Tampilkan postingan dengan label api sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label api sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2011

Janda Rawagede Kalahkan Belanda Kemenangan Melawan Lupa dari Rawagede

Sejarah adalah perjuangan melawan lupa; dan Rawagede menjadi bukti kemenangan perjuangan itu. Bagi Belanda, pembantaian tentaranya yang menewaskan ratusan orang di Rawagede, Karawang, Jawa Barat itu hanyalah cerita yang sudah kadaluwarsa.

Pemerintah Indonesia juga kurang peduli dengan pembantaian biadab pada 9 Desember 1947 itu. Nama Rawagede pun sekarang sudah tidak ada dan diganti menjadi Balonsari. Saksi pembantaian itu hanya tersisa segelintir orang dan sudah sangat sepuh. Tapi mereka yang tersisa tidak mau menyerah untuk terus menggugat keadilan. Mereka tidak mau kejahatan HAM di Rawagede dilupakan. Akhirnya, setelah 64 tahun pembantaian berlalu, keadilan berpihak pada mereka.

Rabu, 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menerbitkan vonis yang memenangkan tuntutan 9 janda dan korban pembantaian di Rawagede. Dilansir BBC, pengadilan di Den Haag menyatakan pemerintah Belanda bertanggung jawab atas pembantaian yang dilakukan tentaranya di Rawagede. "Alhamdulillah," kata Wasiah, salah satu janda dari korban pembantaian Rawagede yang ikut menggugat, menanggapi kemenangan gugatan itu. Gugatan para korban pembantaian Rawagede sejatinya bermula dari buku berjudul 'Riwayat Singkat Makam Pahlawan Rawagede'. Buku itu ditulis Sukarman, ahli waris korban, dan diterbitkan pada 1991.  Ayah Sukarman, Sukardi adalah pejuang Indonesia yang lolos dari pembantaian Rawagede.

Sementara ibunya, Cawi, adalah janda korban pembantaian itu. Sukarman menulis buku itu karena tidak ingin pengorbanan besar rakyat Rawagede demi kemerdekaan itu dilupakan begitu saja. Ia tidak mau peristiwa itu 'hanya' dikenang melalui bait puisi "Karawang-Bekasi" karya Chairil Anwar. "Peristiwa Rawagede itu sangat memilukan, saya ingin menceritakan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi di Rawagede pada 9 Desember 1947," ujar mantan Kepala Desa Rawagede itu, saat ditemui detik+ di rumahnya. 'Riwayat Makam Pahlawan Rawagede' berisi keterangan istri-istri para korban yang masih hidup. Saat itu, tahun 1991 waktu buku dibuat, jumlah janda korban Rawagede masih 50 orang. Kini mereka tinggal 6 orang yang masih hidup, salah satunya Cawi, ibunda Sukarman. Suami Cawi, Bendol, dibantai pasukan Belanda di Rawagede.

Tiga tahun setelah pembantaian itu, Cawi menikah dengan Sukardi, pejuang Indonesia yang lolos dari pembantaian sadis itu. Dari pernikahan itulah lahir Sukarman. "Saya tidak lagi dendam," kata Cawi mengenang pembantaian itu. Dari kedua orangtuanya itulah, Sukarman mendapatkan cerita yang utuh pembantaian Rawagede. Tanpa disangka buku Sukarman menyebar ke Belanda karena dibawa pengurus Badan Kontak Legium Veteran RI Alif Jumhur.

Di Belanda, buku itu menyedot perhatian akademisi, politisi dan wartawan hingga kemudian dicetak ulang. Orang-orang Belanda sangat kaget dengan kisah pembantaian di buku itu. Yang mereka tahu Indonesia adalah bagian dari Kerajaan Hindia Belanda sehingga tidak ada penjajahan apalagi pembantaian. Beberapa bulan setelah buku itu beredar, sejumlah akademisi dan wartawan Belanda datang ke Rawagede. Mereka berupaya menggali peristiwa yang sebenarnya di desa yang jaraknya 20 kilometer dari Kota Karawang tersebut. "Setiap bulan ada saja wartawan atau peneliti Belanda yang datang ke Rawagede sejak 1994," kata Sukarman.

Di Indonesia sendiri, tampaknya buku itu hanya menarik perhatian para veteran termasuk Pangdam Siliwangi saat itu, Mayjen TNI Tayo Tarmadi. Begitu membaca buku itu, Tayo langsung mendatangi Sukarman. Tayo meminta Sukarman untuk mengusulkan pendirian Yayasan Rawagede dan mengumpulkan kuburan para korban dalam satu lokasi berikut membangun monumen. Akhirnya, pada 1995, Bupati Karawang saat itu, Mangkuwijaya, menyetujui penyatuan makam jenazah korban Rawagede. Sang Bupati dan Pangdam Siliwangi mengumpulkan pengusaha sehingga terkumpul sumbangan Rp 400 juta untuk membangun pemakaman yang layak bagi 431 jenazah korban Rawagede.

Pembangunan Monumen Rawagede rampung pada Oktober 1996. Setelah itu setiap 9 Desember, Muspida Karawang mengadakan upacara di monument itu. Begitu monumen berdiri, sejumlah veteran dan LSM HAM Belanda menyarankan Sukarman dan ahli waris menggugat pemerintah Belanda untuk mendapatkan ganti rugi atas pembantaian itu. Pada 16 Agustus 2007, para janda korban dan ahli waris termasuk saksi mata pembantaian itu Sya'ih bin Sakam, melakukan demo di kedubes Belanda di Jakarta. Tapi aksi itu tidak direspons. Bukan hanya Belanda yang tidak merespon, pemerintah Indonesia juga tidak peduli.

Karena tidak direspons, para korban dan ahli waris lantas menggugat secara hukum. Gugatan yang dilakukan bersama Komite Utang dan Kehormatan Belanda, yang dipimpin Batara Hutagalung itu dilayangkan pada Oktober 2008 di Belanda. Sejauh itu, pemerintah Indonesia tidak juga menunjukan dukungan. "Pemerintah tidak berbuat apa-apa. Mungkin merasa tidak enak sama Belanda," kata Sukarman. Untungnya akademisi, wartawan, serta anggota parlemen Belanda dari partai oposisi mendukung gugatan itu. Bahkan 19 September 2008, dua anggota parlemen Belanda, Harry van Bommel dari Partai Sosialis dan Joel Voordewind dari Partai Uni Kristen (ChristenUnie) bertemu para korban termasuk Wasiah dan Sya'ih di Jakarta. Pada 2010, Sukarman dan Sya'ih datang ke Belanda untuk memberikan kesaksian.

Kemudian awal 2011, Sukarman datang lagi menghadap pengadilan Belanda. Melihat jalannya persidangan, awalnya Sukarman pesimistis gugatan bakal menang. Itu sebabnya Sukarman dan kuasa hukum penggugat mempersiapkan banding. Tapi berbarengan proses sidang, ternyata media massa di Belanda mengulas keterangan sejumlah veteran tentara Belanda (Veteran LMD). Media Belanda menulis keterangan 5 orang bekas tentara Belanda yang pernah bertugas di Jakarta. Mereka mengakui pernah melakukan penembakan di Rawagede. Bahkan kelima veteran ini siap memberikan ganti rugi melalui koceknya sendiri sebagai kompensasi dari kebrutalan mereka saat bertugas di Rawagede. "Awalnya pemerintah Belanda ngotot kalau kasus ini sudah kadaluwarsa. Tapi karena kesaksian 5 pelaku pembantaian itu, majelis hakim mungkin jadi berubah pikiran," duga Sukarman.

sumber: Deden Gunawan - detik News, http://sejarahkita.blogspot.com/2011/10/janda-rawagede-kalahkan-belanda.html

Kamis, 13 Oktober 2011

CANDI MENDUT

Candi Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang agama Buddha. Candi ini terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.

Kronologi penemuan

  • 1836 – Ditemukan dan dibersihkan
  • 1897 – 1904 kaki dan tub uh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan.
  • 1908 – Di perbaiki oleh Theodoor van Erp. Puncaknya dapat disusun kembali.
  • 1925 – seju mlah stupa disusun kembali.



Tiga arca di dalam candi Mendut, arca Dhyani Buddha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.

Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Dewa adalah istilah dalam ajaran Hindu dan Buddha untuk keberadaan spiritual yang memiliki kekuatan supranatural; sedangkan Dewata (Dewanagari: देवता), atau disebut tevoda (ទេវតា) dalam bahasa Khmer), adalah dewa dengan kedudukan yang lebih rendah daripada dewa-dewa utama. Istilah dewata juga berarti "Para Dewa" atau dewa dalam bentuk jamak. Dewata dapat berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Terdapat banyak jenis dewata sepeti: wanadewata (roh penjaga hutan, mungkin aslinya merupakan pemujaan terhadap roh-roh yang melambangkan kekuatan alam), gramadewata (dewa desa), dewata penjaga penyeberangan sungai, gua, gunung, dan tempat-tempat keramat lainnya. Dewata penjaga penjuru mata angin disebut Dewata Lokapala atau Dewata Nawa Sanga. Masing-masing kasta Hindu memiliki dewata pelindung, dan setiap aktivitas manusia memiliki dewata perwujudannya dalam ranah spiritual atau aspek rohani.
Beberapa makhluk surgawi yang terkenal termasuk dalam bangsa dewata, antara lain apsara atau bidadari; gadis surgawi yang bertugas menguji keteguhan iman para pertapa, serta gandarwa; pria pemusik surgawi. Dewata seringkali muncul dalam kisah-kisah epik Hindu dan kisah suci Buddha. Pulau Bali terkenal dengan julukan sebagai "Pulau Dewata" karena kentalnya budaya Hindu, seperti banyaknya sesaji yang dipersembahkan untuk dewata penjaga di berbagai tempat di Bali.
Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.
Pañcatantra adalah sebuah karya sastra dunia yang berasal dari Kashmir, India dan ditulis pada abad-abad pertama Masehi.
Pañcatantra ini mengisahkan seorang brahmana bernama Wisnusarma yang mengajari tiga pangeran dungu putra prabu Amarasakti mengenai kebijaksanaan duniawi dan kehidupan, atau secara lebih spesifik disebut ilmu politik atau ilmu ketatanegaraan. Ilmu pelajarannya terdiri atas lima buku, itulah sebabnya disebut Pañcatantra yang secara harafiah berarti “lima ajaran”. Lima bagian ini merupakan lima aspek yang berbeda dari ajaran sang brahmana ini. Bagian-bagian tersebut di dalam buku bahasa Sansekerta yang berjudulkan Tantrakhyāyika dan dianggap sebagai redaksi Pañcatantra yang tertua, adalah sebagai berikut:
  1. Mitrabheda (Perbedaan Teman-Teman)
  2. Mitraprāpti (Datangnya Teman-Teman)
  3. Kākolūkīya (Peperangan dan Perdamaian)
  4. Labdhanāśa (Kehilangan Keberuntungan)
  5. Aparīkṣitakāritwa (Tindakan yang Tergesa-Gesa )
Ciri khas Pañcatantra ini terutama ialah bahwa ceritanya dikisahkan dalam bentuk cerita bingkai dan banyak mengandung fabel-fabel. Cerita bingkai ini juga disebut dengan istilah kathāmukha dan cerita-ceritanya semua dianyam menjadi satu dengan yang lain. Setelah setiap cerita yang biasanya dalam bentuk prosa, moral cerita diringkas dalam bentuk seloka.
Cerita-cerita fabel Pañcatantra banyak yang berdasarkan cerita-cerita jataka.
Pañcatantra yang bentuk aslinya ditulis dalam bahasa Sansekerta ini, mungkin adalah satu-satunya karya sastra kuna yang paling luas penyebarannya dan paling banyak diterjemahkan serta digubah di seluruh dunia. Ada kurang lebih 200 versi dalam 50 bahasa. Versi-versi ini tersebar dari Indonesia di ujung timur sampai Islandia di ujung barat Dunia Lama. Sudah jelas tentunya karya sastra ini banyak mengalami perubahan-perubahan dalam proses alihbahasa dan penggubahan ini.
Cerita Pañcatantra juga dibawa ke timur, menuju ke Asia Tenggara. Versi-versi yang diketahui ada dalam bahasa Thai, bahasa Laos dan beberapa bahasa di Indonesia. Selain bahasa Jawa dan Melayu, ada juga versi dalam bahasa Bali, bahasa Madura dan kemungkinan bahasa Sunda (Kuna) . Versi-versi dalam bahasa Jawa Kuna serta bahasa Thai dan bahasa Laos banyak memperlihatkan persamaan secara struktural dengan sebuah gubahan Pañcatantra dalam bahasa Sansekerta dari India bagian selatan yang disebut Tantropākhyāna. Bahkan seloka-seloka yang ada dalam versi prosa Jawa Kuna banyak yang menunjukkan persamaan dengan yang ada di Tantropākhyāna.
Tantropākhyāna yang masih ada sudah tidak lengkap lagi. Cerita bingkai atau kathāmuka sudah tidak ada dan dari empat buku yang semestinya ada, cuma tersisa tiga. Meskipun naskah Tantropākhyāna yang ditemukan ini tidak lengkap lagi, tetapi setelah diperbandingkan dengan sebuah versi dalam bahasa Tamil dan versi-versi Asia Tenggara lainnya yang masih berkerabat bisa disimpulkan bahwa Tantropakhyāna ini strukturnya agak berbeda dengan Tantrakhyāyika yang disinggung di atas ini, cerita-ceritanya juga lain. Tantropakhyāna tidak terdiri atas lima buku tetapi terdiri atas hanya empat buku yang namanya juga lain pula:
  1. Nandakaprakaraṇa (cerita seekor lembu)
  2. Maṇḍūkaprakaraṇa (cerita si kodok)
  3. Pakṣiprakaraṇa (cerita para burung)
  4. Piśacaprakaraṇa (cerita para pisaca (semacam raksasa))
Lalu kathāmukha atau cerita bingkainya juga berbeda. Di mana dalam Tantrakhyāyika seperti disinggung di atas ini mengisahkan seorang brahmana yang ingin mengajarkan ilmu politik kepada tiga pangeran yang dungu, dalam versi-versi lain yang berkerabat dengan Tantropakhyāna, cerita bingkai ini mengisahkan seorang raja yang ingin menikah setiap malam, mirip dengan kisah cerita "1001 Malam". Di sini harus diberi catatan bahwa cerita bingkai ini dalam naskah tunggal Tantropakhyāna sudah tidak tersimpan lagi. Dalam Tantri Kāmandaka, begitulah sebutan teks ini dalam bahasa Jawa Kuna, kathāmukha ini disebut Wiwahasarga, atau arti harafiahnya ‘kisah pernikahan’.
Cerita-cerita dari Pancatantra juga banyak ditemukan dalam bentuk relief. Relief-relief ini banyak pula ditemukan di pulau Jawa.
Jataka atau Jātaka (जातक) adalah sebuah kumpulan cerita tentang kehidupan-kehidupan sang Buddha ketika masih berwujud hewan, sebelum beliau menitis menjadi Siddharta Gautama. Cerita-cerita ini jumlahnya kurang lebih ada 547 dan aslinya ditulis dalam bahasa Pali.
Cerita yang dikisahkan dalam setiap Jataka adalah cerita fabel. Setiap kali sang Buddha yang menitis menjadi hewan atau bahkan pada sekali peristiwa sebuah pohon, dikisahkan. Setiap Jataka ditulis dalam bentuk prosa, namun pada akhir cerita, ditulis moral cerita dalam bentuk seloka bahasa Pali.
Cerita-cerita Jataka baik dalam bahasa Pali maupun dalam terjemahan lokal banyak diketemukan di Sri Lanka, Nepal, dan Tibet. Di Indonesia cerita Jataka tidak diketemukan dalam bentuk tekstual, namun banyak didapati cerita-cerita Jataka sebagai relief Candi Borobudur.
Ada kemungkinan cerita-cerita Jataka pada masa lampau diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan menjadi dasar fabel Aesopus.
Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi. Sekarang di depan arca Buddha diletakkan hio-hio dan keranjang untuk menyumbang. Para pengunjung bisa menyulut sebuah hio dan berdoa di sini.
Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan.
Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:
Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.
Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.
Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”
Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.
Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan si ular.
Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:
Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.
Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.
Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.
Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.
Dua burung betet yang berbeda.
Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta.
Arca Buddha sumbangan Jepang.
Persis di sebelah candi Mendut terdapat vihara Buddha Mendut. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an. Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang.
http://sunudotcom.blogspot.com/2010/11/candi-mendut.html

Kamis, 10 Maret 2011

API SEJARAH 2 Sungguh Luar Biasa


Pernah dinyatakan hilang dan terancam tidak jadi terbit ketika draft naskahnya “dicuri” oleh “peminjam tanpa permisi” saat seminar API SEJARAH di Gedung Juang ’45, Pemerintah Kotamadya Sukabumi. Salamadani sempat ketar- ketir dengan hilangnya draf buku itu, sebab dijadwalkan paling cepat terbit Februari 2010. Chief Editor Salamadani Pustaka Semesta Tasaro GK berharap naskah baru Api Sejarah Jilid II bisa diterbitkan. “Sekarang sedang disusun ulang sebagian, karena sampai sekarang draf yang dicuri itu tidak ada jejaknya.

Akhirnya berkat kegigihan dan kerja keras Kang Ahsa Cs di Salamadani Pustaka Semesta, dan tentunya spirit juang yang tak kenal lelah dari Bapak Ahmad Mansur Suryanegara untuk “Menuntaskan kepenasaran akan kebenaran sejarah Indonesia”, di bulan Maret 2010 “API SEJARAH 2” Alhamdulillah telah terbit dengan suguhan-suguhan yang sungguh luar biasa.

Bambang Trimansyah, Direktur PT Grafindo-Salamadani dalam kata pengantarnya di Buku API SEJARAH 2 mengungkapkan bahwa Api Sejarah 2 adalah kelanjutan bermakna dari buku Api Sejarah 1 yang telah mendapat respons luar biasa dari pembaca Indonesia. Buku yang tepat naik cetak menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., 12 Rabi’ul Awwal 1431 H ini diharapkan menjadi salah satu buku yang merupakan sumbangsih seorang sejarawan Muslim modern dan penerbit Muslim yang moderat untuk mengawal arus perubahan besar bangsa dan dunia dengan “tidak sekali-kali melupakan sejarah”.

Sebagai “buku serial” Api Sejarah 2 melanjutkan kupasan sejarah Indonesia yang telah tersampaikan dalam Api Sejarah 1. Bila dalam Api Sejarah 1 muatan penjelasan sejarah Indonesia terbagi pada empat bab yang dimulai dengan “Pengaruh Kebangkitan Islam di Indonesia” yang dilanjutkan dengan “Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia” lalu memotret “Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat dan diakhiri dengan “Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942)”, maka Api sejarah 2, rasa kepenasaran akan kebenaran sejarah Indonesia pasca 1942 sampai orde reformasi dikupas habis dengan membaginya pada 5 bab. Bab kelima sebagai kelanjutan Api sejarah 1 mengupas tentang “Peran Ulama Dalam Pembangunan Organisasi Militer Modern” dilanjutkan dengan “Peran Ulama Dalam Gerakan Protes Sosial dan Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air”, dua bab awal ini menunjukan peran ulama pada masa pendudukan Jepang. Bab Ketujuh dalam Api sejarah 2 Pak Mansur menyajikan kupasan tentang ” Peran Ulama Dalam Menegakan dan Mempertahankan Proklamasi” yang dilanjutkan dalam bab kedelapan “Peran Ulama Menegakan dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, dua bab diatas berkenaan dengan pasang surut peran ulama dalam masa revolusi Indonesia dan masa orde lama. Bab kesembilan Api sejarah 2 menyajikan kupasan bernas tentang “Langkah Penyesuaian Ulama dan Santri Di Era Orde Baru dan Reformasi”.
Peristiwa, Tokoh dan Gagasan

Menyajikan rangkaian peristiwa, tokoh dan gagasan, yang kesemuanya berperan dalam menciptakan sejarah dalam sebuah buku sejarah bukan hal mudah. Dalam metode pembelajaran sejarah biasanya rangkaian peristiwa, tokoh dan gagasan diajarkan secara terpisah. Belajar sejarah pada tingkat awal biasanya didekati dengan mengenalkan peristiwa-peristiwa sejarah, selanjutnya belajar sejarah melalui tokoh-tokoh sejarah dan pada tingkat lanjut pembelajaran sejarah adalah dengan mendalami gagasan-gagasan yang tercipta dalam sejarah. “Api Sejarah” baik pada jilid pertama maupun kedua yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara justru menyajikan ketiga hal yang berperan dan menciptakan sejarah yaitu peristiwa sejarah, tokoh sejarah dan gagasan-gagasan yang melatarbelakangi peristiwa dan tokoh sejarah itu.

Bagi yang belum terbiasa membaca tulisan sejarah yang menampilkan kompleksifitas ramuan antara peristiwa, tokoh dan gagasan biasanya rumit dan jelimet, ini yang saya rasakan dalam membaca Api Sejarah 1 dan 2 sehingga butuh waktu untuk terus bolak-balik, maju mundur dalam membacanya . Padahal sejarah naratif adalah sejarah deskriptif yang bukan sekedar menjejerkan fakta-fakta atau peristiwa, tetapi menurut Kuntowijoyo setidaknya kita temukan tiga hal dalam penulisan sejarah yaitu colligation yaitu inner connection atau hubungan dalam antar peristiwa sejarah, kedua plot yaitu cara mengorganisasi fakta-fakta menjadi satu keutuhan dan ketiga, struktur sejarah yaitu cara mengorganisasikannya sebagai “rekonstruksi yang akurat”.

Tema sentral yang ingin diungkap dalam Api Sejarah dari jilid 1 dan 2 adalah betapa Ulama memiliki peran penting dalam setiap masa sejarah di Indonesia sejak masuknya Islam di bumi Nusantara. Peran Ulama yang bukan sekedar pelengkap peristiwa tetapi yang menciptakan sejarah, yang membawa arah sejarah Indonesia sampai sekarang ini dan tentunya sebuah harapan dimana para Ulama zaman sekarang juga kudu punya peran penting dalam menciptakan sejarah selanjutnya.

Terjadinya depolitisasi Ulama, deislamisasi politik disetiap masa sejarah Indonesia baik masa penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, masa orde lama, orde baru bahkan orde reformasi tidak menyurutkan langkah juang dari para Ulama untuk berperan aktif memajukan bangsa dan negara Indonesia.
Hijab Sejarah : Kepenasaran yang tak pernah tertuntaskan…

Entah ekspektasi yang berlebihan atau sebab ruang tulisan yang terbatas, apa yang termuat dalam Api Sejarah 2 dengan judul kecilnya “Buku yang akan Menuntaskan Kepenasaran Anda akan Kebenaran Sejarah Indonesia”, sebuah judul yang dramatis, bombastis, fantastis ternyata masih belum menuntaskan rasa penasaran itu. Masih banyak hijab sejarah yang belum terungkap secara jelas dan gamblang, banyak peristiwa yang dikupas secara singkat, gagasan-gagasan yang masih tersembunyi berkenaan latar belakang peristiwa itu. Sekali lagi mungkin ini dikarenakan ruang tulisan yang terbatas. Dari cakupan penulisan yang luas baik dari rentang masa peristiwa maupun dari kedalaman setiap peristiwa sejarah Indonesia saya yakin sebetulnya pak AMS bisa menulis Api Sejarah ini dengan membagi minimal sampai 5 jilid atau setidaknya pihak penerbit bisa membagi-bagi Api Sejarah secara tematik.

Tema yang loncat-loncat, peristiwa yang dikupas secara singkat, tokoh-tokoh sejarah yang diselipkan diantara tulisan dalam bentuk foto dan penjelasan singkat menandakan rasa kepenasaran ini belum tertuntaskan secara tas … tas… tas… Seolah pembaca hanya digiring pada satu tema “rekonstruksi sejarah” dengan satu gagasan yaitu peran Ulama dalam menegakan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada dua tema yang tadinya saya berharap dalam Api Sejarah 2 ini memiliki space ruang yang lebih luas untuk dibahas yaitu berkenaan dengan Gerakan NII dan Peristiwa PRRI-Permesta. Dalam Api Sejarah 2 AMS mengupas tentang NII dalam judul kecil “Problema TII dan NII” di halaman 328 dan “Proklamasi Darul Islam di Aceh” di halaman 342-346. Sementara peristiwa PRRI-Permesta secara singkat dibahas di halaman 377-381.

Yang menarik AMS mengungkapkan tentang TII bahwa “Problema Tentara Islam Indonesia- adalah sebagai tindakan kontra politik terhadap hasil peroendingan Renville yang dipimpin oleh Amir Sjarifoeddin, 1948 M. Selain itu pembentukan Tentara Islam Indonesia, menurut AMS bertujuan untuk menggagalkan Negara Pasoendan bikinan van Mook.

Adapun munculnya Proklamasi Negara Islam Indonesia- NII yang diproklamasikan oleh S.M. Kartosoewirjo, AMS berpendapat itu sebagai reaksi terhadap Roem-Royen Statements yang akan melahirkan Republik Indonesia Serikat dibawah Ratu Belanda. Dalam pandangan S.M. Kartosoewirjo pembentukan RIS itu statusnya sangat bertentangan dengan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945. Sayangnya apa yang diungkapkan oleh AMS kurang di dukung oleh data-data primer yang menguatkan argumentasi beliau.

Dan masih banyak hal-hal yang lain yang sekali lagi masih ada pada ruang “hijab sejarah” yang belum menuntaskan rasa kepenasaran akan kebenaran sejarah Indonesia.

Walau bagaimanapun kurang lebihnya Api Sejarah jilid satu dan dua, saya harus sampaikan saluuuuuuut dengan empat jempol pada pak AMS yang secara lugas, cerdas dan berkualitas telah menyajikan sejarah Islam Indonesia sebagai khasanah historiografi Islam yang lahir dari buah karya sejarawan Muslim yang membangkitkan API Sejarah sebagai pelita ummat Islam untuk menjadi “Pelaku sejarah di abad 21″.

http://serbasejarah.wordpress.com/2010/04/09/api-sejarah-2-sungguh-luar-biasa/

Rabu, 09 Maret 2011

API SEJARAH ; Buku yang akan mengubah drastis pandangan anda tentang Sejarah Indonesia


Bila Sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa ..(Ahmad Mansur Suryanegara)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt.. rasa kerinduanku kepada salah seorang yang telah membawaku “tenggelam dalam sejarah”, yang secara sadar menyebabkan diri ini “murtad” dari pendidikan secara akademik yang seharusnya menggeluti senyawa bahan alam atawa bergelut di rumus2 kimiawi tapi malah terdampar di belantara sejarah.. rasa kerinduan terhadap sang pemilik suara ngeBass plus serak-serak, kini sedikit terobati dengan sebuah kado bagi Umat Islam Bangsa Indonesia umumnya, khususnya bagi saya yang tak pernah usai belajar sejarah. Saat jelang hari raya Idhul Fitri dengan perantara penerbit Salamadani tempat kang Ahsa bekerja, dan beliau ini juga yang jadi jajaran editor (selamat n sukses kang kapan ada diskusi di Bandung?) telah terbit buku “API SEJARAH” Buku yang akan mengubah drastis pandangan anda tentang Sejarah Indonesia. Beliau adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, terakhir saya ketemu beliau saat “temen-temen” mengadakan sebuah seminar tentang “Seabad Kebangkitan Islam” memperingati lahirnya Syarikat Dagang Islam bulan September 2005 tepat 4 tahun yang lalu. (wuiiih dah lama skalie.. padahal rumahnya deket )

Setelah buku Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang terbit tahun 1995 dan Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air- Peta di Cileunca Pangalengan Bandung Selatan yang terbit tahun 1996, maka ini adalah buku ketiga yang saya miliki dari karya beliau. Sebetulnya ada tiga buku lagi yang beliau terbitkan tapi sayang saya tidak memilikinya . Spirit yang sama yang saya temui dari ketiga buku tersebut bahwa sejarah Indonesia adalah maha karya Umat Islam Bangsa Indonesia.

Dari “Menemukan Sejarah” ke “API Sejarah” sepertinya Prof. Mansur sedang menyampaikan pesan secara “simbol” bahwa yang ditemukan dalam sejarah adalah API … Menemukan API Sejarah .., API adalah cahaya … API adalah spirit ..API adalah pembakar … API adalah Amanat Pejuang Islam yang musti menjadi obor penerang bagi setiap orang generasi sekarang yang masih memiliki API Perjuangan untuk terus miKIR — dziKIR — dan nguKIR menjadi penentu arah masa depan bangsa Indonesia (maaf pak Mansur klo salah he he ).

Sepertinya saya membutuhkan waktu cukup lama untuk membaca buku “API SEJARAH” ini, maklum buku setebal 584 halaman ini seperti sebuah ensiklopedi perjalanan panjang sejarah Islam di Indonesia sejak jaman Nabi Muhammad sampai tahun 1942 jelang kedatangan Jepang ke Indonesia. Dan ternyata beberapa tulisannya mengingatkan saya pada pelajaran yang beliau ajarkan saat saya mengikuti “Kuliah Tafsir” di Masjid Istiqomah (entah tahun berapa ), Tema yang menjadi pelajaran dari Prof. Mansur adalah “Tafsir Qishoshul Qur’an”. Diantara yang saya ingat diantaranya adalah Nabi dan Para Rasul Pembawa Ajaran Islam yang dalam buku ini ada di halaman 20 – 22.

Inilah “Tafsir Sejarah Mansuriyah” teringat saya akan candanya manakala membeberkan pemaknaan sejarah ‘yang lain dari yang lain’, sejarawan yang menikmati “beda” dan ” nyeleneh”, dan memang kalo dengar pemaparan beliau, otak ini seperti “melompat-lompat” dan tak berhenti miKIR. Moeflich Hasbullah, Asisten dan murid Prof.Mansur SN di Jurusan SPI UIN Bandung menyatakan : “Prof. Mansur Suryanegaraa adalah seorang sejarawan simbolis. Ia seorang pembaca fakta simbol yang handal yang tak ada duanya di kalangan sejarawan, bahkan di seluruh dunia. Fakta sejarah di tangannya menjadi berwarna, unik, hidup, menunjukkan sisi-sisi yang tak terbaca dari sebuah fakta dan oleh karenanya sering mengejutkan. Ini yang tidak dimiliki para sejarawan lain. Sebagai pembaca simbol, ia sangat peka dengan fakat-fakta historis dan menangkapnya secara simbolik. Tapi, ini menghadirkan resiko. Bacaannya menjadi sering tak dimengerti oleh kalangan sejarawan konvensional. Buku dahsyat ini, tentu sangat historis dan berbasis tradisi ilmiah. Tapi, oleh Pak Mansur, dilengkapi dan dihidupkan dengan tatapan simbolik tersebut, menjadikannya menjadi enak dibaca, perlu bahkan wajib bagi yang ingin sejarah Indonesia sesungguhnya. Ala kulli hal, saya tahu, buku ini disuguhkan dengan penuh takzim oleh beliau kepada segmentasi masyarakat yang sangat dihormatinya; Ulama. Untuk merekalah mahakarya ini didedikasikan. Generasi pembawa risalah nubuwah yang membawa pencerahan masyarakat melalui kebenaran dan spiritual enlightenment!“.


btw … ada beberapa hal yang saya sesalkan dari terbitnya buku “API SEJARAH” ini
Pertamax : Saya harus mengurungkan niat untuk menulis buku sejarah karena “Sang maha guru” telah mendahului menerbitkan buku ini atawa mungkin suatu saat saya meneruskannya dengan judul buku “Biar Sejarah Yang Bicara ..”
Keduaaax : Untuk sementara saya dengan terpaksa mengurangi waktu ngeNet karena harus membaca buku ini .. dan itu membutuhkan waktu ini sesuai dengan himbauan Prof. Dr.H. Miftah Faridl yang menyampaikan ” buku ini baik sekali untuk dibaca dan sejarah para pejuang didalamnya sangat bermanfaat untuk diteladani oleh mereka yang masih memiliki “API” Perjuangan”
Kecugaaax : Tunggu resensi selanjutnya tentang “API SEJARAH” di Serbasejarah he he he he

Akhir kata salam penuh takzim pada guruku Prof. Mansur yang tak pernah berhenti miKIR — dziKIR — nguKIR dan hatur tararengkyu buat mas Nusantaraku yang telah memberi info tentang rumah buku .. lumayan beli buku “API SEJARAH” dapet diskon 35 %.

Sumber: http://serbasejarah.wordpress.com/2009/09/12/api-sejarah-buku-yang-akan-mengubah-drastis-pandangan-anda-tentang-sejarah-indonesia/