Kamis, 13 Oktober 2011

CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur merupakan nama sebuah candi Buddha yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah baratdaya Semarang dan 40 km di sebelah baratlaut Yogyakarta, dan berada pada ketinggian kira- kira 265,4 m di atas permukaan laut. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi ini diduga dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan candi itu diduga selesai pada 847 M. 

Menurut Prasasti Klurak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddha Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samaratthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
 
Mahayana (berasal dari bahasa Sansekerta: महायान, mahāyāna yang secara harafiah berarti 'Kendaraan Besar') adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India, digunakan atas tiga pengertian utama:
  1. Sebagai tradisi yang masih berada, Mahayana merupakan kumpulan terbesar dari dua tradisi Agama Buddha yang ada hari ini, yang lainnya adalah Theravada. Pembagian ini seringkali diperdebatkan oleh berbagai kelompok.
  2. Menurut cara pembagian klasifikasi filosofi Agama Buddha berdasarkan aliran Mahayana, Mahayana merujuk kepada tingkat motifasi spiritual (yang dikenal juga dengan sebutan Bodhisattvayana) Berdasarkan pembagian ini, pendekatan pilihan yang lain disebut Hinayana, atau Shravakayana. Hal ini juga dikenal dalam Ajaran Theravada, tetapi tidak dianggap sebagai pendekatan yang sesuai.
  3. Menurut susunan Ajaran Vajrayana mengenai pembagian jalur pengajaran, Mahayana merujuk kepada satu dari tiga jalan menuju pencerahan, dua lainnya adalah Hinayana dan Vajrayana. Pembagian pengajaran dalam Agama Buddha Vajrayana, dan tidak dikenal dalam ajaran Agama Buddha Mahayana dan Theravada.
Walaupun asal-usul keberadaan Mahayana mengacu pada Buddha Gautama, para sejarawan berkesimpulan bahwa Mahayana berasal dari India pada abad ke 1, atau abad ke 1 SM. Menurut sejarawan, Mahayana menjadi gerakan utama dalam Agama Buddha di India pada abad ke 5, mulai masa tersebut naskah-naskah Mahayana mulai muncul pada catatan prasasti di India. Sebelum abad ke 11 (ketika Mahayana masih berada di India), Sutra-sutra Mahayana masih berada dalam proses perbaikan. Oleh karena itu, beragam sutra dari sutra yang sama mungkin muncul. Terjemahan-terjemahan ini tidak dianggap oleh para sejarawan dalam membentuk sejarah Mahayana.
Dalam perjalanan sejarahnya, Mahayana menyebar keseluruh Asia Timur. Negara-negara yang menganut ajaran Mahayana sekarang ini adalah Cina, Jepang, Korea dan Vietnam dan penganut Agama Buddha Tibet (etnis Himalaya yang diakibatkan oleh invasi Cina ke Tibet). Aliran Agama Buddha Mahayana sekarang ini adalah "Pure Land", Zen, Nichiren, Singon, Tibetan dan Tendai. Ketiga terakhir memiliki aliran pengajaran baik Mahayana maupun Vajrayana.
Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Syailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa. Pada awal era Mataram Kuno, wangsa Syailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan wangsa Syailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah.

Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Syailendra tertera dalam prasasti Ligor, prasasti Nalanda maupun prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan candi-candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8 dan ke-9 yang bercorak Budha (Syailendra) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan yang bercorak Hindu (Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara.

Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Palembang. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun.
Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani dan putra bernama Balaputradewa.

Nama Borobudur sendiri masih mengandung banyak penafsiran dan banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalnya, kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara berasal dari kata vihara (Sansekerta) yang artinya kompleks candi atau biara dan budur yang berasal dari kata beduhur yang berarti di atas. Dengan demikian, Borobudur berarti “biara di atas bukit” yang mungkin diidentifikasikan dengan sebuah gunung yang berteras-teras (budhara). Sumber lain mengatakan Borobudur berarti “biara yang terletak di tempat tinggi”.  

Nama Borobudur diketahui terdapat dalam naskah Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, di mana disebutkan “biara di Budur”. Kemudian pada naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar. 

Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari dua juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton.
Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar.

Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.



Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat: enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Tersebar pula di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Buddha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Buddha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut. Candi Borobudur memiliki 504 stupa Buddha di kompleksnya.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga “unfinished Buddha”, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha—padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama. Patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan, patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa lem.
Candi Buddha ini memiliki 1.460 relief, di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita Jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya; mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meski sisi-sisi lainnya serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut:
Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara). Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang memunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan ukiran ini merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
Relief ini merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat Kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di surga mau pun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai “Pemutaran Roda Dharma”, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain mana pun. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat kebuddhaan.
Ada pun Awadana, pada dasarnya, hampir sama dengan Jataka tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti “perbuatan mulia kedewaan”, dan kitab Awadanasataka atau “seratus cerita Awadana”. Pada relief Candi Borobudur, Jataka dan Awadana diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup pada abad ke-4 M.
Relief ini menghiasi dinding lorong ke-2, adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles mau pun Residen Hatmann. Periode selanjutnya pemugaran dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.
Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya menemukan bentuk Candi Borobudur. Ada pun landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.
Robert von Heine Geldern (antropolog-etnolog Austria,) berdasarkan hasil penyelidikan yang ia lalukan menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolitik dan Megalitik yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalitik itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara mana pun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Buddhis di Indonesia. 
Monograf Borobudur untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis setahun kemudian. Monograf ini memuat ratusan sketsa dan gambar candi beserta isinya, dibuat atas prakarsa pemerintah Belanda dengan melibatkan sedikitnya tiga orang ahli: Leeman, Wilsen, dan Brumund. Sejak diterbitkan monograf ini, akses masyarakat luas (terutama Eropa) terhadap informasi Borobudur menjadi terbuka lebar. Mulai Borobudur mengambil tempat dalam “peta sejarah dunia” dan menarik perhatian para ahli untuk meneliti lebih jauh.
Restorasi pertama dilakukan dibawah pimpinan Theodore van Erp dengan dana pemerintah Belanda. Selain restorasi, dia membuat dokumentasi foto keadaan candi sebelum, selama, dan sesudah restorasi, serta melakukan pendataan dan inventaris jumlah stupa dan relief. Namun yang paling menonjol adalah keberhasilan van Erp merekonstruksi candi secara utuh hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang. Namun, sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi misteri Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, serta teknologi yang digunakan dan lagi proses pembuatan relief yang ada pada dinding-dinding candi, semuanya masih merupakan misteri yang membuat kita takjub.

Sultan Hamengkubuwono IX


Arnold C. Brackman adalah seorang mantan wartawan, yang di masa revolusi bertugas di Indonesia sebagai Kepala Biro Indonesia dari sebuah Kantor Berita Amerika United Press. Ia mengenal dan dekat banyak pemimpin perjuangan. Salah seorang di antaranya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ia juga dikenal sebagai penulis buku Indonesian Comunism.

Tulisannya yang pendek-pendek mengenai Sri Sultan dalam buku Tahta untuk Rakyat mencerminkan pengenalannya yang dalam mengenai mendiang Sultan Yogya itu. Ia tidak hanya menyebut HB IX A great Javanese dan A great Indonesian, tetapi ia pun mengkualifikasikannya sebagai A great human being — Seorang manusia yang besar.

Dalam menyoroti seorang tokoh, seorang pemimpin, apalagi seorang pemimpin yang dikagumi, seorang pemimpin yang besar jasanya dan diagungkan, kita memang sering lupa bahwa ia tetap seorang manusia biasa dengan kekuatan dan kelemahannya. Ia tetap seorang manusia yang manusiawi, betapa besar pun ia sebagai manusia. Ia mengenal kekecewaan dan kebosanan dalam perjuangan dan kehidupannya. Ia ingin mencintai dan dicintai, tidak saja oleh sesamanya dan massa yang tanpa rupa, tetapi oleh seseorang yang nyata, yang jelas sosoknya, yang hubungannya mengandung getaran bersifat pribadi.

Justru kemanusiaan yang manusiawi dari seorang pemimpin itulah yang mendekatkannya dengan manusia- manusia lain yang dipimpinnya, karena ia lantas mampu menghayati gejolak hati mereka, memahami liku-liku kehidupan mereka maupun aspirasi mereka, ia tidak menjadi seorang pemimpin yang kering yang hanya menuntut kepatuhan dan orang-orang yang dipimpinnya. Ia bukan seorang pemimpin yang hanya mengenal dalil keras: Bersamaku atau menjadi lawanku!
Kemanusiaan yang manusiawi dan seorang pemimpin itulah yang menjadikannya seorang demokrat.
*****
Karena tidak menyadari bahwa HB IX adalah juga seorang manusia yang manusiawi itulah maka Kitty, seorang putri Brackman, terheran-heran ketika ia melihat apa yang diperbuat HB IX di rumahnya. Ketika itu awal tahun 1960-an. HB IX sedang berada di Amerika Serikat untuk berobat mata. Pada suatu hari ia singgah di rumah Brackman, untuk memenuhi undangannya makan malam. Begitu tiba, Sri Sultan langsung melepas sepatunya dari bepergian. Ia pun lantas bersantai.
Kata Brackman, Kitty yang ketika itu berumur sekitar sepuluh tahun, dan dibesarkan di Jawa, selalu ingat “peristiwa yang sangat manusiawi itu” (that very human incident).

Bisa juga dikatakan, peristiwa kecil itu menyebabkan Kitty dapat “menangkap” kemanusiaan Sri Sultan yang manusiawi.
Kemanusiaan HB IX yang manusiawi itulah jawaban terhadap pertanyaan, yang menurut Brackman, mestinya diajukan oleh orang-orang Indonesia masa kini, yang menjadi semakin feodalistis dalam tindak-langkah maupun pandangannya. Bunyi pertanyaannya: “How is it possible that the country’s most feudal lord, Sri Sultan, is so unfeudal in his manner and thinking ?“ – “Bagaimana mungkin, penguasa yang paling feodal di negeri ini, begitu tidak feodal di dalam tindak-langkah dan pemikirannya?”

Kemanusiaan Sri Sultan yang tetap manusiawi itu jugalah yang melahirkan suatu peristiwa yang dikisahkan oleh A.R. Baswedan berikut ini:
Ketika itu sedang berlangsung sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang pertama di Malang. Malam mulai larut dan sidang terasa bertele-tele. Di luar gerimis. Sri Sultan duduk di pojok ruangan, dan Baswedan di ujung yang lain. Sri Sultan kelihatan kesal, bosan dan kedua kakinya diluruskan.
Begitu melihat Baswedan, Sultan lantas berdiri dan mendekatinva. “Saudara Baswedan ayo kita keluar”. Di luar udara dingin, dan Sultan pun merapatkan mantelnya. Keduanya lalu memasuki sebuah warung kecil dipinggir jalan yang hanya diterangi sentir. Mereka memesan kopi panas, dan makan dua pisang goreng.

Kemanusiaan yang manusiawi Sri Sultan pulalah yang mendorongnya untuk membantu seorang wanita penjual beras mengangkut berasnya ke Pasar Kranggan di Kota Yogya dan daerah Kaliurang, tanpa si wanita tahu, siapa pengemudi jip yang menolongnya. Kemanusiaan yang manusiawilah memang yang menjadi sumber perikemanusiaan. Maka Ny. S.K. Trimurti yang mengisahkan peristiwa di Yogya itu, dan yang pernah cukup lama berhubungan kerja dengan Sri Sultan pun. memberikan kesaksian, bahwa Sri Sultan “Orangnya baik, pikirannya cerdas dan manusia yang humanistik. Maksud saya, manusia yang berperikemanusiaan”.
Ny. Trimurti mengisahkan peristiwa di Yogya itu tidak hanya didasarkan atas cerita orang lain. Ia sendiri berada tengah-tengah kerumunan orang di Kranggan, ketika si wanita penjual beras pingsan, begitu ia mengetahui bahwa pengemudi jip adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang sebelumnya sudah “diomelinya”, karena menolak uang angkutan yang diberikannya. Ia menganggap si sopir jip, yang juga membantu menurunkan berasnya yang berkarung-karung, tidak puas dengan uang imbalan yang diberikannya.

Setelah mengemukakan kisah itu, dan menyebut Sri Sultan adalah seorang manusia yang humanistik, Trimurti pun mengatakan, bahwa menurut pengamatannya, Sri Sultan “seperti tidak begitu tanggap kalau ada orang atau golongan yang mau memperalatnya, atau hanya mencari perlindungan saja”. Ini disebabkan kebaikan hatinya. Maka menurut kesan Trimurti, “Sri Sultan bukanlah seorang politikus dalam arti yang sesungguhnya. Malah menurut perhitungan atau kriteria politik dalam arti praktik, beliau kadang dinilai lemah atau kurang galak.”

Dengan kata lain, penilaian itu secara implisit mengatakan, bahwa manusia yang manusiawi, dan dengan demikian juga berperikemanusiaan, kurang mampu tampil sebagai politikus, walaupun manusia atau orang yang bersangkutan – seperti halnya Sri Sultan, — “menguasai pengetahuan politik. belajar politik dan mungkin selalu mengamati kejadian-kejadian politik”.
TIDAKKAH ada kemungkinan lain?

Manusia yang humanistik, yang karenanya adalah juga manusia yang baik, bisa saja tahu bahwa ia “diperalat”, dijadikan “pemberi perlindungan”, tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia pun sengaja diam, melihat tindakan-tindakan orang lain yang sebenarnya tidak disetujuinya. Ia sengaja diam. Barangkali karena ia berpegang pada semboyan bahwa “kebaikan akhirnya toh akan mengalahkan kebatilan” (suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti), atau barangkali ia berpendapat, percuma saja “berbicara”, karena pelaku tindakan-tindakan yang tidak disetujuinya itu toh tidak akan mendengarkan nasihatnya.

Sikap seperti itu memang sering sulit diketahui atau sulit dipahami oleh orang yang tidak dekat sekali hubungannya dengan si empunya sikap. Demikian pula sering tidak mudah “ditangkap” dan tidak mudah dipahami oleh masyarakat luas, tindak — langkah tertentu seseorang yang ditokohkan, seseorang yang dinilai sebagai pemimpin besar. Ketidakmampuan untuk memahami itu sering disebabkan, karena orang tidak menyadari, atau “tidak mengizinkan” bahwa pemimpin atau tokoh itu adalah tetap seorang manusia biasa, seorang manusia yang manusiawi.

P. Swantoro, journalist, mantan Wakil Pemimpin Harian Umum KOMPAS / Komisaris Utama Kelompok KOMPAS-Gramedia – KoKi

Rabu, 28 September 2011

PENERUS TAHTA SALAKANAGARA


Dari perkawinannya dengan Pohaci Larasati, Dewawarman I mempunyai beberapa orang anak. Anak yang tertua, laki‑laki. Kelak, ia menggantikan kedudukan ayahnva sebagai penguasa di Salakanagara, dengan nama nobat Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. la menjadi Dewawarman lI yang memerintah dari tahun 90 sampai 11'7 Saka atau tabun 168 sampai 198 Masehi. la menikah dengan puteri keluarga Raja Singala (Sri Langka).
Dari perkawinan ini lahir seorang putera, yang kemudian menjadi Dewawarman III dengan gelar Prabhu Singasagara Bimayasawirya. la menjadi penguasa Salakanagara dari tahun 117 sampai 160 Saka (195 ‑ 238 Masehi). Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan bajak laut dari negeri China, yang dapat dihadapinya dan ditumpasnya. Dewawarman III kemudian mengadakan hubungan (pamitran) dengan maharaja China dan raja‑raja India. Permaisuri Dewawarman III berasal dari Jawa Tengah.
Puteri tertua yang lahir dari perkawinan ini bernama Tirta Lengkara. Puteri sulung ini berjodoh dengan Raja Ujung Kulon bernama Darma Satyanagara. Kelak ia menggantikan mertuanya menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewawarman IV, yang memerintah dari tahun 160 sampai 174 Saka (238 - 252 Masehi). Dari perkawinan ini lahir puteri sulung bernama Mahisasuramardini Warmandewi. Bersama suaminya yang bernama Darmasatyajaya sebagai Dewawarman V, ia memerintah selama 24 tahun (174‑198 Saka). Ketika Dewawarman V yang merangkap sebagai Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut) gugur waktu perang menghadapi bajak laut, sang rani, Mahisasuramardini melanjutkan pemerintahannya seorang diri sampai tahun 211 Saka (289 Masehi).
Penguasa Salakanagara berikutnya adalah Ganayanadewa Linggabumi, putera sulung Dewawarman V atau Sang Mokteng Samudra (yang mendiang di lautan). Prabu Ganayana menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewawarman VI selama 19 tahun, dari tahun 211 sarnpai 230 Saka (289 - 308 Masehi). Dari perkawinannya dengan puteri India, ia mempunyai tiga putera dan tiga puteri.
Putera sulungnya yang kemudian menjadi Dewawarman VII, memerintah Salakanagara tahun 230 sampai 262 Saka (308‑340 Masehi), bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati. Yang kedua, seorang puteri yang bernama Salaka Kancana Warmandewi, yang menikah dengan menteri Kerajaan Gaudi (Benggala) di India bagian timur. Puteri yang ketiga bernama Kartika Candra Warmandewi. la menikah dengan seorang raja muda dari negeri Yawana. Yang keempat, laki-laki bemama Gopala Jayengrana. la menjadi seorang menteri Kerajaan Calankayana India. Yang kelima, seorang puteri bernama Sri Gandari Lengkaradewi. Suami puteri ini adalah menteri panglima angkatan laut kerajaan Pallawa di India. Putera bungsu Dewawarman VII adalah Skadamuka Dewawarman Jayasastru yang menjadi senapati Salakanagara.
Putera sulung Dewawarman VII bernama Sphatikarnawa Warmandewi. Kelak bersama suaminya akan menggantikan ayahnya sebagai penguasa Salakanagara kedelapan. Dewawarman VII mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Bakulapura (Kutai) karena pertalian kerabat permaisurinya. Kakak sang permaisuri ini menikah dengan penguasa Bakulapura (di Kalimantan) yang bernama Atwangga putera Sang Mitrongga. Mereka keturunan wangsa Sungga dari Maganda, yang pergi mengungsi tatkala negerinya dilanda serangan musuh. Dari puteri ini dengan Atwangga, lahirlah Kudungga yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Bakulapura.
Ketika Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati atau Dewawarman VII wafat, tibalah Senapati Krodamaruta dari Calankayana, di Rajatapura (ibukota Salakanagara), bersama beberapa ratus orang anggota pasukannya, bersenjata lengkap. Krodamaruta adalah putera Gopala Jayengrana, yaitu putera Dewawarman VI yang keempat. Yang menjadi menteri di kerajaan Calankayana. Krodamaruta langsung merebut kekuasaan dan tanpa menghiraukan adat pergantian tahta, ia menobatkan diri menjadi penguasa Salakanagara.
Akhli waris tahta yang sah, adalah Sphafikarnawa Warmandewi, puteri sulung Dewawarman VII. Ia belum bersuami karena kelakuan Krodamaruta bertentangan dengan adat, sekalipun ia masih cucu Dewawarman VI, keluarga keraton beserta sebagian penduduk Salakanagara tidak menyenanginya. Akan tetapi, Krodamaruta tidak lama berkuasa, karena ia tewas tertimpa batu besar, ketika sedang berburu di hutan. Batu itu berasal dari puncak sebuah bukit. Akibat peristiwa itu, Krodamaruta hanya 3 bulan menjadi `penguasa' Salakanagara.
Kemudian, Sphatikarnawa Warmandewi, puteri sulung Dewawatman VII, dinobatkan menjadi penguasa Salakanagara menggantikan ayahnya, pada tahun 262 Saka (340 Masehi). Pada tahun 270 Saka, Sang Rani menikah dengan saudara sepupunya, putera Sri Gandari Lengkaradewi, yaitu puteri Dewawarman VI yang kelima. la bersuamikan panglima angkatan laut Kerajaan Pallawa. Lengkaradewi beserta suami dan puterinya, datang ke Rajatapura dalam tahun 268 Saka (346 Masehi) sebagai pengungsi, karena negaranya (Pallawa) telah dikuasai oleh Maharaja Samudragupta dari keluarga Maurya.
Setelah pernikaharmya, Rani Sphatikarnawa Warmandewi memerintah bersama‑sama suaminya, sebagai Dewawarman VIII bergelar Prabhu Darmawirya Dewawarman. Ia memerintah tahun 270 sampai 285 Saka (348‑363 Masehi).
Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII, kehidupan penduduk makmur sentosa. la sangat memajukan kehidupan keagamaan. Di antara penduduk, ada yang memuja Wisnu, namun jumlahnya tidak seberapa. Ada yang memuja Siwa, ada yang memuja Ganesha, dan ada pula yang memuja Siwa-Wisnu. Yang terbanyak pemeluknya adalah agama Ganesha atau Ganapati.
Dewawarman VIII mempunyai putera‑puteri beberapa orang. Yang sulung, seorang puteri bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Yang kedua, seorang putera bernama Aswawarman. la diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga penguasa Bakulapura, kemudian, ia dijodohkan dengan puteri Sang Kudungga. Yang ketiga, seorang puteri bernama Dewi Indari yang kelak diperisteri oleh Maharesi Santanu, Raja Indraprahasta yang pertama. Putera Sang Dewawarman VIII yang lainnya, tinggal di Sumatera dan menurunkan para raja di sana. Di antara keluarganya kelak adalah sang Adityawarman. Anggota keluarganya yang lain, tinggal di Yawana dan Semenanjung. Puteranya yang bungsu menjadi putera mahkota. Kelak setelah ayahandanya wafat, ia menggantikarmya menjadi penguasa Salakanagara.
Permaisuri Dewawarman VIII ada dua orang. Permaisuri yang pertama ialah Rani Sphatikarnawa Warmandewi yang menurunkan raja-raja di Jawa Kulwan dan Bakulapura. Permaisuri yang kedua, bernama Candralocana, puteri seorang brahmana dari Calankayana di India. la menurunkan raja-raja di Pulau Sumatera, Semenanjung, dan Jawa Tengah.
Demikianlah kisah keturunan Dewawarman Darmalokapala yang menjadi penguasa Salakanagara. Kerajaan ini berdiri sebagai kerajaan bebas, selama 233 tahun (130‑363 Masehi). Dewawarman VIII, dianggap sebagai raja Salakanagara terakhir, sebab puteranya, Dewawamm IX, sudah menjadi raja bawahan Tarumanagara.
Sumber: Sejarah Kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, hal.31-32.

DEWAWARMAN

Berdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1, oleh Pangeran Wangsakerta, diriwayatkan sebagai berikut:

/jwah tambaya ping prathama sa kawarsa riking wus akweh wwang bharata nagari tekan jaruadwipa mwang nusantara i bhumi nusantara// denira pramanaran dwipantara nung wreddhi prethiwi// pantara ning sinarung teka n jawadwipa/ hana n upakriya wikriya/ hansing mawarah marahaken sanghyang agama/ hanasing luputaken sakeng bhaya kaparajaya/ ya thabhuten nagarinira/ mwang moghangde nikang agong panigit ring nusa‑nusa i bhumi nusantara//a
Terjemahanannya:
Kelak, mulai awal pertama tahun Saka di sini telah banyak orang‑orang negeri Bharata (India) tiba di Pulau Jawa dan pulau‑pulau di bumi Nusantara. Karena Nusantara terkenal sebagai tanah yang gembur. Di antara mereka, yang tiba di Pulau Jawa, ada yang berdagang dan mengusahakan pelayanan, ada yang mengajarkan Sanghyang Agama (ajaran agama), ada yang menghindarkan diri dari bahaya yang akan membinasakan dirinya, seperti yang telah terjadi di negeri asalnya, yang menyebabkan mengungsi ke pulau-pulau di bumi Nusantara.

Karena mereka semua mengharapkan kesejahteraan hidupnya bersama anak isterinya. Terutama para pendatang, banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi negeri Bharata (India). Dua wangsa inilah, yang sangat banyak berdatangan di sini, dengan menaiki beberapa puluh buah perahu besar‑kecil. Yang dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba mula-mula di Jawa Kulwan (Barat), maka mereka bertujuan yaitu untuk berdagang dan mengusahakan pelayanan.
Mereka senantiasa datang di sini, dan mereka kembali membawa rempah-rempah ke negerinya. Di sini, Sang Dewawarman telah bersahabat dengan warga masyarakat di pesisir Jawa Kulwan (Barat), Pulau Api dan Pulau Sumatera sebelah selatan, terutama Sang Dewawarman sebagai duta dari wangsa Pallawa.
Permulaan pertama tahun Saka, di pulau‑pulau Nusantara, telah banyak golongan warga masyarakat, yang menjadi pribumi tiap dusun. Di antaranya ada yang bermusuhan, ada juga yang berkasih‑kasihan berbimbingan tangan. Dukuh itu ada yang besar, ada yang kecil. Dukuh besar ada di tepi laut, atau tidak jauh dari muara sungai. Bukankah selalu berdatangan orang lain atau wilayah lain. Terutama pedagang dari negeri Bharata (India), negeri Singhala, negeri Gaudi, negeri Cina dan sebagainya.
Ramailah kemudian dukuh‑dukuh di tepi laut. Dengan demikian, ramailah perdagangan antara pulau-pulau di bumi Nusantara dengan negara lain dari benua utara sebelah barat dan timur. Tetapi, yang banyak datang dari negeri Bharata (India), golongan pendatang dari negeri Bharata (India) itu dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba di dukuh pesisir Jawa Kulwan (Barat).
Para pendatang itu bersahabat dengan penghulu dan warga masyarakat di sini. Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir Jawa Kulwan (Barat) sebelah barat, namanya terkenal, Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya namanya yang lain. Selanjutnya, puteri Sang Aki Luhur Mulya, namanya terkenal Pwahaci Larasati (Pohaci Larasati), diperisteri oleh Sang Dewawarman. Dewawarman ini, disebut oleh mahakawi (pujangga besar) sebagai Dewawarman pertama.
Akhirnya semua anggota pasukan Dewawarman menikah dengan wanita pribumi. Oleh karena itu, Dewawarman dan pasukannya, tidak ingin kembali ke negerinya. Mereka menetap dan menjadi penduduk di situ, lalu beranak pinak.
Beberapa tahun sebelumnya, Sang Dewawarman menjadi duta keliling negaranya (Pallawa) untuk negeri‑negeri lain yang bersahabat, seperti kerajaan‑kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, China, dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempererat persahabatan dan berniaga hasil bumi, serta barang barang lainnya.
Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal, ia menyerahkan kekuasaannya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula para pengikut Dewawarman, karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.
Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ, dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara, sedangkan isterinya, Pohaci Larasati menjadi permaisuri, dengan nama nobat, Dewi Dwanu Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara (salaka= perak).
Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa Kulwan bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa. Laut di antara Pulau Jawa dengan Sumatera, masuk pula dalam wilayahnya. Oleh karena itu, daerah- daerah sepanjang pantainya, dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman, sebab jalur ini merupakan gerbang laut. Perahu‑perahu yang beralayar dari timur ke barat dan sebaliknya, harus berhenti dan membayar upeti kepada Sang Dewawarman. Pelabuhan‑pelabuhan di pesisir barat Jawa Kulwan, Nusa Mandala (mungkin Pulau Panaitan), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan, dijaga oleh pasukan Dewawarman.
Wangsa Dewawarman memerintah Kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Kulwan, dengan ibukota Rajatapura (Kota Perak). Kota besar lainnya lagi, Agrabhintapura ada di wilayah sebelah selatan. Agrabhintapura, dipimpin oleh raja daerah bernama Sweta Limansakti, adik Dewawarman. Sedangkan adiknya yang lain, yang bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, diangkat menjadi raja daerah penguasa mandala Hujung Kulon.
 Sumber: Sejarah Kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, hal 29-31.

Asal Usul Mahapatih Gajah Mada

Gajah Mada (1299-1364) Mahapatih majapahit yang sangat terkenal dengan sumpah palapanya merupakan satu-satunya orang kuat pada jamannya di nusantara. Salah satu keruntuhan kerajaan Majapahit dikatakan karena tidak memiliki orang kuat yang lain yang cakap untuk menggantikan gajah Mada. Panglima Perang yang ditunjuk menjadi Mahapatih kerajaan Majapahit menggantikan Arya Tadah pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)


Sebagai mahapatih dia berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta (1331) dan kemudian berikrar untuk mempersatukan Nusantara dengan sumpahnya yang dikenal sebagai Sumpah Palapa. Serat Pararaton memuat Sumpah Palapa yang diucapkan dihadapan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai berikut:

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”

artinya :

“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”

Sepeninggalan Gajah Mada Namanya terus di kenang  bukan saja di tanah air akan tetapi sampai di kawasan asia tenggara (yang dulu di sebut Nusantara) bahkan nama Gajah Mada di pakai sebagai nama salah satu Universitas Terkemuka di Indonesia dan juga di pakai sebagai Nama Hotel Berbintang 5.

Sayang sekali asal-usul Mahapatih Gajah Mada yang sangat masyur ini belum jelas diketahui Orang,baik meyangkut Nama orang Tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya.
Muhammad yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka,cet ke-6,1960,hal 13 Mengungkapkan tokoh ini sebagai :

“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14. Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakandengan lalim oleh sejarah”

Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa gajah mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna,diperkirakan sekitar tahun 1300 M. Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah,salah satunya bpk I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.

Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikam

Asal Usul Gajah Mada
Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit
Emphu keturunan pada waktu memerintah dibali
Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yanfg menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

Ringkasan Isi Teks Lontar Babad Gajah Maddha
Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.

Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.

Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah),sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih  . Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud,(“masiluman”)) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.

Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.

Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu,dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari,bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.

Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu,mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan,lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.

Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”

Interpretasi (tafsiran) dari Isi
1. Pada halaman 2a Lontar Babad Gajah Maddha (sealanjutnya di singkat dengan B.G.M) dikatakan bahwa oran tua Gajah Mada berasal dari Wilatikta yang disebut juga Majalangu (B.G.M hal.1b) Disebelah selatan “Lemah Surat” terletak “Giri Madri” yang dikatakan berada dekat dengan Wilatikta (B.M.G Hal.6a)pada B.M.G hal.6b dikatakan hampir setiap hari Patni Nariratih pulang pergi dari wilatikta,megantar makanan suaminya di asramanya di gili Madri yang terletak disebelah selatan wilatikta. Hal ini berarti Gili Madri terletak disebelah selatan Lemah Surat dan juga disebelahselatan Wilatikta. Jarak antara Gili Madri dengan Wilatikta dikatakan dekat.Tetapijarak antara Lemah Surat dengan Wilatikta begitu pula arah dimana letak Lemah Surat dari Wilatikta tidak disebutkan dalam B.G.M

2. Pada B.G.M hal. 12a yang menyebutkan tentang kelahiran Gajah Mada, ada kalimat yang berbunyi “On Cri Caka warsa jiwa mrtta yogi swaha” kalimat ini adalah Candrasangkala yang bermaksud kemungkinan sebagi berikut:

On Cri Cakawarsa        = Selamatlah Tahun Saka
Jiwa                = 1 (satu)
mrtta                = 2 (Dua)
Yogi                = 2 (Dua)
Swaha                = 1 (satu)
jadi artinya : Selamat Tahun Saka 1221 atau tahun (1299 Masehi) seandainya itu  benar maka gajah mada dilahirkan pada tahun 1299 Masehi.

3. Mengenai nama Maddha B.G.M hal.10b – 11a disebutkan sebagai berikut:

Karena malu terhadap gurunya yakni : Mpu Ragarunting, begitu juga terhdap orang banyak, maka setelah kandungan Patni Nariratih membesar, lalu disjak ia oleh suaminya meninggalkan asrama pergi mengembara kedalam hutan dan gunung yang sunyi. Akhirnya pada malam hari,waktu bayi hendak lahir,mereka berdua menuju kesebuah desa yang bernama Maddha terletak di dekat kaki gunung semeru. didesa itulah sang Bayi dilahirkan disebuah “Bale-Agung” yang ada di Kahyangan (Temple) desa tersebut. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa desa Maddha,kemudian dibawa ke Wilatikta oleh seorang patihdan kemudian diberi nama Maddha jadi jika demikian halnya nama Maddha berasal dari nama desa.
Nama Gajah oleh B.G.M sama sekali tidak disebutkan.kemungkinan besar nama gajah adalah nama  kemungkinan nama tambahan atau nama julukan atau bisa juga nama Jabatan (Abhiseka) bagi sebutan orang Kuat (?)
dengan demikian Gajah Mada berarti Orang kuat yang berasal dari Maddha.
4. Mengenai nama orang Tua Gajah Mada, ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya bernama Nariratih (B.G.M. hal 2a) Setelah mereka disucikan (Abhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat,nama mereka berubah menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih (B.G.M hal 3b) meraka berdua adalah brahmana (B.G.M hal. 2a)

Adapun didalam B.G.M hal. 9b, yang menyebutkan bahwa Patni Nariratih bersenggama dengan Dewa Brahma yang berganti rupa seperti suaminya sehingga Gajah Mada seolah-olah dilahirkan atas hasil senggama antara Patni Nariratih dengan Dewa Brahma, dapat kita tafsirkan sebagai berikut:
Pengungkapan Mitos demikian itu sudah tentu sukar diterima oleh akal mengingat motif yang demikian itu sudah banyak terdapat p[ada penulisan-penulisan babad, maka perlulah dicari Latar belakang dari hal-hal yang dimythoskan itu Perkiraan yang dapat kami tangkap adalah:

Mpu Curadharmayogi dan istrinya Patni Nariratih adalah melakukan brata “Sewala Brahmacari” yang berarti sejak mereka menjadi pendeta mereka tidak diperbolehkan untuk berhubungan sex atau senggama oleh karena itu mereka berpisah tempat Sang suami ber asrama di Gili Madri sedangkan Sabng istri bertempat tinggal di Wilatikta tetapi kedua suami istri ini masih saling bertemu karena sang istri acapkali membawakan makanan untuk sang suami.
Pada suatu ketika yaitu pada hari Coma, Umanis, Tolu, Cacil ka daca (senin, Legi, Tolu ,bulan april) Patni Nariratih membawakan suaminya santapan. Pada waktu hendak makan,air minum tiba-tiba tumpah.Dengan tidak sadar keluarlah kata-kata dari Patni Nariratih : “ih ah palit dewane plet”yang maksudnya kemaluan suaminya kelihatan (B.G.M ha. 7a). Dalam B.G.M hal.7b dikatakan bahwa kata-kata tersebut didengar oleh Dewa Brahma. disinilah menurut Interpretasi kami bahwa yang mendengar hal tersebut tidak lain adalah suaminya sendiri, sehingga timbuh hasrat birahi ingin bersenggama dengan suaminya,Akhirnya senggama tersebut terjadi antara Patni Nariratih dengan suaminya sendiri. Mengapa demikian, karena menurut interpretasi kami, Brahma adalah sebagai dewa pencipta/penumbuh (konsep trimurti) dan ini sering digunakan sebagai mythologi sebagai sumber kelahiran seseorang yang ke-namaan atau termasyur. Jadi logislah disin untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi maka dipakailah Dewa Brahma sebagai gantinya. Mengapa dikatakan senggama itu terjadi dengan Dewa Brahma, Kiranya ini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi sebagai seorang”Sewala-brahmacari” itulah sebabnya setelah Patni Nariratih hamil mereka segera pergi dari asrama unuk menyembunyikan diri.
Mengenai Lahirnya Sang bayi pada balai agung di sebuah kahyangan di desa maddha. ini kira-kiranya memang diusahakan oleh Mpu Curadharmayogi dan Patni Nariratih menurut penafsiran kami: Balai Agung adalah merupakan sebuah balai yang patut ada di dalam sebuah “Kahyangan Desa”(Pura desa) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan diri dari noda-noda spritual.
Hal yang demikian ini dapat dibandingkan dengan keadaan di Bali sampai sekarang, Bahwa Bale-Agung terletak didalam Pura Desa yaitu salah satu Kahyangan Tiga yang ada pada tiap-tiap desa. Pura Desa ini adalah Sthana Dewa Brahma dalam fungsi sebagi pencipta. Jadi logislah orang tua Gajah Mada mengusahakan Balai Agung sebagai tempat untuk melahirkan bayi dengan maksud :

Proses kelahiran berjalan lancar bayi terhindar dari noda-noda spritual
Supaya bayi tersebut dianggap dilahirkan dari sumber pebcipta
Supaya ada orang yang memungut dan memeliharanya.
Dari berbagai Sumber.
http://superartikel.com/2009/04/18/asal-usul-mahapatih-gajah-mada-serat-babad-gajah-maddha/