknya kuman tak kasat mata ke dalam tubuh. Penyakit dapat juga berupa gangguan roh leluhur, makhluk gaib, atau tenung dari manusia. Ketidakseimbangan lalu terjadi. Tubuh menjadi panas, lalu seseorang jatuh sakit. Untuk menyembuhkannya tak cukup dengan ramuan tertentu. Upacara khusus (ruwatan) harus dilakukan seperti mengaliri tubuh dengan air yang dibacakan jampi-jampi.

Selain metode pengobatan supranatural, beberapa metode pengobatan Timur yang lebih teknis tersua dalam khazanah naskah kuno Nusantara. Dalam “Kajian Terhadap Naskah Kuna Nusantara Koleksi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia”, Jurnal Makara Sosial Humaniora Vol 8. No. 2 (2008), Dina Nawaningrum menyebut delapan naskah kuno berbahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Melayu yang memuat pengobatan dan ramuan tradisional. Sayangnya, tahun terbit naskah tersebut tak diketahui secara pasti.

Gangguan sistem reproduksi seksual dan sistem pencernaan, cacar, asma, dan gangguan jantung teridentifikasi masyarakat Nusantara sejak lama. Bahan obat, kebanyakan dari tanaman, dan cara pengolahannya pun tersua dalam naskah. Di masa modern, pengetahuan itu tersimpan dalam kerapuhan naskah-naskah kuno, di tengah temuan-temuan modern dunia pengobatan. Meski tergerus, pengobatan tradisional masih bertahan.



View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 28 Agustus 2012

Berlayar Sampai Madagaskar

Para penjelajah bahari Nusantari berlayar hingga Madagaskar. Para tokoh bangsa pun sempat membayangkan Republik Indonesia terbentang sampai ke sana.

ORANG Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar, demikian penelitian teranyar yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, 21 Maret lalu. Ahli biologi molekuler Universitas Massey Selandia Baru, Murray Cox, memimpin penelitian untuk menganalisis DNA mitokondria yang diturunkan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga etnis Madagaskar (Malagasi): Mikea, Vezo, dan Andriana Merina.

Menurut Cox, seperti dikutip The Australian (21/3), hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa sekira 30 orang perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun silam. Mereka disertai beberapa lelaki yang jumlahnya lebih sedikit.

Penelitian DNA ini memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Secara arkeologis dibuktikan dengan temuan perahu bercadik ganda, peralatan besi, alat musik xylophone atau gambang, dan makanan tropis seperti tanaman ubi jalar, pisang, dan talas.  

Dari sisi linguistik, kebanyakan leksikon penduduk Madagaskar berasal dari bahasa Ma’anyan yang digunakan di daerah lembah Sungai Barito di tenggara Kalimantan, dengan beberapa tambahan dari bahasa Jawa, Melayu, atau Sanskerta. Menurut Robert Dick-Read dalam Penjelajah Bahari, kemiripan ini kali pertama dikemukakan misionaris-cum-linguis Norwegia Otto Dahl pada 1929 setelah meneliti kamus Ma’anyan karya C. Den Homer (1889) dan karya Sidney H. Ray (1913). “Tapi, kita harus melihat lebih teliti lagi sebab asal-usul Ma’anyan masih diperdebatkan,” tulis Dick-Read.

Anehnya, Dahl sendiri menyebut kemiripan itu tak memecahkan semua misteri bahasa Malgache (Malagasi). Sebab, terdapat beberapa unsur dalam Malgache yang mengarah ke Celebes (Sulawesi), terutama suku Bajo dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung. “Nenek moyang dari suku-suku inilah yang kemungkinan besar adalah para pelaut Indonesia yang telah berhasil menjelajah lautan hingga ke Afrika,” tulis Dick-Read.

Bahkan, tak hanya ketiga suku tersebut. Menurut S. Tasrif dalam Pasang Surut Kerajaan Merina, “mereka kemungkinan campuran dari ras Sumatra, Jawa, Madura, Sulawesi, atau orang-orang Indonesia Timur. Di sana, mereka berbaur membangun kebudayaan Malagasi. Para pendatang itu kemudian dominan di Madagaskar, karena penduduk aslinya sangat sedikit. Di kemudian hari, datang pendatang baru dari Arab, Pakistan, India, dan orang-orang Prancis yang membawa buruh-buruh Afrika hitam. Jadilah Madagaskar sebuah negeri multiras,” demikian dikutip Tempo, 21 September 1991.

Senada dengan pendapat Tasrif, ahli sejarah Afrika, Raymond Kent, dalam Early Kingdoms in Madagascar 1500-1700, menyimpulkan, “... pasti telah terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar yang datang secara sukarela dan bertahap dari Indonesia pada abad-abad permulaan milenium pertama. Sebuah pergerakan yang dalam istilah Malagasi kuno disebut lakato (pelaut sejati) karena mereka tidak berasal dari satu etnis tertentu.”

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa, intelektual pertama yang membahas hubungan Nusantara dan Madagaskar adalah Moh. Nazif yang menulis disertasi De Val van het Rijk Merina pada 1928 di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Adanya hubungan Indonesia dengan Madagaskar kemudian digunakan sebagai “politik kesatuan” oleh beberapa tokoh bangsa sejak 1920-an.

Pada peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1965, Sukarno, merujuk karya Nazif, mengemukakan: “...bangsa Indonesia itu adalah sebenarnya qua ras inter related dengan bangsa-bangsa yang mendiami Kepulauan Pasifik, Indocina, sampai Madagaskar.” Dalam beberapa kesempatan Sukarno kerap menyebut andil Indonesia dalam terbentuknya Madagaskar.

Dalam sambutan Kongres Indonesia Muda pertama tahun 1930, dikutip R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, tokoh pergerakan Kuncoro Purbopranoto mengatakan, “Indonesia merupakan satu negeri, dengan satu bangsa, dari Madagaskar hingga Filipina, dengan satu sejarah, sejarah Sriwijaya dan Majapahit...”

Tan Malaka setali tiga uang. Dalam Madilog, keyakinan Tan akan para pelaut Nusantara yang menjelajah hingga Madagaskar membuatnya memimpikan Republik Indonesia Raya sampai Madagaskar. “Tan Malaka dulu membayangkan wilayah Republik Indonesia Raya merdeka itu akan terbentang dari Pulau Madagaskar melintasi seluruh semenanjung Melayu, kepulauan Filipina, seluruh Hindia Belanda, termasuk Timtim sampai ke ujung Timur Papua,” tulis Sultan Hamengku Buwono X dalam Merajut Kembali Keindonesiaan Kita.            

Saking penasaran, Mohammad Yamin sampai pergi ke Madagaskar pada 1957. “Di Pulau Madagaskar bangsa Indonesia berkuasa mendirikan kerajaan Merina, yang diruntuhkan oleh tentara Prancis dalam tahun 1896, dan sampai kepada kerajaan ini tidaklah terkenal Konstitusi yang dituliskan,” tulis Yamin dalam Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia.

Namun, menurut Dick-Read, Merina yang merupakan penduduk mayoritas di Madagaskar, berasal dari nenek moyang berdarah campuran yang bermigrasi pada permulaan abad ke-16, yakni kaum Anteimoro yang kemungkinan berasal dari dataran tinggi Ethiopia bagian selatan dan kaum Hova.

“Besar kemungkinan bahwa kaum Hova merepresentasikan satu-satunya unsur Indonesia murni di Madagaskar,” tulis Raymond Kent.

Hubungan Indonesia-Madagaskar lebih terang dilihat dari bahasa. Yamin, tulisan Lombard, senang mencari persamaan antara bahasa-bahasa di Indonesia dan Malagasi. Yamin menyontohkan, “kerajaan Indonesia di Madagaskar yang telah dijadikan museum namanya: Rua. Perkataan Indonesianya: ruang, balairung.”

Contoh lain, “sebutan untuk bilangan dua, tiga, empat, lima. Dalam bahasa Malagasi disebut rua, telu, efat, dan limi. Ini mirip ucapan bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dan Bali,” tulis Tempo, 21 September 1991. “Lalu kata anak, mati, padi, dan tembok. Dalam bahasa Malagasi disebut anaka, maty, pary, dan tambuk.”

Atau “tenko dan baratang, bahasa Makassar untuk cadik dan tiang/galah cadik; dalam bahasa Malagasi disebut tengo dan baratengo,” tulis Dick-Read.

Marcopolo-lah yang menamai Madagaskar pada akhir abad ke-13. Dia menuliskannya Magaskar. Dia sendiri tak mengunjungi pulau itu. Gambaran pulau itu dia peroleh dari para pedagang Arab. Karena itu, menurut Dick-Read, dia keliru menyebut pulau itu subur, banyak gajah dan singa, dan makanan utama penduduknya daging unta.

Menurut Dick-Read, jika melihat kesejajaran kata Bajun (istilah setempat untuk orang di atas perahu) dengan Bajoo dan Manda (pulau yang dihuni oleh suku Bajun di Afrika Timur) dengan Mandar, “tidakkah cukup beralasan bila kita berpendapat bahwa kata Madagaskar memiliki hubungan dengan suku bangsa pelaut lain di Sulawesi, yang terkait dengan suku Bugis, Bajo, dan Manda –Makassar?”



View the original article here



Peliculas Online

Minggu, 26 Agustus 2012

Dari Pemujaan hingga Bisnis

Balapan ini bermula dari tujuan pemujaan terhadap dewa-dewi. Namun kemudian justru dilarang.

CALIGULA, Kaisar Romawi (37-47 M), pernah hampir menjadikan kudanya, Incitatus, sebagai konsul (salah satu pimpinan Kekaisaran Romawi). Caligula menyanjung kudanya lantaran beberapa kali menang balap chariot (kereta kuda). Balapan ini mulai diminati masyarakat Romawi dari semua kalangan sejak abad ke-6 SM. Beberapa Kaisar Romawi bahkan menggunakan ajang ini sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan.

Pada 530 SM, Raja Lucius Tarquinis Superbus memerintahkan pembangunan Circus Maximus, arena khusus untuk balap chariot. Dia menginginkan kemegahan Kerajaan Romawi termanifestasi dalam salah satu amphiteater (arena) tertua dan terbesar di Roma ini. “Panjang bangunan ini 1800 kaki, lebarnya 600 kaki. Bentuknya seperti leter U panjang. Di tengah lapangan amphiteater ini terdapat semacam barikade panjang, disebut Spina,” tulis majalah Varia, 20 September 1961.

Di Spina, beberapa patung berukuran besar diletakkan di atas pilar-pilar raksasa. Patung-patung itu berwujud dewa-dewa masyarakat Romawi. Ini menunjukkan bahwa dalam perkembangan awalnya balap chariot ditujukan sebagai ajang pemujaan. Menurut Roland Auguet, penulis buku Cruelty and Civlization, pemujaan terhadap Dewi Consus menjadi bagian tak terpisahkan dari balapan ini. Sebab, pengaruh kepercayaan Yunani Kuno dan Etruska (bangsa pendiri Kerajaan Romawi) sangat kental dalam Kerajaan Romawi. Chariot sendiri merupakan olahraga warisan Yunani Kuno, sedangkan Kaisar Tarquinis adalah orang Etruska.

Beberapa obelisk (tugu batu persegi empat yang menjulang tinggi) yang diimpor dari Mesir juga menghiasi bagian tengah amphiteater. Bola emas ditaruh di atas tiap obelisk sehingga bercahaya saat ditimpa sinar matahari. Untuk menambah kemegahan, amphiteater ini dirancang mampu menampung ratusan ribu penonton. “Terletak di dua bukit (Aventine dan Palantine), kapasitasnya sekira 150-300 ribu orang, yang berarti seperempat dari penduduk kota,” tulis Nigel Crowther dalam Sport in Ancient Time.

Balap chariot pertama yang tercatat berlangsung di arena ini bertitimangsa 509 SM. Kala itu, kereta yang dinaiki seorang pelomba baru ditarik dengan dua ekor kuda (bigae). Tiga sampai empat chariot berlomba mengelilingi Circus Maximus sebanyak tujuh kali atau lebih. Tarquinis dan masyarakat Romawi sangat menikmati balapan ini. Perempuan dan laki-laki diperbolehkan duduk bercampur, tak seperti dalam amphiteater lainnya.

Pada masa itu, balap chariot disebut Ludi Romani atau Perlombaan Roma. Sayang, Tarquinis tak bisa lama menyaksikan kemegahan Circus dan balapan itu. Lantaran memerintah dengan kejam dan teror, pada 509 SM, rakyat memberontak dan menjatuhkan kerajaan yang telah berdiri selama dua abad itu. Tarquinis terbunuh. Romawi lalu berbentuk republik.

Perubahan politik segera berlangsung. Tapi itu sama sekali tak mempengaruhi kegiatan di Circus Maximus. Sebaliknya, arena itu justru diperbaiki dan balapan makin sekuler.

Pada abad ke-4 SM, garis lintas yang membatasi satu jalur dengan jalur lainnya dipisahkan dengan kayu sederhana, bukan lagi dengan tali. Kotak-kotak garasi chariot mulai diperkenalkan pada abad 2 SM, dilengkapi pintu yang terbuka saat balapan akan dimulai, persis seperti garasi pacuan kuda modern. Kuda penarik ditambah menjadi empat, bahkan hingga enam. Pada saat bersamaan, arena chariot menyebar di tiap kota meski yang terbesar tetap Circus Maximus.

Orang kaya Romawi mulai berani memutar uangnya dalam balap Chariot. Mereka mendirikan dan menyokong klub chariot. Taruhan seketika menjadi lazim. Unsur-unsur pemujaan dewa-dewi perlahan ditinggalkan.

Hingga memasuki tahun-tahun awal masehi, saat Romawi telah menjadi monarki (kekaisaran), hanya terdapat empat klub chariot yang dibedakan berdasarkan warna bendera: merah, putih, biru, dan hijau. Klub-klub memiliki ribuan pemegang saham. Perusahaan-perusahaan penting di Roma berkongsi dengan klub-klub tersebut. Mereka beraliansi dalam suatu klub untuk menghantam aliansi perusahaan lainnya yang memihak salah satu klub tertentu. Kucuran dana mengalir deras ke klub-klub itu.

Karena sokongan dana itu, klub-klub mampu menyediakan kebutuhan balapan seperti chariot, kuda, perlengkapan (helm bulu dan baju balap), dan pembalap. Mereka bisa membeli pembalap dari klub lain dan membuangnya jika prestasinya jelek.

Pembalap dibayar mahal sesuai dengan risiko balapan: tewas terlindas atau tertabrak chariot. Ini sering terjadi kala chariot benar-benar menjadi ajang bisnis di abad 1 M. “Fuscus terbunuh ketika berusia 24 tahun setelah hanya mencatat 57 kemenangan. Aurellius Mollicius terbunuh pada umur 20 tahun setelah menang 120 kali,” tulis Varia, 4 Oktober 1961.

Pembalap chariot yang beruntung dan menjadi kaya lantaran prestasinya adalah Diocles (abad 2 M), seorang budak dari Portugal. Dia mendapatkan 35 juta secerces, mata uang Romawi, saat mengundurkan diri pada usia 42 tahun. Diocles dipuja dan dihormati masyarakat Romawi. Pengalamannya sebagai budak tak terlihat lagi. Kedudukannya menjadi sangat penting. “Seorang senator Romawi bahkan menyatakan jika Diocles kalah, kekalahan itu akan mengakibatkan kekacauan lebih besar pada ekonomi negara daripada kekalahan besar dalam peperangan,” tulis Varia, 27 September 1961.   

Kuda juga mendapat perhatian. Kuda pemenang balapan lebih berharga daripada budak-budak. Mereka dibuatkan patung. Di bawah patung itu seringkali terdapat inskripsi nama kuda, pembalap, klub, dan catatan kemenangannya. Kuda yang memenangi seratus balapan dinamakan Centenarius. Kelak, salah satu kuda ini dibeli oleh Caligula.

Masyarakat Romawi kadung gandrung dengan chariot. Saat hari balapan tiba, kota nyaris kosong sehingga tentara diturunkan untuk mengamankan kota dari pencuri. Ratusan ribu manusia tumpah-ruah di arena untuk mendukung klub favorit mereka. Kaisar Vitellius (69 M) pernah memerintahkan membunuh 50 orang yang mengejek klub biru. Sedangkan kaisar lainnya, Nero misalnya, mencoba merebut simpati masyarakat dengan mendukung salah satu klub yang terkuat demi mempertahankan kekuasaan.

Saking berpengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, balap chariot tak luput dari kritik. Seneca, filsuf Romawi (4-65 M), menyatakan keberatannya terhadap balapan itu. “Tak dapatkah orang berbicara mengenai soal lain daripada keahlian berbagai pengendara kereta dan tentang mutu regu-regu kuda mereka?” tanyanya. Kritik lain datang dari Tertullian (160-225 M), penulis Kristen. Dia menganggap balapan itu sebagai aktivitas paganis dan amoral.

Balapan itu akhirnya dilarang saat agama Kristen berkembang pesat sementara Kekaisaran Romawi runtuh pada abad ke-6 M. Sepeninggal Romawi, Bizantium menjadi penadah balapan itu.



View the original article here



Peliculas Online

Minggu, 19 Februari 2012

Dari Banda, Indonesia Bermula

Sebanyak 21 kapal layar dari sejumlah negara berlabuh di Banda, Maluku Tengah, Selasa (27/7), dalam rangka reli kapal layar Sail Banda. Sudah lama Banda menyita perhatian dunia. Sekadar bukti, Mick Jagger, vokalis Rolling Stones, serta Lady Diana dan Sarah Ferguson pernah datang untuk memuja panorama alam setempat. 

Pemandangan di depan dermaga Pelabuhan Banda Naira itu mengingatkan akan kejayaan Banda masa silam. Jauh sebelum republik ini berdiri, Banda telah menjadi surga bagi bangsa-bangsa Eropa. Kapal-kapal Portugis, Inggris, dan Belanda bergantian buang sauh di Banda Naira untuk mengenyam alam Banda yang subur dan elok itu.

Kehangatan dan aroma khas pala (Myristica fragrans) Banda yang tumbuh subur di tanah vulkanik sulit ditemukan di belahan dunia mana pun. Kala itu, biji dan fuli (bunga) pala sangat dibutuhkan sebagai bahan pengawet, penyedap, parfum, dan kosmetik.

Portugis, Inggris, dan Belanda berebut dan bergantian menguasai gugusan pulau yang terletak di tengah Laut Banda, Maluku- berjarak 116 mil (186 kilometer) dari Ambon, ibu kota Provinsi Maluku.

Des Alwi, tokoh masyarakat Banda, dalam buku Sejarah Banda Naira terbitan Pustaka Bayan (2010) mengisahkan, hasil monopoli pala yang harganya lebih mahal daripada emas kala itudigunakan Belanda untuk membangun kota Amsterdam dan Rotterdam. 
Kokohnya imperialisme Belanda di Banda ditandai dengan berdirinya benteng, gedung perkantoran, istana, dan rumah- rumah bergaya Eropa. Belanda bahkan memindahkan pengasingan Hatta dan Sjahrir dari Boven Digoel, Papua, ke Banda Naira tahun 1936-1942. Tokoh pergerakan nasional lain, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri juga diasingkan di sini.

Rumah tempat pengasingan Hatta dan Sjahrir itu kini menjadi museum. Ranjang besi dengan kelambu putih serta kursi kayu dan papan tulis tempat Hatta mengajar anak-anak tiap sore masih utuh tersimpan. Mesin tik Hatta dan gramofon milik Sjahrir masih tersimpan apik.
Di situlah Hatta dan Sjahrir menyemai nasionalisme dan rasa cinta Tanah Air kepada anak-anak Banda, termasuk kepada anak-anak warga pendatang  asal Jawa, Sumatera, Sulawesi, Ternate, Tidore, dan Kalimantan.
Des Alwi yang melewati masa kanak-kanak ketika Hatta danSjahrir diasingkan di Banda mengenang betapa kontrasnya materi pelajaran sekolah pagi yang diterima dari Belanda dengan yang dikenyam saat sore hari.

"Di sekolah pagi, para meneer mengajari kami bahwa Teuku Umar dari Aceh serta Diponegoro dari Jawa sebagai penjahat dan sejarah negeri Belanda disebut sebagai sejarah 'Tanah Air'. Sebaliknya, di sekolah sore, Hatta dan Sjahrir menyebut dua tokoh itu sebagai pemberontak atas penindasan Belanda."
Oleh Des Alwi dan anak-anak sebayanya kala itu, Hatta akrab disapa "Oom Kacamata". Adapun Sjahrir biasa disapa "Oom Rir". "Sosok Hatta itu serius, kutu buku, dan lengket dengan kacamata tebal. Kalau Sjahrir, suka gaul dan suka nyanyi," ujarnya.



Menurut Des Alwi, budaya setempat menegaskan bahwa semua anak yang lahir di Banda otomatis dianggap orang Banda. Tidak terkecuali anak-anak pendatang, termasuk yang berasal dari China dan Arab. "Hatta dan Sjahrir menularkan semangat kebangsaan kepada anak-anak di Banda dalam nuansa pluralisme. Wajar jika muncul ungkapan 'Dari Banda, Indonesia  bermula'. Benih Tanah Air berawal dari sini," kata Des Alwi. 
Oleh Bung Hatta, Banda disebut sebagai miniatur Indonesia. Sebanyak 25.000 warga Banda yang saat ini tinggal di tujuh kampung adat di Banda merupakan keturunan campuran dari etnis-etnis yang pernah bermukim di Banda: Portugis, Belanda, Inggris, China, Arab, Jawa, Bugis, Buton, dan Ternate. "Beberapa kali pula penjajah menjadikan Banda sebagai tempat pembuangan sejumlah etnis dari pulau lain untuk dipekerjakan di perkebunan pala," kata Awad Senen (73), Kepala Kampung Adat Ratu Naira.

Ragam etnis ini bisa terlihat dengan mudah dari nama mereka. Tahun 1990-an Mick Jagger, vokalis Rolling Stones, Lady Diana, dan Princess of York Sarah Ferguson pernah tetirah ke Banda. Rupanya, mereka ingin memuja keelokan Banda sambil menapaktilasi petualangan nenek moyang mereka.

Oleh: A Ponco Anggoro dan Nasrullah Nara
sumber:  http://tanahair.kompas.com/read/2010/09/02/19043634/Dari.Banda..Indonesia.Bermula

Selasa, 14 Februari 2012

Menyusuri Gedung-gedung “Baheula” di Parijs van Java

Salah satu faktor yang menjadikan Bandung dikenal dengan sebutan Parijs van Java karena di kota itu banyak berdiri gedung-gedung bersejarah bergaya Eropa. Hal yang menjadi pertanyaan, mengapa di Bandung banyak ditemui bangunan-bangunan tersebut. Bisa jadi sebagian besar orang belum mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun, yang pasti, ada latar belakang historis yang menyertai keberadaan berbagai bangunan tua peninggalan zaman Belanda tersebut.

Menurut Ketua Bandung Heritage Society, Harastoeti, di Bandung banyak terdapat gedung tua karena pusat pemerintahan Belanda sempat direncanakan dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Kejadian itu terjadi pada zaman kolonial, sekitar tahun 1800. Oleh sebab itu, tidak heran jika Pemerintah Belanda membangun sejumlah gedung secara besar-besaran di Kota Kembang. Saat itu, gaya bangunan yang sedang ngetren adalah gaya art deco.

“Sebenarnya ada sekitar 1.000 bangunan tua di Kota Bandung, tetapi di dalam peraturan daerah yang harus ditetapkan adalah 100 bangunan yang terbagi menjadi tiga kelas, yakni kelas A, B, dan C,” papar Harastoeti yang cukup rajin mendata bangunan-bangunan tua di Bandung. Menurut dia, dari sekian banyak gedung tua di Bandung, ada beberapa bangunan yang tergolong paling tua, salah satunya adalah Gedung Heritage yang kini difungsikan sebagai toko factory outlet (FO) Heritage di Jalan Riau.

Ada pula Gedung Hotel Surabaja di kawasan Kebon Jati yang kini sudah direnovasi dan sebuah rumah di Jalan Cibeureum, Cimindi. Rumah yang berada di daerah Cimindi, kata Harastoeti, termasuk bangunan paling tua dan menarik karena dibangun oleh orang Indonesia. Rumah itu dibangun pada 1800- an oleh Wangsa Diprama, lalu ditempati oleh keturunannya, Hanafi , Redmana, dan kini oleh Ibu Siswo.

Namun sayang, rumah tua yang diarsiteki Haji Bajuri itu seperti tidak terurus. Hal itu kemungkinan terkendala oleh persoalan biaya perawatan. Harastoeti khawatir rumah yang berdiri di lahan 2,5 hektare itu dijual oleh pemiliknya kepada investor untuk keperluan bisnis. Bangunan-bangunan tua lainnya banyak tersebar di beberapa wilayah Kota Bandung. Kawasan yang paling banyak terdapat gedung-gedung zaman baheula-nya adalah Jalan Braga, Jalan Naripan, dan Jalan Asia Afrika.

Selain itu, di kawasan Viaduct Kebon Jati, Jalan Oto Iskandardinata, Jalan Wastukencana, dan Jalan Diponegoro – lokasi berdirinya Gedung Sate – juga banyak ditemui gedung-gedung tua.

Masih Berfungsi

Di kawasan Jalan Braga-Naripan- Asia Afrika, gedung-gedung tua masih berfungsi dan dipergunakan sebagai toko atau kantor. Sebagai contoh, di Jalan Braga terdapat Gedung Majestic yang dibangun pada 1925. Gedung itu dirancang oleh arsitek CP Wolff Schoemaker. Masih di sekitar kawasan Braga, terdapat Bank Indonesia Cabang Bandung yang berdiri sejak 1917.

Bangunan tua yang tampak cukup megah dan masih berdiri kokoh tersebut diarsiteki oleh Edward Cuypers. Ada pula Gedung Gas Negara, berdiri pada 1930 dan dirancang oleh RLA Schoemaker. Lokasi lainnya, di persimpangan Jalan Braga-Naripan, terdapat Gedung Kantor Berita Antara Biro Jawa Barat. Bangunan tua yang dirancang oleh AF Aalbers itu didirikan pada 1936.

Tidak jauh dari Jalan Braga, wisatawan pencinta gedung-gedung tua biasanya akan berjalan ke arah selatan, tepatnya di kawasan persimpang an Jalan Braga-Jalan Asia Afrika. Di persimpangan kedua jalan itu terdapat Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Museum KAA menyatu dengan Gedung Merdeka, dulu dikenal sebagai Gedung Concordia, yang dibangun pada 1800-an. Pada masa lalu, gedung itu dijadikan tempat berkumpulnya Concordia Societeit yang dibentuk pada 1879.

Perkumpulan itu beranggotakan orang-orang dari kalangan bangsawan Be landa dan pribumi. Sejak dipakai untuk KAA pada 1955, Gedung Concordia dijadikan aset cagar budaya yang kini di bawah pengelolaan Kementrian Luar Negeri. Museum KAA belakangan ini sering kali dipakai sebagai objek wisata, tempat pemutaran fi lm, dan kursus bahasa asing. “Museum KAA boleh dibilang museum khusus karena tidak banyak menyimpan barang-barang bersejarah.

Tapi setiap hari ada saja pengunjung yang datang, ada yang datang ke perpustakaan, ke ruang pamer, atau ke ruang audio visual,” kata Dadi Nuryadi, staf Museum KAA. Di seberang Museum KAA terdapat gedung tua bernama de Vries. Gedung bergaya arsitektur Indis itu dibangun pada 1879, kemudian dipugar dan dibangun kembali pada 1909 dan 1920, berdasarkan karya arsitek Edward Cuypers Hulswit.

Lantas gedung itu dialihfungsikan menjadi toko serba ada de Vries (Warenhuis de Vries). Selain di kawasan Braga-Asia Afrika, gedung peninggalan zaman Belanda yang masih terawat dengan baik sampai saat ini adalah Gedung Driekleur. Lokasinya di persimpangan antara Jalan Sultan Agung dan Jalan Dago. Gedung yang kini dipakai sebagai Kantor BTPN itu, baru- baru ini, mendapat penghargaan dari Bandung Development Watch (BDW) sebagai gedung terbaik dalam renovasi cagar budaya.

“Gedung-gedung tua atau monumen di Bandung ada yang bertaraf internasional, nasional, dan lokal. Semuanya adalah aset yang sangat berharga,” kata Harastoeti. Oleh karena itu, dia mengharapkan, masyarakat bisa terus memelihara gedunggedung tua karena warisan budaya itu bisa mengurangi pemanasan global. “Lebih baik manfaatkan dulu gedung yang ada daripada menggali tanah, apalagi sampai merusak lingkungan,” tandas Harastoeti.
ygr/L-2
http://www.bandungheritage.org/index.php?option=com_content&view=article&id=96:menyusuri-gedung-gedung-baheula-di-parijs-van-java-&catid=13:kliping&Itemid=2

Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api
Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.


Insiden Perobekan Bendera

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia.

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.

Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.

Bandoeng Laoetan Api

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan.

Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.

Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, "Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api." Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air"
A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Sumber : Bandung Society For Herritage Conservation

Jalan Dago

Kawasan Dago adalah sebuah kawasan pemukiman elit di bagian utara Bandung. Pada awal perkembangan kota, kawasan ini hanyalah sebuah kampung kecil bernama Kampung Banong. Beberapa ahli menduga nama Bandung berasal dari nama Kampung ini. Kampung Banong ini mencuat namanya ketika Dr. Andrees de Wilde, seorang juragan perkebunan Kopi paling terkemuka pada tahun 1820-an mendirikan sebuah rumah peristirahatan di sana, lengkap dengan gudang kopi yang luas.
 
Meskipun demikian, baru pada tahun 1910 pemerintah Gemeente Bandung mulai memperluas wilayah administrasinya ke arah utara. Orang merambah kebun dan sawah, membangun jalan Dago dan Cipaganti di Bandung Utara. Pembangunan dan pengerasan jalan Dago sampai ke hutan Pakar bersamaan dengan usaha Gemeente (kotamadya) membangun reservoir air minum di Bukit Dago.

Jalan Ir. H. Juanda  (Jalan Dago) yang membelah kawasan ini kini menjadi jalur rekreasi paling utama bagi penduduk kota. Setiap Sabtu malam, ribuan orang tumpah-ruah memadati pinggir jalan Dago untuk menikmati makanan di cafe tenda pinggir jalan. Sementara puluhan klub pecinta kendaraan seperti VW Club atau Scooter Club memiliki tempat-tempat favoritnya sendiri. Bahkan kadang-kadang kita bisa menikmati life music gratis dari berbagai aliran musik mulai dari brass-band, pop, hingga musik 'underground' yang dimainkan di pinggir jalan.
Suasana Malam Minggu
Kawasan Dago kini menjadi kawasan paling 'hip' di Bandung. Setiap malam Minggu terutama pada awal-awal bulan orang berjubel memenuhi trotoar dan bahkan badan jalan untuk sekedar menghirup udara malam. Cafe-cafe dadakan pinggir jalan bermunculan; sementara di persimpangan-persimpangan jalan, anggota klub-klub motor dan mobil Vespa, Honda, Harley Davidson bahkan motor-motor yang  tidak diproduksi lagi seperti BSA berkumpul dan memamerkan kendaraan kesayangannya. Anda bahkan bisa menikmati musik brassband lengkap di pinggir jalan, gratis!
Karya Aalbers
Rumah Lokomotif
Pada tahun 1937, A.F. Aalbers  mendesain tiga villa kembar yang dijuluki sebagai de locomotiven (kereta api)  karena bentuknya. Selain ketiga villa ini,  AF Aalbers juga mendesain beberapa rumah tinggal lainnya di kawasan yang sama, sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan  Bandung Utara.

Perkembangan Jalan Dago
..1915   Pembangunan Jalan Dago (Dagostraat) dimulai pada awal abad 19, dan perkembangannya menjadi lebih pesat setelah Bandung mendapat status gemeente atau kotamadya pada tahun 1906. Rencana perluasan ke utara atau Uitbreidingsplan Bandoeng-Noord pada tahun 1915 yang berlangsung dalam beberapa gelombang perpindahan kegiatan administratif Hindia Belanda menyebabkan villa-villa berukuran besar dan sedang mendominasi Jalan Dago (S. Siregar, 1990).

1915-1945
Jalan Dago merupakan salah satu titik pelestarian alam yang  dilakukan oleh organisasi masyarakat Bandoeng Vooruit,   yang pada pertengahan 1930-an menghijaukan daerah aliran Sungai Cikapundung dengan pinus dan cemara gunung.

Sejak jaman pemerintahan Belanda hingga tahun 1950-an, kawasan Dago dikenal sebagai kawasan perumahan elite yang   dimiliki pemerintah Belanda. Dulu kawasan Dago dirancang sebagai kawasaan perumahan kapling besar dengan arsitektur Art Deco peninggalan zaman  Belanda.

1945-1970
Kekuasaan kemudian beralih dari pemerintahan Hindia Belanda ke pemerintahan Republik Indonesia. Pada awal kemerdekaan, jalan Dago tetap berfungsi sebagai hunian dan kondisi ini bertahan hingga akhir dekade 1960-an. Perubahan yang terjadi umumnya bersifat kepemilikan, dari orang-orang Belanda ke orang-orang Indonesia.

Thn 1950-an Dagostraat berubah nama menjadi jalan Dago

Pada tahun 1960an terjadi perubahan-perubahan. Jalan Dago diperlebar sebesar 2 meter kiri kanan jalan mengorbankan pohon-pohon besar, namun suasana masih sama, yaitu derah permukiman yang sangat ideal, dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, rumah sakit, apotik, dan tempat perbelanjaan.

1970-1990

Pada tahun 1970-an jalan Dago berubah nama menjadi Jln. Ir.H. Djuanda

Pada dekade 70-an terjadi peningkatan kegiatan ekonomi di pusat kota, terutama di antara pengusaha kecil dan menengah, menyebabkan meluasnya pergeseran fungsi yang terus mendesak ke hunian-hunian terdekat sehingga Jalan Dago pun terkena imbasnya.

Perubahan Dago dari daerah hunian menjadi wilayah komersial dimulai tahun 1970-an

Kondisi kawasan yang semula merupakan perumahan elite sudah mulai mengalami perubahan pada tahun 1980-1990 dengan adanya supermarket Superindo (dahulu Gelael) pada tahun 1987. Adanya sarana komersial tersebut menjadi suatu daya tarik bagi masyarakat yang tinggal disekitar Dago untuk mengunjungi kawasan tersebut

1990-sekarang (2006)
Dikeluarkannya Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) wilayah Cibeunying thn 1995-2005 yg menetapkan jalan Dago sebagi kawasan penggunaan campuran perumahan, jasa, perdagangan, perkantoran, dan pendidikan dengan azas peruntukan lahan yang bersifat luwes.

Pada dekade '90-an juga bermunculan beberapa bangunan yang tingginya melampaui enam lantai. Transformasi fungsi dan bentuk yang drastis ini juga dipicu oleh penerapan kebijakan floating functional zone bagi area tersebut.

Factory outlet sudah ada di Kota Bandung sejak tahun 1990-an dan makin berkembang pada tahun 1999-an 
----------------
Sumber : http://www.bandungheritage.org/index.php?option=com_content&view=article&id=19:jalan-dago&catid=14:heritage&Itemid=2