Tampilkan postingan dengan label Malaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

DNA Tan Malaka “Menghilang”

Proses pemeriksaan DNA Tan Malaka masih berjalan. Akankah sisa-sisa kerangka Tan Malaka dimakamkan di Kalibata sebagai pengakuan dari pemerintah?

TAN MALAKA merupakan tokoh antikolonial yang mobilitasnya sangat tinggi. Selama 30 tahun dia melalang-buana, dari Pandan Gadang (Suliki) hingga Surabaya, dari Penang hingga Amsterdam. Dia selalu waspada karena bertahun-tahun jadi buronan intel. Polisi kolonial mengganjarnya dengan sebutan “jago menghilang”.

“Rupanya setelah meninggal pun kemampuan menghilang Tan Malaka tak berkurang sehingga DNA-nya sulit dicari,” canda sejarawan Asvi Warman Adam dalam konferensi pers laporan hasil pemeriksaan DNA atas kerangka yang diduga Tan Malaka di Wisma Shalom, Jakarta Pusat (9/1). “Dia tokoh yang mempunyai reputasi internasional, sehingga tampaknya DNA-nya pun harus diperlakukan secara internasional.”

Tim Identifikasi Tan Malaka, diwakili dokter spesialis forensik Djaja Surya Atmadja, menyatakan bahwa tim telah berkonsultasi dengan Dr Kim Soon Hee, pakar DNA dari National Institute of Scientific Investigation (NISI) Korea Selatan. Tim juga menghadiri dan membahas sampel DNA itu ke beberapa simposium seperti 3rd Asean Forensic Science (3rd AFSN) di Seoul, Korea Selatan, dan 19th World Meeting of the International Association of Forensic Sciences di Madeira, Funchal, Portugal.

Pada 17-21 Oktober 2011, salah seorang anggota tim mengikuti pelatihan New Frontiers in Forensic DNA dengan pengajar Prof Bruce Budowle dari University of North Texas, Amerika Serikat, dan Prof Angela van Daal dari Bond University, Gold Coast, Australia.

Pada kesempatan tersebut, dibahas metode baru ekstraksi sampel DNA yang dikenal sebagai LCN (Low Number Copy), yang cocok diterapkan pada kasus Tan Malaka. Dengan teknik LCN, sampel yang sulit diekstraksi seperti tulang, gigi dan jaringan yang sudah diformalin, akan dapat dilakukan secara efektif dengan hanya menggunakan bahan sampel yang sedikit saja (100-200 mg tulang atau gigi). Metode ini amat menjanjikan. Pemeriksaan DNA Tan Malaka dengan metode LCN kemungkinan akan dilakukan di Australia.

“Saat ini pemeriksaan bahan sisa sampel kerangka di Selopanggung sedang dalam proses analisis LCN,” kata Djaja. “Kami memperkirakan pemeriksaan tak akan berlangsung lama. Tapi untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan pemeriksaan ulang, kami perkirakan hasil akhirnya muncul awal November 2012.”

Pemeriksaan kemungkinan akan menghasilkan tiga kesimpulan akhir. Pertama, inkonklusif, yaitu tak ada DNA (body bog), atau ada DNA tapi profil Y-STR (DNA inti yang diturunkan secara total dari seorang ayah kepada semua anak laki-lakinya) tidak ada. Kedua, konklusif, yaitu ada DNA, seluruh profil Y-STR didapat dan sesuai dengan DNA Zulfikar Kamarudin, keponakan Tan Malaka. Dan ketiga, positif lemah, yaitu ada DNA, hanya ada sebagian profil Y-STR yang keluar dan sesuai dengan DNA Zulfikar.

“Proses pemeriksaan secara medis masih berjalan dan kita masih harus menunggu,” kata Asvi, “Tapi dari segi sejarah sudah selesai. Narasi sejarah sudah tuntas. Karena kalau bicara sejarah, kita bicara kisah seseorang dari lahir hingga meninggal, dan ini sudah jelas semua.”

Sejarawan Harry Poeze sudah meneliti selama 30 tahun dan berdasarkan temuan terbaru terbukti bahwa Tan Malaka ditembak mati. “Lokasi, tempat, waktu, dan pelaku eksekusinya jelas,” ujar Asvi. “Saya pribadi berpandangan agar keluarga memutuskan memindahkan makam Tan Malaka di Selopanggung ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.”

Penggalian Tokoh Nasional

Menurut Asvi, penggalian makam seorang tokoh nasional ini bukanlah yang pertama. Pada 1975, Sekretaris Jenderal Departemen Sosial Rusiah Sardjono memimpin langsung penggalian di pertambangan Bayah, Banten Selatan, untuk menemukan jenazah shodanco Supriyadi, komandan Pembela Tanah Air (PETA) Blitar yang berontak terhadap Jepang. Pada tempat yang ditunjukkan saksi tak ditemukan apa-apa.

Penggalian kemudian dilanjutkan ke situs sekitar dan menemukan kerangka seseorang yang kemudian dibawa ke Yogyakarta untuk pemeriksaan oleh tim forensik Fakultas Kedokteran UGM. Waktu itu belum dilakukan tes DNA, tapi berdasar pemeriksaan forensik tidak terdapat kecocokan antara kerangka tersebut dan ciri-ciri yang disebutkan pihak keluarga. Meski hasilnya nihil, pemerintah selanjutnya menetapkan Supriyadi sebagai Pahlawan Nasional pada 1975.

Lebih ironis lagi, lanjut Asvi, pemakaman Otto Iskandar Dinata. Menurut keterangan resmi pemerintah, Otto dibunuh oleh Laskar Hitam di Pantai Mauk, Tangerang, pada 20 Desember 1945. Saat itu Otto, yang dijuluki “Jalak Harupat” oleh Laskar Hitam, masih menjabat menteri negara yang membidangi keamanan. Peristiwa pembunuhan Otto baru diketahui pada 1949 dan jenazahnya tak pernah ditemukan.

“Pemerintah Jawa Barat lantas mengambil pasir di Pantai Mauk, membungkusnya dengan kain kafan, kemudian dimakamkan di Pasir Pahlawan, Lembang, Bandung Barat, sebagai simbol,” kata Asvi. Pemerintah Orde Baru mengangkat Otto sebagai pahlawan nasional pada November 1973.

“Ini memperlihatkan bahwa negara membutuhkan situs peringatan,” tegas Asvi.

Asvi berpandangan akan lebih baik jika sisa-sisa kerangka Tan Malaka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Selama Orde Baru Tan Malaka tak dianggap sebagai pahlawan nasional, bahkan namanya dihilangkan. Jika dimakamkan di Kalibata, ini akan menjadi semacam pengakuan dari pemerintah bahwa dia adalah pahlawan nasional dan disemayamkan pada tempat yang layak.



View the original article here



Peliculas Online

Sabtu, 29 September 2012

DNA Tan Malaka Mendekati Kebenaran

Pria yang kuburannya digali di Selopanggung, Kediri memiliki DNA yang positif identik dengan keluarga Tan Malaka.

HASIL penyelidikan DNA (deoxyribose nucleic acid) di sebuah laboratorium di Korea Selatan menunjukkan bahwa kerangka tulang yang digali di sebuah makam di Desa Selopanggung, Kediri, pada 12 November 2009, adalah Tan Malaka “mendekati kebenaran”. Saat ini pemeriksaan sisa sampel kerangka di Selopanggung sedang dalam proses pemeriksaan analisis LCN (low number copy) sebuah metode baru ekstrasi sampel DNA. 

Menurut Tim Identifikasi Tan Malaka, dokter spesialis forensik Jaya Surya Atmadja dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk mendapatkan hasil seratus persen bahwa DNA tersebut adalah Tan Malaka masih harus mengikuti perkembangan teknologi DNA yang  semakin maju.

Sebelumnya, pada pemeriksaan DNA pertama di Australia yang diumumkan pada 8 Maret 2010, menunjukkan hasil menggembirakan. Dari 14 unsur yang diuji, 9 di antaranya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan. 

Mengutip sejarawan dan penasihat Tim Penggalian Makam Tan Malaka, Asvi Warman Adam dalam tulisannya Memburu DNA Tan Malaka, pemeriksaan DNA dilakukan dengan mengidentifikasi Y-Short Tandem Repeats (YSTR) sebagai DNA inti (c-DNA) yang diturunkan secara total dari seorang ayah kepada semua anak laki-lakinya. Dalam kasus ini, Y-STR diturunkan oleh Rasad kepada Tan Malaka dan adik laki-lakinya, Kamarudin Rasad. Kamarudin kemudian menurunkan DNA yang sama kepada anak lelakinya, Zulfikar Kamarudin. Jika benar kerangka yang diperiksa adalah Tan Malaka, profil Y-STR dari kerangka tersebut akan sama dengan profil Y-STR dari Zulfikar.

Pemeriksaan terhadap sampel gigi maupun tulang atap tengkorak di beberapa lab DNA, baik di dalam maupun luar negeri, tidak berhasil mendapatkan DNA manusia sehingga tidak didapatkan profil Y-STR dari kerangka yang diduga Tan Malaka tersebut. Kerangka tanpa DNA (bog body), terjadi akibat pengaruh lingkungan yang lembab di sekitar kerangka. Tak menyerah, Tim Indentifikasi kemudian berusaha mengekstraksi dan mencari profil Y-STR kerangka di lab DNA di Korea Selatan. 

Sejarawan Harry Poeze dalam kesempatan diskusi bukunya, Madiun 1948, PKI Bergerak, jilid keempat dari serial Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, menyatakan optimis hasil tes DNA di Korea positif Tan Malaka. Hasil tes DNA itu akan memastikan lokasi eksekusi Tan Malaka dan menjadi bukti kuat tesisnya yang menduga pengarang buku Madilog itu dikuburkan di pemakaman umum Desa Selopanggung, Kediri.

Petunjuk yang menguatkan optimisme Poeze adalah hasil pemeriksaan antropologi forensik bahwa kerangka yang ditemukan pada kedalaman dua meter itu, seorang laki-laki, ras Mongoloid, tinggi badan 163-165 cm, dikubur secara Islam, tanda patah tulang tidak jelas. Pemeriksaan odontologi forensik terhadap rahang dan gigi geligi menunjukkan kerangka adalah seorang laki-laki, ras Mongoloid, usia 40-60 tahun, atrisi berat pada semua permukaan gigi depan, dan ada riwayat pernah sakit gigi. 

Bagi Poeze, yang menarik dari kesimpulan itu yakni kerangka kedua lengan bawah tersilang ke belakang yang menandakan bersangkutan meninggal dengan cara ditembak mati, sesuai hasil penelitian Poeze yakni Tan Malaka meninggal karena ditembak mati atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalion Sikatan bagian Divisi IV Jawa Timur pada 21 Februari 1949. Poeze berpendapat bahwa kekurangan hasil DNA bisa dipadukan dengan keterangan saksi-saksi sejarah yang telah diwawancarai olehnya ketika melakukan penelitian tentang jejak-jejak Tan Malaka. Ketika berita ini diturunkan, konferensi pers mengenai hasil penyelidikan DNA Tan Malaka masih berlangsung di Wisma Shalom, Senen, Jakarta Pusat.



View the original article here



Peliculas Online